Oleh Nur Rahmawati, S.H.

Penulis dan Pemerhati Politik



Pandemi Corona terus berinovasi. Varian India baru ditemukan, menambah jumlah kasus yang terus meningkat. Upaya yang terus disosialisasikan guna pencegahan virus, perlu ditingkatkan, dengan harapan pandemi ini segera usai. Sayangnya virus yang baru ditemukan semakin menggila. 


Dilansir dari cnnindonesia.com, Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah menyatakan, enam hari terakhir terjadi kenaikan kasus positif Covid-19.


"Memang dalam enam hari terakhir kita sudah bisa melihat adanya tren kenaikan (kasus positif Covid-19). Jadi kalau biasanya kita mengalami penurunan, di sini dalam seminggu terakhir ada penambahan kasus aktif sebesar 440 kasus," kata Dewi dalam rapat koordinasi daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Pusdalops BNPB, Minggu (23/5).



Kapitalisme Mustahil Tuntaskan Pandemi


Peningkatan terjadi, tentu menambah keprihatinan semua pihak. Pasalnya, dana yang digelontorkan untuk menangani pandemi terbilang tidak sedikit. Mengapa hal ini bisa terjadi? Untuk menjawabnya, coba kita telisik pada sistem yang mendasari upaya dan aksi semua pihak, baik individu, masyarakat dan negara.


Sistem kapitalisme jelas menjadikan keuntungan dan manfaat sebagai kiblat dalam memutuskan, yang saat ini diadopsi negara. Tak heran jika asas ini akan mengesampingkan kebutuhan dan prioritas rakyat yang harusnya diutamakan. Fakta menunjukkan, bagaimana tindakan pemerintah dalam menangani pandemi terbilang kurang serius. Kebijakan yang diambil terkesan ambigu dan tidak tegas. Pada satu sisi ada larangan mudik. Namun, di sisi lain membolehkan tempat wisata beroperasi. 


Dikutip dari laman berita kumparan.com, 17/5/2021, pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan mudik terhitung sejak tanggal 5 Mei hingga 17 Mei 2021. Namun tempat wisata diperbolehkan beroperasi, sehingga membuat sejumlah tempat wisata seperti Ancol kebanjiran pengunjung. Tercatat ada 30 ribu wisatawan di hari pertama, kemudian hari kedua 10 ribu pengunjung.


Ironi bukan? Tampak sekali keberpihakan pemerintah terhadap asas kepentingan, keuntungan dan kebermanfaatan, walaupun mengorbankan nyawa rakyat. Untung rugi menjadi hal yang sangat diperhitungkan, begitulah sistem kapitalisme dalam menangani pandemi. Upaya setengah hati tak dapat dielak, bertambahnya kasus pandemi menjadi ukuran kegagalannya.


Penting menjadikan ini momentum mengevaluasi solusi yang sudah berjalan. Terbukti bahwa sistem saat ini menjadikan kewajiban atas pemenuhan kesehatan sebagai barang dagangan. Abainya pemerintah terhadap panjangnya kesengsaraan publik, lahirnya problem-problem baru dan lebih banyaknya korban, semestinya mendorong langkah tegas untuk mengambil solusi lain.



Islam Solusi Sempurna Tangani Pandemi


Solusi sekuler yang ditetapkan secara lokal maupun mengikuti rekomendasi internasional terbukti gagal. Maka saatnya mengambil solusi sempurna untuk tangani pandemi. Solusi yang secara sistematik dan terpercaya untuk menangani wabah saat ini, diantaranya:


Pertama, dari level individu. Disunahkannya  kita untuk melakukan pengobatan ketika mengalami sakit, tapi ini bukanlah suatu kewajiban, jika seseorang ingin bersabar maka pahala yang akan didapat.


Rasulullah (ﷺ) ketika ditanya tentang mendapatkan pengobatan, beliau mendorong hal itu:


يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ شِفَاءً أَوْ قَالَ دَوَاءً إِلَّا دَاءً وَاحِدًا… الْهَرَمُ

“Wahai para hamba Allah, berobatlah. Sesungguhnya Allah SWT tidak meletakkan suatu penyakit melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya: “Penyakit apa itu?” Beliau menjawab: “Penyakit tua.” (Sunan al-Tirmidzi 2038)


Kedua, level pemerintahan. Dalam negara Islam, negara memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan rakyatnya, termasuk kesehatan dengan memberikan perawatan, pengobatan dan pelayanan kesehatan lainnya yang terbaik sesuai dengan kadar sakitnya, semua itu diberikan secara gratis.


Dalam menghadapi Covid-19, peran khalifah sangat urgen mencakup kebutuhan vaksin yang aman dan halal serta pemberian pun gratis. Selain itu, khusus menangani pandemi dilakukan lockdown wilayah yang terindikasi virus (hanya bagi wilayah yang terindikasi saja), melarang siapa pun masuk ke wilayah tersebut, serta tidak diperkenankannya masyarakat keluar dari wilayah yang terinfeksi, memisahkan yang sakit dari yang sehat, kemudian melakukan isolasi mandiri.


Ketiga, level geopolitik. Pada level ini khalifah akan malakukan berbagai cara guna menuntaskan pandemi di muka bumi. Tindakan khalifah seperti menyosialisasikan atau mendemonstrasikan cara Islam menuntaskan pandemi ke seluruh dunia.


Termasuk di dalamnya mencoba berkoordinasi dengan wilayah lain di dalam khilafah untuk menahan penyebaran penyakit ini, dan mengakui bahwa pandemi tidak terbatas oleh batas wilayah. Tanpa enggan untuk membantu negara yang lemah dalam hal pengobatan atau penyembuhan. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh khilafah yang membantu negara lain ketika kelaparan.


Luarbiasanya sistem Islam tuntas memberikan solusi hingga ke akarnya. Begitu memanusiakan manusia, memberikan hak mereka sebagai warga negara tanpa menzalimi. Berbeda dengan sistem saat ini, yang mengambil keuntungan dalam kesusahan orang lain.


Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan: Rasulullah (ﷺ) bersabda,


‘لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ مَنْ ضَارَّ ضَرَّهُ اللَّهُ وَمَنْ شَاقَّ شَقَّ اللَّهُ عَلَيْهِ’

“Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain. Barangsiapa yang menyusahkan orang lain, Allah akan menyusahkannya. Barangsiapa yang kasar kepada orang lain, Allah akan bertindak keras padanya. ”


Wallaahu a'lam bishshawaab bishawaab

 
Top