Islamophobia Berulang, Umat Islam Jangan Lengah

 


Oleh : Rasyidah (Mahasiswa STAI YPIQ BAUBAU)


Dunia digemparkan kembali dengan pembunuhan berencana terhadap satu keluarga muslim di selatan provinsi Ontario, Kanada, yang tewas diserang ketika akan menyebrang jalan di kota London pada Minggu malam (6/6/2021). Pihak kepolisiaan menduga Serangan tersebut adalah motif penyerangan akibat kebencian. Tidak disebutkan secara rinci nama-nama dari korban, tetapi mereka termasuk dari satu keluarga yang beranggotakan 4 orang yang berusia sekitar 15-74 tahun, keempatnya ditabrak dengan truk pick-up yang dikendarai seorang pria berusia 20 tahun (detik.com). 


Seperti dilansir Associated Press dan Channel News Asia, Selasa (8/6/2021), Kepolisian Kanada menyatakan pelaku menargetkan para korban karena mereka muslim. Pihak berwenang mengatakan seorang pemuda ditangkap di tempat parkir sebuah mal terdekat setelah serangan di kota London, Ontario tersebut. Lalu Walikota London Ed Holder berkata ini adalah tindakan pembunuhan massal yang dilakukan terhadap muslim, yang berakar pada kebencian yang tak terkatakan. 


Berkembang pula seruan untuk mengambil tindakan mengekang kejahatan rasial dan Islamophobia. Warga London, Ontario, pun berbaris sekitar tujuh kilometer (4,4 mil) pada Jumat (11/6/2021) dari tempat di mana keluarga itu ditabrak, hingga ke sebuah masjid terdekat dengan tempat Veltman ditangkap oleh polisi (Al Jazeera.com, 12/6/2021).


Menjadi sasaran Rasisme, pandangan sisnis dan kebencian, bukanlah hal baru yang dihadapi oleh kaum muslimin di barat. Serangan tersebut terjadi akibat meningkatnya kekhawatiran tentang serangan Islamophobia yang ada diprovinsi seluruh Kanada. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan insiden itu "mengerikan" dan menggambarkan sebagai "tindakan kebencian". Dia menyampaikan rasa simpatinya pada orang-orang yang dicintai para korban, termasuk anak laki-laki yang selamat.


Sesungguhnya Islamophobia bukanlah Trending New bagi masyarakat dunia saat ini. Melainkan narasi Barat untuk dijadikan senjata bagi para penganut liberal-kapitalis, dengan tujuan mengadu domba sesama masyarakat Barat itu sendiri serta membuat kaum muslim terpecah-belah dan menjadi sasaran dari Islamophobia tersebut.


Pasca kejadian WTC (World Trade Center) pada 11 September 2001 di New York, isu Rasisme, Islamphobia bahkan Terorisme terus meluas. Komunitas muslim menjadi isu panas untuk selalu dibicarakan. Tindakan serangan itu bahkan masuk kepada Xenophobia pada Islam yang senantiasa menghantarkan umat muslim dianggap sebagai biang masalah. Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan tanpa bukti yang kongkrit merupakan sikap berprasangka buruk yang harus dilenyapkan.


Sebenarnya Islamophobia muncul bukan sekadar respons atas beberapa kasus “kekerasan” yang dilakukan sejumlah muslim. Peristiwa-peristiwa tersebut hanyalah momen yang digunakan untuk semakin menyebarkan kebencian terhadap Islam dan penganutnya. 


Adanya Islamophobia Barat membangun narasi, bahwa munculnya islamofobia adalah akibat ulah kaum muslimin sendiri. Narasi ini didukung oleh aktivis liberal-kapitalis, mereka sampaikan satu sebab munculnya islamofobia di Eropa adalah beberapa serangan bom mematikan oleh para jihadis Muslim di Eropa, yang dikampanyekan sebagai teroris.


