Oleh Dewi Ummu Hazifa


Jagat raya dihebohkan kembali dengan tertangkapnya pasutri artis sekaligus pengusaha ternama yang berinisial NR dan AB, dengan dugaan kasus penyalahgunaan narkotika jenis sabu. Ini menambah panjang deretan publik figur yang berkantong tebal, tersandung kasus narkoba.

Kabid Humas Metro Jaya Yusri Yunus membenarkan adanya penangkapan terhadap NR dan AB di kawasan Jakarta Selatan.

"Mengenai kasus penyalahgunaan narkotika, TKP ini di hari Rabu, 7 Juli 2021, pukul 15 WIB di daerah Pondok Pinang Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Ada 3 orang yang dinyatakan sebagai tersangka, ungkap Yusri Yunus di Polres Metro Jaya Jakarta Pusat pada hari Kamis, 8 Juli 2021. (Suara.com, 8/7/2021)

Pihak kepolisian berjanji akan terus mengawal kasus ini hingga ke pengadilan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Kapolres Jakarta Pusat Kombes Hengki Haryadi, bahwa pihak kepolisian akan terus memproses hukum terhadap NR, AB dan sopir pribadinya atas kasus penyalahgunaan narkotika, meskipun dalam UU pengguna narkotika diwajibkan menjalani rehabilitasi. (Merdeka.com, 10 Juli 2021).

Sebagai warga negara yang baik, harus mendukung dan percaya kepada pihak kepolisian serta mengawal terus supaya proses hukum terhadap mereka tetap berjalan, agar mereka dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Akan tetapi masyarakat banyak yang meragukan kinerja para penegak hukum tersebut. Bukan tanpa alasan, karena masyarakat melihat banyak fakta yang terjadi di beberapa kasus yang justru hukum itu tumpul bagi orang berduit tajam bagi orang kecil. Seperti kasus yang terjadi antara tukang bubur dan McDonald, hukumannya dianggap jomplang.

Tukang bubur di Tasik hanya datangi segelintir orang saat PPKM Darurat didenda 5 juta, sementara McD saat promo BTS meal memicu kerumunan panjang dendanya 500 ribu, denda ini dijatuhkan pada seluruh gerainya.

"Seluruh gerai tersebut dikenai denda administrasi sebesar 500 ribu rupiah" Kata Rasdian Setiadi Kepala satpol PP kota Bandung, Kamis 10/6. (Suara.com, 9/7/2021).

Seolah menjadi suatu kebenaran perkataan "orang kaya mah bebas" yang lagi viral di masyarakat. Itu menunjukkan bahwa orang-orang yang  berduit/berkantong tebal bebas melakukan sesuatu semaunya mereka. Fenomena ini menunjukkan bahwa kondisi masyarakat sedang tidak baik-baik saja.  Mereka yang seharusnya menjadi contoh malah sebaliknya mereka melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Ini akan mencederai kepercayaan masyarakat terhadap mereka.

Kondisi seperti ini sah-sah saja dalam sistem demokrasi sekuler yang mana si kaya bisa melakukan apa saja atas dasar kebebasan. Yang penting mereka bahagia walaupun kadang dalam memenuhi kesenangannya itu melanggar norma hukum bahkan norma agama, ditambah lagi sanksi dari pelanggarannya itu terasa ringan karena menurut mereka hukum bisa dibeli suka-suka mereka.

Dalam sistem demokrasi saat ini memang sangat sulit untuk mendapatkan keadilan, keadilan hanya bisa didapat oleh mereka yang punya duit. Bagi rakyat biasa keadilan hanya sebuah harapan. Mengharapkan sikap  aparat penegak hukum yang harusnya menjungjung tinggi kejujuran dan keadilan serta profesionalitas dalam menjalankan tugasnya sangat sulit dicari.

Sistem demokrasi telah memberi celah bagi oknum penegak hukum untuk berbuat tidak adil. Berbeda dengan sisten Islam jabatan dan kekuasaan adalah amanah. Tanggung jawab itu tak hanya di hadapan manusia di dunia tapi juga di hadapan Allah Swt. di akhirat kelak. 

Dalam pengangkatan pejabat/penegak hukum, Islam menetapkan syarat takwa selain syarat profesionalitas, karena dengan ketakwaan inilah menjadi kontrol awal sebagai penangkal berbuat ketidakadilan.

Sistem Islam terbukti konsisten dalam penegakan hukum. Inilah yang menjadi kunci tegaknya keadilan dan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah/penegak hukum.

Masih percaya dengan sistem demokrasi?

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top