Fenomena Bahai: Pluralisme Sesat dan Menyesatkan


Oleh Ati Solihati, S.TP

(Praktisi Pendidikan & Aktivis Muslimah)


Di saat masyarakat masih harus bertempur dengan pandemi gelombang 3 yang mengganas. Di tengah masyarakat dalam lilitan kesulitan ekonomi, terlebih dalam suasana PPKM darurat yang berlanjut dengan PPKM level 4. Alih-alih fokus mencari solusi tuntas pandemi dan menyelesaikan himpitan ekonomi masyarakat, pemerintah malah semakin menambah derita demi derita.

Rasa sakit dan derita yang dirasakan, terutama oleh umat Islam, bukan hanya bersifat fisik, namun juga nonfisik. Pada tanggal 28 Juli 2021 Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, menyampaikan ucapan 'Selamat Hari Raya Naw-Ruz 178 EB, pada penganut Bahaiyyah. Padahal Baha’i adalah  sekte yang ajarannya menyimpang dan melecehkan ajaran Islam.

Fakta Sekte Baha’i

Sekte Baha’i atau Al Baha’iyyah ini berawal dari seorang pengikut sekte sesat syi’ah yang mengaku sebagai nabi baru di Iran, bernama Mirza Ali Muhammad Asy Syirozi, yang mendirikan agama Al Baabiyah, pada tanggal 23 Maret 1844 M, di Iran. Ajaran ini kemudian dilanjutkan oleh Mirza Husain Ali bin Mirza Abbas An Nuri Al Mazindaroni, yang bergelar Al Baha’. Dia belajar di Teheran, Iran. Kemudian bertemu dengan orang-orang Al Baabiyah, sampai akhirnya mencetuskan agama Al Bahaa’iyah sebagai pelanjut Al Baabiyyah.  

Masuk ke Indonesia tahun 1878. Pernah masuk dalam daftar organisasi terlarang di masa Presiden Soekarno, melalui Keppres nomor 264/1962. Namun kemudian Gusdur mencabut Keppres tersebut dan mengganti dengan keppres No 69/2000 dan mengakui secara konstitusi ajaran Baha’i.  

Pokok-pokok Ajaran Baha'iyyah

Ajaran Baha’iyyah sangatlah sesat dan menyesatkan. Baik secara akidah maupun syariatnya. Kesesatan akidah nampak dalam berbagai keyakinannya. Seperti, pendiri sekte ini, mengaku diri sebagai rasul, dan mengaku bahwa karya-karya tulisnya adalah wahyu dari Allah. Dia mengingkari Rasulullaah sebagai penutup para nabi dan rasul, mengatakan bahwa kitab-kitab yang diturunkan padanya menghapus (menasakh) Al-Qur'an yang mulia, sebagaimana juga dia meyakini bersatunya Allah dengan sebagian makhluk-Nya dan bahwa Allah telah bersatu dengan Al Bab (pendiri Al Baabiyah) dan muridnya Al Baha’(pendiri Al Baha’iyyah).  Meyakini adanya reinkarnasi. Meyakini semua agama benar, dan lain-lain.

Adapun kesesatan syariahnya, di antaranya banyak mengubah dan munggugurkan hukum-hukum fiqh Islam, di antaranya salat dilaksanakan hanya sembilan rakaat dalam sehari, pada waktu pagi, sore, dan tergelincirnya matahari, masing-masing tiga rakaat. Berpuasa pada bulan Baha’i saja, selama 19 hari, yaitu bulan Al ‘Alaa, tanggal 2-21 Maret. Mengubah arah kiblat dari mekkah ke Akka (Palestina), dan mengalihkan ibadah haji bukan di Mekkah tapi di Akka. Menggugurkan hukuman hudud. Mengharamkan jihad. Menyamakan pembagian waris antara pria dan wanita, serta menghalalkan riba. (M.Ali Ahmad A Salus, Mausu’ah Al Qadhaya Al Fiqhiyyah Al Mu’ashirah).

Kelahiran sekte baha’i ini tidak terlepas dari unsur politis. Baha’i memiliki hubungan baik dengan Inggris ketika menjajah Iran. Inggris memanfaatkan mereka untuk memecah belah kaum muslimin, seperti yang dilakukan Inggris di India dengan mendirikan agama boneka ahmadiyah.  Hubungan Baha’i dengan zionis Yahudi juga sangat kuat. Mereka mendapat bantuan-bantuan Zionis Yahudi untuk mengembangkan agamanya, terutama berkaitan dengan kepentingan penjajahan Yahudi terhadap Palestina.

Fatwa-fatwa Ulama tentang Baha’i

Syekh Taqiyuddin An Nabhani menjelaskan di dalam kitabnya, Muqoddimat Ad Dustur, bahwa status Baha’i adalah agama di luar Islam, yaitu kaum kafir, bukan muslim.  Penganut Baha’i, jika awalnya muslim, maka statusnya adalah orang yang murtad.  Namun jika penganut Baha’i ini dilahirkan dari orang tua penganut baha’i, maka dia berstatus kafir musyrik, sehinga haram sembelihannya dan wanitanya haram dinikahi laki-laki muslim.

Syekh bin Baz menjelaskan bahwa penganut Baha’i, jelas kekafirannya, sehingga tidak boleh dikuburkan di pekuburan muslim.

Fatwa majma’ al fiqh al islami mewasiatkan wajibnya lembaga-lembaga Islam di seluruh dunia menghadang sekte kafir yang berusaha meruntuhkan Islam, sebagai agama, syariat, dan konsep kehidupan.

Fenomena Baha’i: Pluralisme Sesat dan Menyesatkan

Fenomena Baha’i dan semisalnya akan sering muncul dalam kehidupan yang dicengkeram sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme yang mengagungkan empat kebebasan individu, yaitu kebebasan berakidah, kebebasan berpendapat, kebebasan memiliki, serta kebebasan bertingkah laku, memandang bahwa fenomena baha’i merupakan bagian dari pluralisme yang harus dihormati, karena merupakan bagian dari hak asasi manusia untuk berakidah dan berpendapat. Hak asasi untuk menganut "isme" apa pun. 

Sementara Islam melarang mengakui “isme-isme” di luar Islam. Karena suatu “isme” pasti terkait dengan pemahaman tertentu tentang kehidupan, yang terkait dengan akidah dan syariat tertentu. Sementara, seorang muslim, harus memiliki keyakinan penuh (tashdiqul jazm) terhadap akidahnya. Tidak boleh ada sedikitpun keraguan di dalamnya, terlebih lagi memandang semua agama sama. 

Termasuk, tidak boleh ada sedikitpun keraguan bahwa Nabi Muhammad saw.  adalah nabi dan rasul terakhir. Sebagaimana Allah berfirman:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullaah dan penutup para nabi." (QS. Al Ahzab: 40).

Seorang muslim, hanyalah mengamalkan syariat Islam dan menolak syariat di luar Islam. 

Allah Swt. mengingatkan dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan Rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (QS. An Nisaa: 150-151). 

Sehingga jelaslah keharaman meninggalkan sebagian dari syariat Allah, bahkan Allah telah mengkategorikan hal tersebut sebagai suatu bentuk kekafiran. Terlebih lagi jika kemudian jelas-jelas menolak syariat Allah dan mengada-adakan syariat yang baru, atau mengakui ‘isme-isme’ di luar Islam, teramat nyata kesesatannya.

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19).

“Dan barang siapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima daripadanya, dan ia di akhirat kelak termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imran: 85).

Wallaahu a'lam bishshowab.