Gerakan Keluarga Berdoa, Bernarkah Solusi Bencana?

 



Oleh: Nelliya Azzahra


Tahun telah berganti tetapi wabah pandemi belum juga pergi. Semakin hari korban berjatuhan semakin banyak laksana momok mengerikan bagi siapa saja. Virus corona menyerang siapa pun tak pandang bulu. Mau kaya atau miskin, jabaan tinggi atau kaum papa. Virus ini bekerja dalam diam namun dampaknya luarbiasa. 


Hampir setiap hari berita duka berseliweran. Mereka yang tak kuat melawan virus ini harus berujung maut. Entah kapan wabah ini akan melandai dan semua kembali normal. Nakes sebagai garda terdepan menghadapi virus pun sudah banyak berpulang. 


Diketahui, kasus harian Covid-19 nasional di Indonesia terus menembus rekor tertinggi sejak beberapa hari terakhir ini. Terbaru, kasus harian Covid-19 bertambah 29.745 dengan angka kematian yang juga mencapai rekor 558 pada Senin (5/7/2021)

Berbagai upaya dilakukan, mulai dari 3T (testing, tracing, and treatment) hingga 5M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi).


Di tengah keadaan ini, muncul himbauan mengadakan doa bersama.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengirimkan surat resmi kepada kepala desa, pendamping desa dan warga desa untuk menggelar doa bersama.

Dalam surat resmi tersebut, Halim mengimbau agar seluruh pihak melakukan doa bersama sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Adapun doa ini dilakukan guna menyikapi kondisi melonjaknya angka COVID-19 di Indonesia.


"Doa bersama dilakukan bersama keluarga di rumah masing-masing," ujarnya dalam keterangan tertulis. Dilansir oleh DetikNews (Sabtu 3/7/2021).


Dalam himbauan ini masyarakat diminta untuk berdoa dengan rutin serta tabah dan sabar dalam menghadapi musibah yang melanda dunia saat ini. Menanggapi himbauan ini, tidak ada yang salah. Ini membuktikan bahwa hebat apa pun manusia itu ia tetap membutuhkan Allah dalam hidupnya. Ketika dihadapkan pada sebuah musibah maka fitrahnya manusia membutuhkan sesuatu yang dianggap lebih kuat untuk sandaran, dialah Sang Khalik. Manusia yang lemah dan terbatas tak kuasa berpaling dan senantiasa membutuhkan pertolongan Allah.


Berangkat dari sini, keterikatan dan kebutuhan kepada Allah Swt tidak hanya sebatas berdoa saat ada wabah. Merasa perlu dan butuh kepada Allah bukan disaat mendapat ujian dan musibah. Manusia Allah ciptakan untuk beribadah dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam setiap detak jantung. Imbaun untuk berdoa bersama adalah salah satu bentuk ikhtiar, karena kesadaran bahwa apa yang terjadi atas kehendak Allah Swt. 


Bersabda Rasulullah saw.,

“Tidak ada yang dapat menolak takdir (ketentuan) Allah Ta’ala selain doa. Dan tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (h.r. Tirmidzi 2065)


Untuk itu, imbauan ini harusnya bukan saja ditujukan kepada masyarakat, akan tetapi ditujukan juga bagi penguasa yang mengambil kebijakan. Berusaha dan berdoa dengan taubatan nasuha serta mengubah arah kebijakan yang selama ini tidak mengindahkan syariat Allah. Bersungguh-sungguh agar pertolongan Allah itu turun dengan kembali pada Islam kaffah.


Wallahu a'lam bishshawab