Suriah Krisis Pangan, di mana Tanggung Jawab Negara?


Oleh Dewi Humairah

(Aktivis Millenial dan Member AMK)


Saat ini Suriah dilanda krisis pangan hingga rakyatnya harus merasakan kelaparan. Bahkan mereka mengandalkan roti untuk makanan setiap harinya sebagaimana yang dialami seorang pria dari kota Zabadani. Dia mengatakan bahwa keluarganya yang beranggotakan empat orang sudah lama berhenti makan keju dan daging sejak awal 2020. 


Namun, dengan naiknya harga roti dan adanya batasan dari pemerintah, dia dan istrinya terpaksa makan secuil roti tiap harinya. "Kami memecah roti menjadi gigitan kecil dan mencelupkannya ke dalam teh agar tampak lebih besar," kata orang tersebut, dalam keterangan pers Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang diterima, Ahad (30/5).


Ternyata roti telah lama menjadi kebutuhan pokok di Suriah. Sebelum 2011, negara ini mampu memproduksi gandum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi roti dalam negeri. Akan tetapi, sejak ada perang yang berkecamuk di Suriah, produksi dan persediaan roti pun mulai menipis.


Berdasarkan laporan Human Rights Watch, konflik bersenjata selama satu dekade telah menyebabkan kekurangan gandum yang parah di Suriah akibat lahan-lahan pertanian makin sedikit. Selain itu, banyak toko roti yang ikut hancur dan tidak dapat beroperasi selama konflik. Lalu kondisi ini makin parah dengan adanya kebijakan bahwa distribusi roti yang diskriminatif, yang mana ada pembatasan jumlah roti bersubsidi yang dapat dibeli warganya. Akhirnya roti menjadi barang rebutan di Suriah.


Sementara itu banyak para warga yang berdesakan menunggu di depan toko roti. Padahal, seringkali tidak ada cukup roti untuk semua orang yang telah mengantri. Pejabat Suriah mengatakan, yang diprioritaskan adalah setiap orang memiliki cukup roti tapi faktanya tindakannya menunjukkan sebaliknya. 


"Jutaan orang kelaparan di Suriah, sebagian besar karena kegagalan pemerintah dalam mengatasi krisis roti yang ditimbulkannya," ujar Sara Kayyali, peneliti Suriah di Human Rights Watch.


Bahkan hingga Februari 2021, Progam Pangan Dunia setidaknya sekitar 12,4 juta warga dari 16 juta warga Suriah mengalami kerawanan pangan. Jumlah ini juga bertambah 3,1 juta dari tahun lalu. World Food Progamme (WFP) juga memperkirakan 46% keluarga di Suriah akan mengurangi jatah makanan harian mereka dan 38% orang dewasa telah mengurangi konsumsi pangan mereka agar anak-anak mereka cukup memiliki makanan.


Astaghfirullah. Sungguh membuat sesak di dada melihat saudara kita di Suriah harus mengalami kelaparan. Sebenernya masih banyak saudara kita lainnya juga yang sering mengalami kelaparan akibat abainya penguasa kita hingga rakyatnya mengalami kelaparan.


Selain itu yang membuat krisis pangan yang melanda di berbagai belahan dunia adalah akibat sistem bobrok yakni sistem kapitalisme yang dimana sistem ini telah merusak alam bahkan membuat kesenjangan itu makin nyata. Hampir semilyar penduduk dunia saat ini telah kekurangan pangan sementara negara kapitalis berfoya-foya makanan. 


Mungkin kita yang tidak tinggal di wilayah konflik tak begitu merasakan kelaparan, akan tetapi saudara kita yang tinggal di wilayah konflik sangat merasakan kelaparan.


Islam adalah agama sempurna yang telah Allah turunkan untuk manusia. Islam tidak hanya mengatur masalah ibadah mahdhah saja akan tetapi Islam mengatur semuanya dan kita sebagai manusia tak boleh samaunya.


Masalah pangan adalah kebutuhan sehari-hari kita. Karena itu adalah hal yang harus dipenuhi setiap harinya. Bila kita lihat negeri kita itu negeri yang katanya gemah limpah lih jinawi. Semua ada mulai dari padi, jagung, gandum, ikan dan beragam makanan lainnya yang bila dikelola bisa memenuhi kebutuhan rakyatnya. Akan tetapi permasalahannya adalah penguasa saat ini tak peduli terhadap nasib rakyatnya bahkan bila mengalami kelaparan.


Satu-satunya solusi dalam mengatasi krisis pangan adalah menerapkan Islam secara kafah, agar krisis pangan itu tak terjadi dan bila pun mengalami krisis pangan maka bisa diatasi dengan baik karena pemimpin tidak akan membiarkan rakyatnya kelaparan. Bahkan waktu kepemimpinan umar sampai berkata seperti ini, "Akulah seburuk-buruknya pemimpin, bila aku kenyang sedangkan rakyatku kelaparan". Pernahkah kita mendengar perkataan tersebut dari pemimpin kita saat ini?


Wallahu a'lam bishshawab