Oleh Nahida Ilma

Mahasiswa


Sudah bukan hal baru lagi, pada sistem sekarang berbagai problematika kehidupan terus saja berputar seakan-akan memiliki siklus tersendiri. Laman berita tak bosan-bosan mengabarkan kondisi negeri ini dari berbagai daerah dan sudut pandang. Mulai dari ekonomi, kabar kemiskinan yang tak kunjung usai, berbagai wacana impor, utang yang terus naik dan masih banyak lagi. Dari segi kesehatan, biaya kesehatan yang semakin mahal, kemaslahatan nakes dan pasien yang seakan-akan sangat tidak terjamin. Dari dunia remaja, kenakalan remaja juga tak kunjung usai, mulai dari pergaulan bebas, tawuran, hilangnya adab dan konsumsi narkoba pun ikut serta tak pernah alpa. 


Ketika prinsip jual beli diterapkan dalam mengatur sebuah negara, maka tidak akan lahir kata kesejahteraan rakyat. Prinsip itu hanya akan melahirkan kata untung dan rugi. Ketika kebijakan itu dirasa menguntungkan, maka dengan sepenuh hati akan dilaksanakan. Ketika dirasa merugikan, maka dirasa cukup dengan setengah hati. Untung dan rugi di sini tentunya untuk para pemilik modal yang penuh dengan berbagai kepentingan. Ketika sebuah kebijakan dirasa tidak menghadirkan keuntungan, namun rakyat terus menyuarakan, maka tidak ada pilihan untuk tidak dilakukan supaya citra baik terus berkembang. Kebijakan setengah hati pun dirasa sudah cukup.


Pemisahan agama dengan kehidupan atau sekularisme merupakan akarnya. Menjadikan manusia diperbudak oleh hawa nafsu yang sejatinya hanya akan menghantarkan pada kehancuran. Ketika ruh itu telah hilang, manusia layaknya hewan yang keluar dari kandangnya. Tak terkendali dan melakukan sesukanya. Tidak adanya ruang ruhiyah dalam sistem yang ada saat ini menjadikan kehidupan dipenuhi dengan kepentingan duniawi semata. 


Karena memang, manusia tidak hanya tersusun dari sekumpulan sistem organ yang bersatu padu tapi di sana juga terdapat ruh. Jiwa yang dihadirkan oleh Sang Pencipta yang menjadikan jasad itu hidup. Jiwa raga yang masing-masing perlu dipelihara dengan baik dan benar. Diberikan makanan bergizi sesuai dengan takaran masing-masing. Ketika raga kekurangan asupan, maka sakit akan melanda. Ketika jiwa kekurangan asupan, maka kering kerontang akan menimpa. Dan banyak fakta yang menunjukkan, bergelimang harta belum tentu akan menjamin jiwa raganya terus mendapatkan asupan makanan bergizi. Justru banyak menunjukkan, mereka merasa kering, tidak bahagia walaupun bergelimang harta.


Nia Ramadhani ditangkap pada 7 Juli yang lalu terkait penyalahgunaan narkoba. Nia beralasan menggunakan barang haram tersebut karena tekanan kerja yang banyak di saat pandemi. (Kumparan.com, 14 Juli 2021)


Ini bukan kabar pertama terkait penyalahgunaan obat terlarang di kalangan konglomerat dan artis. Sebelum-sebelumnya sederet kasus serupa telah dikabarkan oleh berbagai laman berita. Pencarian bahagia terasa sangat sulit didapatkan di kalangan orang-orang yang bergelimang harta. Jiwa terasa kering. 


Menurut KBBI online, bahagia adalah suatu keadaan atau perasaan senang dan tenteram, bebas dari segala yang menyusahkan. Ketika bahagia hanya dimaknai sebagai salah satu hasil reaksi biokimia dalam tubuh, maka segala hal akan dilakukan hanya untuk mendapatkannya, termasuk merangsangnya dengan obat-obatan terlarang. Nyatanya hakikat bahagia tak sesederhana itu.


Bahagia adalah tentang bagiamana memahami hal-hal mendasar dalam hidup. Tentang memaknai keberadaan kita hidup di dunia; untuk apa, siapa yang menciptakan, apa kehendak Pencipta dan akan bermuara kemana semua hal yang kita lakukan di dunia. Bahagi juga tentang bagaimana cara berdiri gagah dan tenang, tanpa ketakutan dan kekhawatiran. Keimanan pun menjawab semua itu. Memaknai ketakutan dengan hanya menghadirkan satu jenis ketakutan. Takut kepada Allah semata. Menghadirkan ketenangan dengan senantiasa bersandar kepada Sang Maha Segalanya. Meyakini bahwa setiap masalah adalah ujian-Nya, yang diberikan tidak melebihi batas kemampuan. Meyakini bahwa Allah senantiasa bersama orang yang sabar. Semua itu akan menghantarkan hamba-Nya pada kecintaan yang tertinggi yaitu demi mendapatkan ridha Allah semata.


Wallahu a’lam bishshawwab.

 
Top