Corona Semakin Melesat Dahsyat

 


Oleh Wida Eliana

Ummu Warabbatul Bayt dan Member Amk


Semenjak libur Idul Fitri sekitar dua bulan ini terjadi lonjakan virus Corona yang semakin melesat. Kondisi tersebut disinyalir karena beberapa faktor penyebab. Bisa disebabkan pulang mudik lebaran, aktivitas berkumpul dan berkerumun, piknik ataupun interaksi lainnya yang kurang memperhatikan prokes serta varian virus yang semakin ganas. Bukan lagi Alpha tapi sudah muncul jenis Delta, dengan daya penularan begitu cepat.

Dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Oded M. Danial, ketua komite kebijakan penanganan Covid-19 kota Bandung dengan Presiden RI Joko Widodo mengingatkan agar meningkatkan koordinasi dan 3T pada penanganan Covid-19 dan memberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Skala Mikro (PPKM Mikro), Minggu (13/6/2021). 

Arahannya, "Kita diminta meningkatkan kerja sama dengan Forkopimda bersama Danramil, kapolsek termasuk dengan Babinsa dan Bhabinkomtibmas harus ditingkatkan" selain itu presiden juga mewanti-wanti agar 3T yakni Testing, Tracing dan Treatment harus terus dilakukan." kata Oded dalam siaran Pers Humas kota Bandung.

Meningkatnya kasus aktif Covid-19 di berbagai daerah terutama di Jawa Barat menyebabkan dorongan penerapan Lockdown menguat. Konsekuensinya, jika itu diberlakukan kemiskinan dan pengangguran bertambah. Siapa yang bertanggung jawab sementara pemerintah tampak enggan dengan pilihan ini? 

Banyak pihak yang meragukan pemerintah berani mengambil keputusan tersebut karena dampaknya yang akan buruk bagi perekonomian. Terlebih lagi niat kaum kapital menggenjot sektor ekonomi membuat pemerintah tak berdaya untuk tidak menuruti mereka.

Dampak wabah yang terus menggila, menyebabkan kemiskinan dan kelaparan tak terhindarkan. Kasus kriminal melonjak, pembelajaran terhambat, ditambah bantuan dari pemerintah tidak tepat sasaran menambah daftar panjang penderitaan. 

Tak bisa dipungkiri, ketika pandemi Covid-19 mengglobal, problem ekonomi semakin parah menyerang sendi-sendi kehidupan. Mestinya situasi ini membuka mata hati kita, mata hati umat manusia, khususnya umat Islam.

Firman Allah Swt, 

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya, apabila rasul menyeru kepada kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." (QS Al-Anfal [8]: 24)

Sudah selayaknya umat manusia terikat pada aturan pencipta dalam tatanan kehidupan ini, terutama kaum muslim dan keterikatannya pada hukum syarak. Baik dirinya sebagai individu, masyarakat atau penguasa dalam institusi negara. 

Sayangnya, tumpuan masyarakat akan perhatian serta arahan negara untuk berpedoman pada syariat hanya harapan semu. Penguasa saat ini dengan ideologi kapitalismenya enggan menjadikan syariat sebagai pedoman. Sikap tidak memihak pada rakyat, semakin serakah dan mementingkan kepentingan kelompok pemodal terus diperlihatkan.

Begitulah nasib umat dalam bingkai kapitalisme. Rakyat terus menjadi korban dengan beban ekonomi serta sosial semakin berat. Pandemi tak kunjung berakhir, kesehatan yang semakin mahal, kesejahteraan tak kunjung datang telah menunjukkan bahwa kapitalisme tak layak dipertahankan. 

Sudah saatnya umat Islam sadar dan berjuang mengembalikan kehidupan islami dalam institusi syariat kafah. Hanya institusi ini yang mampu mengambil solusi tepat mengatasi berbagai masalah umat termasuk wabah. Wabah telah sejak lama ada bahkan masa kepemimpinan Rasul saw. dan Khalifah Umar bin Khattab ra. pun mengalami yang dikenal dengan wabah lepra dan tha'un. 

Rasulullah saw. sebagai suri tauladan umat sepanjang masa, telah mencontohkan bagaimana harus menyikapi wabah. Yaitu melarang mendekati penderita, lakukan karantina wilayah, menutup akses masuk dan keluar hingga penderita benar-benar sembuh.

"Janganlah kalian masuk kedalam wilayah yang terkena wabah dan janganlah kalian keluar dari wilayah yang terkena wabah." (HR. al Bukhari)

Demikian juga masa Umar bin Khattab ra. Praktik Rasulullah menghadapi wabah beliau ikuti. Bahkan mengerahkan upaya maksimal secara materi dan non materi sebagai wujud tanggung jawabnya agar umat sehat, tenang dan tenteram dari gempuran wabah. Hasilnya, korban yang tadinya mencapai 25.000 orang meninggal tidak mengalami penambahan lagi.

Itulah yang seharusnya dilakukan pemimpin. Tanggung jawab serta riayahnya berkaitan erat dengan keimanan. Ikhtiarnya sebagai manusia dan pemimpin harus maksimal diupayakan. Allah-lah yang telah mengatur dan menetapkan ini semua. Allah Swt. telah menetapkan kapan virus ini menyebar, kapan virus ini mengalami mutasi dan berbagai hal lainnya. Namun yang pasti usaha untuk menjaga kehidupan manusia harus menjadi prioritas amal, agar syiar Islam terus menjulang di penjuru dunia.

"...Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi." (QS Al-Ma'idah [5]: 32)

Wallaahu a'lam bii ash shawaab.