IDUL ADHA: MOMENTUM PENGINGAT UNTUK SEBUAH KETAATAN SEMPURNA

 



Oleh Inge Oktavia Nordiani

Pemerhati Masalah Publik



Datangnya bulan Dzulhijjah 1442 merupakan sebuah nikmat yang tiada taranya. Hari raya kedua bagi umat Islam ini sebagai tanda adanya pelaksanaan ibadah haji di Makkah, tempat kiblat kaum muslimin. Ibadah haji adalah ibadah yang diwujudkan dengan jiwa dan harta, panggilan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebuah nikmat yang tidak didapatkan oleh semua orang. Ada orang-orang yang memiliki harta namun ia tidak ingin pergi ke baitullah al-haram, sehingga tidak terwujud ibadah haji pada dirinya. Ada juga yang ingin mereka berangkat namun tidak memiliki kemampuan harta atau sedang mengalami sakit yang menahan mereka dari ibadah haji yang mulia.


Sedangkan ibadah kurban, ibadah agung yang hanya boleh dipersembahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itu, bagi shahibul kurban menghadirkan niat di hati, bahwa ibadah kurban yang ia lakukan adalah mewujudkan dari ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, kita sendiri dari bisikan-bisikan ingin sebagai dermawan yang mampu membeli hewan kurban yang termahal, lalu dikenal, na'udzubillah.



Makna Mendalam Idul Adha


Ibadah kurban yang ada di dalam bulan Dzulhijjah ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi kaum muslimin. Pasalnya, di bulan ini terjadi sebuah peristiwa yang tidak bisa dinalar oleh akal manusia. Bagaimana Allah menunjukkan proses keihkhlasan dan menunjukkan total diri dari Allah. Tidak akan pernah terhapus hikmah di balik perjalanan hidup Nabi Ibrahim dan kenangan dalam ingatan kaum muslimin. Seorang nabi yang Allah uji bukan hanya dengan waktu dan tenaga. Selama sekian waktu Nabi Ibrahim tidak dikaruniai keturunan oleh Allah, tetapi dengan izin Allah, Allah memberikan keturunan dari pernikahan kedua Nabi Ibrahim dengan ibunda Siti Hajar. Dari sanalah Allah mengaruniai Ismail buah hati yang selama ini dinantikan. Namun belum lama kebahagiaan keluarga ini terwujud, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim melalui mimpinya untuk menyembelih buah hati. Betapa sebuah kabar yang mengiris hati Nabi Ibrahim. Namun kuatnya cinta kepada Nabi Ibrahim pada buah hatinya tidak mampu mengalahkan kepatuhan sempurnanya kepada Nabi Ibrahim kepada Allah. Penyerahan diri total atas perintah yang menghampirinya dilakukan dengan penuh ketakwaan. Ibarat gayung bersambut, Ismail kecil pun telah tercetak dan terdidik taat di bawah pengasuhan seorang nabi. Sebuah ketaatan yang sempurna yang tidak menyisakan dzon (keraguan) pada Allah yang akhirnya memungkinkannya Ismail kecil oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan seekor domba. Penyerahan diri total atas perintah yang menghampirinya dilakukan dengan penuh ketakwaan. Ibarat gayung bersambut, Ismail kecil pun telah tercetak dan terdidik taat di bawah pengasuhan seorang nabi. Sebuah ketaatan yang sempurna yang tidak menyisakan dzon (keraguan) pada Allah yang akhirnya memungkinkannya Ismail kecil oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan seekor domba. Penyerahan diri total atas perintah yang menghampirinya dilakukan dengan penuh ketakwaan. Ibarat gayung bersambut, Ismail kecil pun telah tercetak dan terdidik taat di bawah pengasuhan seorang nabi. Sebuah ketaatan yang sempurna yang tidak menyisakan dzon (keraguan) pada Allah yang akhirnya memungkinkannya Ismail kecil oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan seekor domba. 



Refleksi Logis Ketaatan


Perjalanan orang yang beriman dalam kehidupan dunia ini ada awal dan ada pula akhirnya. Permulaannya adalah ketika terlahir ke dunia, dan ujungnya adalah surga. Belajar dari kisah Nabi Ibrahim, kita sebagai kaum muslimin butuh melatih sebuah ketaatan yang sempurna ini. Dalam proses perjalanan dari awal hidup hingga akhir hayat orang yang beriman diisi dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, mereka merealisasikan perintah Allah.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Rab-mu hingga datangnya kematian.” (QS. Al-Hijr [15]: 99)

Balasan mereka setelah kematian adalah surga. Surga adalah sebuah tempat dimana seorang mukmin akan merasakan kenikmatan yang tak kunjung henti setiap detiknya, kebahagiaan tersebut tidak pernah terpotong oleh kesedihan walaupun sesaat.