Dalam praktik liberal-kapitalis, Barat hanya memberikan solusi yang tidak solutif yakni, seruan PBB untuk memerangi Islamophobia tampak bagus. Seolah mereka berpihak pada Islam dan menolak segala bentuk Rasisme dan diskriminasi terhadap muslim. Padahal, diantara anggota tetap Dewan Keamanan PBB, yaitu AS, Inggris, Prancis, dan Cina, telah menjadi dalang Islamophobia sejak lama. Mereka terus mengampanyekan tentang nilai-nilai demokrasi, kebebasan, toleransi, perlindungan dan penghormatan HAM sebagai penghapusan Islamophobia tersebut. Tetapi adanya narasi yang meraka suarakan tidak membuat Islamphobia itu hancur melainkan terus terulang.


Oleh karena itu, mengikuti solusi yang mereka tawarkan tak lain hanyalah mengikuti rayuan maut saja. Bukan menghadirkan solusi tuntas bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Sebaliknya justru masuk dalam jebakan baru. Islamofobia yang menjangkiti dunia tak akan mungkin selesai dengan solusi ala barat. Karena Barat sendirilah yang ada di balik rancangan jahat islamofobia tersebut. Kerusakan kehidupan akibat diterapkannya sistem demokrasi kapitalis yang digawangi Barat, berupaya dialihkan terhadap kesalahan dan kebencian kepada Islam dan kaum Muslimin.


Islamofobia sengaja dihadirkan oleh Barat untuk menjauhkan umat dari kemuliaan yang hakiki. Oleh karena itu, jalan satu-satunya untuk menghentikannya adalah dengan menghancurkan narasi busuk Barat di dunia. Islamofobia harus dihentikan. Tentunya butuh kekuatan yang seimbang. Solusinya tidak cukup hanya dengan memberikan penjelasan bagaimana ajaran Islam yang benar. Umat perlu disadarkan, bahwa di balik istilah islamofobia sesungguhnya ada rencana jahat untuk menjeda laju perjuangan Islam kaffah diseluruh negeri. 


Narasi buruk mereka untuk menimpakan kemudaratan pada orang beriman sudah dinyatakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS Ali Imran[3]: 118).


Imam Al-Qurtubi berkata, “Makna “mereka tidak henti-hentinya menimbulkan mudarat kepada kalian, mereka tidak akan capek dalam upaya merusak kalian”, artinya, meskipun mereka tidak memerangi kalian, akan tetapi mereka akan tetap melakukan makar dan tipu daya.


Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta’ala menyebut orang yang membuat-buat kedustaan sebagai orang yang hendak memadamkan cahaya Allah,

“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik benci.” (QS Ash Shaff [61]: 8).


Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, maksud ayat tersebut adalah mereka berupaya menolak perkara yang hak dengan perkara yang batil. Perumpamaan mereka dalam hal ini sama dengan seseorang yang ingin memadamkan sinar mentari dengan mulutnya.


Selain membongkar skenario jahat orang kafir, umat pun harus disadarkan bahwa penyelesaian islamofobia akan tuntas ketika syariat kafah sudah diterapkan secara praktis oleh negara. Saat itulah seluruh manusia akan menyaksikan keadilan dan kesejahteraan yang nyata di hadapan mereka. Fitnah dan tuduhan keji terkait Islam dengan sendirinya akan terbantahkan realitas yang disuguhkan daulah Islam.


Rahmat dan kebaikan yang dijanjikan Islam akan tersebar ke seluruh penjuru dunia, bahkan bisa menarik kerinduan siapa pun untuk hidup dalam naungan Khilafah. Hanya Khilafah yang mampu menghentikan islamofobia dengan nyata. Kebijakan yang ditetapkan Negara akan memberantas tuntas para penyebar narasi buruk tentang Islam. Mereka akan dikenakan sanksi yang tegas jika tidak menghentikan makarnya.


 Wallaahu A’lam.