Oleh Ummu Najla

(Komunitas Ibu Peduli Generasi)


Heboh, penangkapan ‘anak sultan’ gara-gara pesta narkoba menggegerkan dunia maya. Konon, sang artis terkenal Nia Ramadhani dan suaminya pengusaha tajir Ardi Bakrie, ditangkap di daerah Pondok Pinang, Jakarta Selatan, pada Rabu (7/7) pukul 15.00 WIB. Lengkap dengan satu klip narkotika jenis sabu-sabu seberat 0,78 gram.

Netizen nyinyir, ketika permohonan rehabilitasi dari keluarga diamini oleh penyidik dan difasilitasi. Walaupun Kapolres  Kombes Hengki Haryadi menegaskan, penyidik tetap akan memproses hukum. Dan akan memperkarakan di persidangan dengan ancaman pidana maksimal 4 tahun, Sabtu (1/7).

Namun sayangnya, banyak pihak yang menyangsikan janji tersebut. Pasalnya, banyak kasus serupa yang akhirnya masuk angin di tengah jalan. Dan hanya berujung dengan rehabisasi dan bebas. Seperti kasus narkoba artis papan atas Rafi ahmad, komedian Nunung dan beberapa artis lainnya. Sehingga tak ada efek jera bagi para ‘anak sultan’ dan memunculkan kasus baru yang senada. 

Makna Kebahagian Sejati

“Anak sultan” kini menjadi istilah trendy yang meracuni gaya hidup masa kini. Generasi milenia seakan dibuat kepincut setengah mati. Sebuah icon yang menggambarkan glamournya duniawi. Dengan segudang kenikmatan dunia yang tak bertepi, menjadi idaman setiap hati. Mirisnya, kesuksesan hanya diukur dari segi materi. Harta yang berlimpah, karier yang menggoda, diclaim mampu menjamin masa depan yang fantastis.  

Namun, sayangnya semua hanya sebatas jargon tanpa arti. Terbukti banyak selebritis dan pengusaha tajir, nyiyir dibalik jeruji besi. Bahkan ada yang nekad bunuh diri demi lari dari masalah diri. Harta, popularitas dan otoritas nyatanya tak mampu menghadirkan damainya hati. Hingga kebahagiaan sebatas imaji dibalik gemerlapnya materi.

Andaikan kebahagiaan mampu dibeli dengan materi. Pastinya narkoba dan ekstasi bukan menjadi sahabat sejati. Esensi kebahagiaan hakiki adalah ketika Allah Swt. rida pada aktivitas diri. Ketika ketaatan dan ketakwaan menjadi perisai sejati. Ketenangan akan menemani dalam damainya hati. Jiwa jernih dengan kalam Illahi. Aktivitas diri berbalut kemuliaan akhlak terpuji. Al-Qur’an adalah teman sejati. Bukan miras dan psikotropika yang memudharatkan diri. Iman menjadi jati diri sampai dibawa mati. Hingga surga rindu menanti.    

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Fajr:

“27. Hai jiwa yang tenang. 28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.  29. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. 30. masuklah ke dalam surga-Ku.”

Matinya Keadilan Hukum

Mirisnya hukum di negeri ini, tajam pada kaum papa, tumpul untuk si kaya. Potret buram hukum terpapar di depan mata. Betapa mudahnya bagi si kaya, kasus hukum tuntas dengan sekejam mata. Tuntutan Jaksa seakan hanya sebuah formalitas belaka. Nyata terlihat timpang sebelah. Hukuman ringan bahkan kebebasan semudah mengedipkan mata.

Namun, berbeda dengan nasib si papa. Kesalahan kecil tak bermakna menjadi bencana luar biasa. Jangankan sebuah keringanan atau belas kasihan. Bahkan keadilan hukumpun mati di tangan penguasa. Inilah fakta dibalik negeri antabranta. Sungguh mencampakkan kebenaran demi ambisi dunia. Kolusi dan manipulasi adalah praktik nyata tanpa takut dosa. Maklum, beginilah karakter negeri sekuler dibalik ilusi democrazynya.

Jelas berbeda dengan negeri pengemban Islam kafah. Selalu menempatkan keadilan di alam semesta. Tak memandang miskin atau kaya. Semua sama dibalik hukum yang sempurna. Kebenaran dijunjung di atas konstitusi Sang Pencipta. Bukan sekadar isapan jempol sang penguasa durjana. Bahkan andaikan “anak sultan” berulah hudud ditegakkan tanpa rekayasa.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:

“Sesungguhnya orang-orang Quraisy mengkhawatirkan keadaan (nasib) wanita dari bani Makhzumiyyah yang (kedapatan) mencuri. Mereka berkata, ‘Siapa yang bisa melobi Rasulullah saw.?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak ada yang berani kecuali Usamah bin Zaid yang dicintai oleh Rasulullah saw.’ Maka Usamah pun berkata (melobi) Rasulullah saw. (untuk meringankan atau membebaskan si wanita tersebut dari hukuman potong tangan).

Rasulullah saw. kemudian bersabda, ‘Apakah Engkau memberi syafa’at (pertolongan) berkaitan dengan hukum Allah?’ Rasulullah saw. pun berdiri dan berkhutbah:

‘Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum), namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.’” (HR. Bukhari no. 6788 dan Muslim no. 1688).

Lantas, masihkah kita akan mencari kebahagiaan selain ridaNya? Dan mencari keadilan hukum tanpa kembali padaNya. Sungguh kebahagian dan keadilan sejati itu hanya ada padaNya. Janganlah ragu dan malu memperjuangkan kebenarannya! Karena surga sebaik-baik tempat kembali yang nyata. Waallahu a'lam bishshawab.

 
Top