Anggaran Sampah Tak Menuntaskan Masalah

 


Oleh Nazwa Hasna Humaira

Pelajar dan Aktivis Dakwah


Indonesia menerima peringkat yang tinggi dalam hal sampah dibandingkan dengan negara lain. Pengelolaan yang kurang maksimal membuatnya semakin menumpuk dan tak tersolusikan dengan baik. Hal ini tentu membutuhkan penanganan secara maksimal dan tempat pembuangan yang aman di samping anggaran memadai untuk menuntaskan masalah sampah. Namun, anggaran dana yang besar tersebut akankah berhasil menangani sampah?  


Anggota C DPRD Kabupaten Bandung, Toni Permana mengatakan anggaran yang dikeluarkan untuk mengelola sampah sebesar 40 miliar rupiah. Ia pun mengakui bahwa dengan kondisi anggaran yang terbatas, penanganan masalah sampah harus tetap berjalan dan ditangani dengan serius.


Dan semua uang tersebut digunakan untuk membayar tipping fee, operasional mobil pengangkut sampah, dan upah pekerja. Toni pun menyarankan untuk melibatkan pihak swasta dalam pengelolaan tersebut. Ia mengatakan "Kabupaten Bandung sudah saatnya memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di wilayah sendiri, ini yang penting dipikirkan bersama". (jabarekspres.com, Jum'at, 2/7/2021)


Menumpuknya sampah menjadi suatu masalah yang harus diselesaikan dalam sebuah negara. Upaya pemerintah dalam mempergunakan anggaran dari masyarakat untuk pengelolaan sampah pun belum dapat terlaksana dengan sepenuhnya. Padahal dana membuktikan bahwa pemakaian sampah dalam masyarakat sangat besar. 


Dan sampah-sampah plastik yang banyak digunakan membuat sulitnya untuk dikelola. Larangan yang telah ditetapkan untuk tidak membuang sampah pun belum dapat dipatuhi. Sehingga, barang bekas terus menumpuk tanpa adanya pengelolaan yang sebanding.


Penanganan yang dilakukan oleh pihak pemerintah dan masyarakat, sejauh ini terbatas pada mengumpulkan dan mengelola sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), program bank sampah dan imbauan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Tetapi nyatanya sampah tetap menjadi masalah dan retribusi diberlakukan.


Bagi masyarakat yang enggan membayar retribusi, mereka membuang sampah ke tempat yang tak semestinya seperti sungai, pinggir jalan dan di bawah pohon.  Akibatnya, terjadi pencemaran di aliran sungai dan lingkungan darat.


Maka, program dan aturan, hingga dana pengeloaan sampah yang ditetapkan pemerintah tak akan menjadi solusi selama kapitalisme masih menjadi acuan. Paham ini sebagaimana diketahui tak memiliki arahan jelas dan tegas yang sifatnya komprehensif. Satu aturan dibuat, masalah lain mendekat. Masyarakat diminta taat menjaga kebersihan lingkungan, sementara kemudahan,  pelayanan serta fasilitas pendukung belum memadai. 


Berbeda ketika aturan ada dalam bingkai syariat dalam lingkup negara. Negara  dalam sistem Islam adalah institusi sentral yang menerapkan aturan sahih untuk mewujudkan kemaslahatan. Islam tak akan membiarkan manusia merusak ataupun mencemari alam sekitar hanya demi nafsu dan keserakahan. Sebab, imbas dari kerusakan itu akan menimpa dirinya dan orang lain seperti banjir, longsor, gempa, tsunami dan lain-lain. Inilah yang harus dipahami oleh individu muslim tentang arti keimanan dan kebersihan. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Menjaga kebersihan sama saja kita menjaga keimanan. Seperti dalam hadis Nabi saw. berikut:


"Bersuci (thaharah) itu sebagian daripada iman." (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi)


Pemimpin dalam sistem Islam selalu mengambil hukum atau aturan dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ia tak pernah menggunakan hukum selain dari kedua hal tersebut. Sebab, di dalam kitab dan hadis, semua solusi untuk menyelesaikan suatu problematika sudah ada secara detail. Dan sudah terbukti akan keberhasilannya. Tak lupa, sistem ini pun akan melahirkan kemashalatan bagi seluruh umatnya.


Aturan Islam lahir dari Allah Swt. untuk kebaikan manusia itu sendiri. Namun hanya sedikit manusia yang mengerti dan mengetahui.  Pun ketika demokrasi kapitalisme membawa masalah, manusia malah enggan kembali pada syariat. Padahal Islam-lah solusi atas beragam masalah yang menimpa manusia. 


Dengan demikian, perjuangan tegaknya Islam kafah ada pada pemikiran dan perjuangan kaum muslim untuk melanjutkan kehidupan Islam sekaligus mencampakkan paham-paham sekuler tak bermutu.


Wallahu a'lam bi ash-Shawwab