Ujian Ketaatan


Sebagaimana kisah Nabi Ibrahim, sebuah ketaatan dapat terwujud bukan tanpa ujian terlebih dahulu. Beragam ujian Allah berikan kepada manusia untuk mengukur seberapa besar dan ikhlasnya kita di dalam menjalankan sebuah ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terlebih di masa sekarang dimana kaum muslimin tidak hidup dalam naungan sistem yang sesuai dengan fitroh manusia, yaitu syariat sempurna yang dijalankan negara yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga menjalankan sebuah ketaatan menjadi tidak mudah. Betapa tidak? Kaum muslim harus berhadapan langsung dengan solusi-solusi yang bukan menyelesaikan masalah. Hal ini terjadi di banyak aspek kehidupan. Terlebih kondisi pandemi yang masih berlangsung kurang lebih 2 tahun ini menghasilkan banyak krisis baik di sektor kesehatan seperti kebutuhan terhadap fasilitas kesehatan lebih banyak, di sektor ekonomi seperti ancaman resesi, di sektor sosial, seperti masa depan pendidikan, ketahanan keluarga dan kerusakan generasi. Antisipasi penanganan dan strategi mengurangi dampak buruk melalui agenda PPKM belum mampu menjadi solusi semua ini. 


 

Perjuangan Menuju Ketaatan


Dari itu semua dibutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh oleh kaum muslimin utuk mewujudkan sebuah ketaatan yang sempurna. Ketaatan yang tidak hanya terjadi pada diri individu tapi juga memiliki ikatan kontrol yang kuat dengan masyarakat yang taat. Begitu pula sokongan negara yang dapat mengondisikan keimanan agar terbentuk dengan sempurna. Hal ini terjadi bila seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala amal makruf nahi mungkar (dakwah) berjalan dengan baik. Di tengah kondisi pandemi ini, juga dalam momen Idul Adha tahun ini, mari kita renungkan nasihat-nasihat Baginda Nabi saw. pada saat Haji Wada’. Selama Haji Wada’, beliau berkhutbah di hadapan lebih dari 100 ribu jamaah haji. Tak hanya sekali. Beliau berkhutbah di Hari Arafah, Hari Idul Adha, juga Hari Tasyriq. Berikut ini adalah sebagian kecil dari isi khutbah yang beliau sampaikan:


"Wahai manusia, sungguh darah dan harta kalian adalah suci bagi kalian, seperti sucinya hari ini, juga bulan ini, sampai datang masanya kalian menghadap Tuhan. Saat itu, kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kalian.


Ingatlah baik-baik, janganlah kalian sekali-kali kembali pada kekafiran atau kesesatan sepeninggalku sehingga menjadikan kalian saling berkelahi satu sama lain.


Ingatlah baik-baik, hendaklah orang yang hadir pada saat ini menyampaikan nasihat ini kepada yang tidak tidak hadir. Boleh jadi sebagian dari mereka yang mendengar dari mulut orang kedua lebih dapat memahami daripada orang yang mendengarnya secara langsung." (HR al-Bukhari dan Muslim)


Beliau pun bersabda,


"Ingatlah, tak ada keutamaan bangsa Arab atas bangsa non-Arab. Tak ada pula keunggulan bangsa non-Arab atas bangsa Arab. Tidak pula orang berkulit putih atas orang berkulit hitam. Tidak pula orang berkulit hitam atas orang berkulit putih. Kecuali karena ketakwaannya." (HR Ahmad)


Beliau juga bersabda,


"Wahai manusia, sesungguhnya segala hal yang berasal dari tradisi jahiliah telah dihapus di bawah dua telapak kakiku ini. Riba jahiliah pun telah dilenyapkan.


Wahai manusia, sesungguhnya telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, yang menjadikan kalian tidak akan tersesat selama-lamanya jika kalian berpegang teguh pada keduanya. Itulah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya."(HR Ibnu Khuzaimah)


Wallaahu a'lam bissyawaab