Wajibnya Pendidikan Tak Terbatas Jenjang

 




Oleh Ummu Syafiq

Pendidik Generasi



Pendidikan merupakan hal penting dalam kehidupan kaum muslim karena melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan kualitas hidupnya dan mewujudkn peradaban gemilang. Untuk mencapai kegemilangan ini diperlukan keseriusan pembelajaran melalui program, mekanisme dan sistem yang tepat yang datang dari negara.


Pendidikan harus menjadi perhatian masyarakat agar tidak mencukupkan diri dengan pengetahuan dasar, tapi harus ada proses peningkatan. Bahkan pejabat daerah di Kabupaten Bandung, Bupati Dadang Supriatna menargetkan tiga tahun ke depan warga di wilayahnya rata-rata minimal harus tamat pendidikan SMA. Hal ini disampaikan Dadang Supriatna saat menghadiri acara wisuda dan tafaruqon siswa Yayasan Pondok Pesantren Darul Ma’arif, Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, (dejurnal.com, Sabtu, 29/5/2021).


Setiap orang pasti ingin mengenyam pendidikan tidak hanya sabatas jenjang SMA saja bahkan hingga ke perguruan tinggi. Sayangnya, melihat fakta yang terjadi saat ini mustahil semua masyarakat dapat meraihnya, jangankan perguruan tinggi jenjang SD saja masih banyak yang tidak sekolah dikarenakan mahalnya biaya pendidikan berikut sarana penunjangnya. 


Dalam perundang-undangan Indonesia, negara mewajibkan anak belajar hingga sembilan tahun. Negara seharusnya bertanggung jawab untuk menyediakan sarana prasarana, guru serta fasilitas pendidikan yang menunjang kelancaran pembelajaran.


Jika ditelusuri, masih banyak sekolah-sekolah di daerah terpencil yang luput dari perhatian negara. Padahal ini adalah tanggung jawab negara untuk meriayahnya. Bahkan di sudut ibukota pun masih ditemukan anak tidak sekolah dan putus sekolah karena faktor kemiskinan. Padahal menurut UUD'45 pasal 31 (2) pendidikan mereka dijamin negara.


 "Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya."


Akan tetapi untuk saat ini sepertinya mustahil mewujudkan pendidikan merata jika negara masih menerapkan sistem kapitalisme yang hanya bertujuan mencari keuntungan semata. Akan lebih baik jika negara harusnya melakukan apa yang tertuang dalam undang-undang dan memberikan perhatian penuh demi masa depan bangsa yang gemilang. Meskipun saat kapitalisme masih tegak, harapan ini utopis belaka.


Sebaliknya pendidikan yang bagus, murah, bahkan gratis akan terwujud jika negaranya menerapkan sistem Islam secara sempurna. Seperti pada masa kekhilafahan Islam. Pada era ini syariat Islam dijadikan landasan pendidikan dengan tujuan mengantarkan manusia pada pola pikir dan perbuatan yang sesuai syariat Allah. 


"Menuntut ilmu itu adalah suatu keharusan (wajib) atas setiap muslim." (HR Ibnu Majah)


Sabda Rasulullah saw. di atas menjelaskan bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib, baik bagi laki-laki atau perempuan, tua, muda, kaya, atau miskin. Bahkan saking pentingnya ilmu, dalam hadis lain Rasul memerintahkan untuk mencari ilmu walaupun sampai ke negeri Cina. Hal ini menjadi isyarat bahwa setiap muslim diwajibkan belajar tak terbatas wilayah/negara.


Ketika pendidikan menjadi perhatian para penguasa muslim (khalifah), ini tidak lain karena telah dicontohkan oleh Nabi saw. tentang perhatian beliau terhadap dunia pendidikan yang sangat besar. Tak heran jika kemudian para khalifah membangun berbagai lembaga pendidikan mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Tujuannya tidak lain adalah meningkatkan pemahaman umat terhadap agama, sains dan teknologi. Semua gratis.


Selama masa kekhilafahan Islam, tercatat beberapa lembaga pendidikan Islam yang terus berkembang, kendati beberapa di antaranya hanya tinggal cerita, namun tetap menjadi bukti sejarah yang tak terbantahkan akan ketinggian peradaban Islam. Beberapa dari lembaga pendidikan itu tersebar di beberapa wilayah Islam seperti an-Nizhamiyah di Baghdad, al-Azhar di Mesir, al-Qarawiyyin di Fez, Maroko dan Sankore di Timbuktu, Mali, Afrika.


Lembaga pendidikan Islam tersebut dikenal memiliki sistem dan kurikulum yang sangat maju. Para siswa yang mengenyam pendidikan di dalamnya menjadi tokoh terkenal di kemudian hari. Tidak hanya dikenal sebagai pemikir tapi juga ilmuwan muslim. Sebut saja miisalnya, Imam al-Ghazali, Ibnu Ruysd, Ibnu Sina, Ibn Khaldun, Al-Farabi, al-Khawarizmi, al-Kindi, al-Firdausi dan masih banyak yang lainnya.


Negara dalam sistem pemerintahan Islam tidak hanya menerima murid kalangan warga negara sendiri, lembaga pendidikan Islam ini pun menerima para siswa dari Barat. Termasuk petinggi Katolik, Paus Sylvester II pernah merasakan pendidikan di universitas Islam, Al-Qarawiyyin sebagai universitas terbaik di masanya.


Itulah kegemilangan Islam ketika ideologi Islam menjadi mercusuar dunia, dan ini akan terwujud kembali jika Islam diterapkan secara sempurna melalui perjuangan nyata. Tidak hanya dalam bidang pendidikan yang akan meraih kesuksekan bahkan seluruh kehidupan manusia dan keberkahannya akan terpancar keseluruh penjuru dunia.


Wallaahu a'lam bish-shawaab