Sekolah Tatap Muka Menghadapi Kendala

 


Oleh Narti

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah


Wabah Covid-19 sudah hampir dua tahun melanda dunia, tak terkecuali Indonesia. Seluruh aspek kehidupan manusia harus mengalami perubahan. Aspek ekonomi, sosial, dan  pendidikan harus dilalui dengan berbagai cara guna menghindari penularan wabah yang menakutkan ini. 


Pada dunia pendidikan, tidak sedikit  anak didik yang sudah mulai bosan belajar daring (dalam jaringan) karena sulit memahami pelajaran dari para guru. Orangtua pun merasakan kendala yang sama. Oleh karena itu para orangtua murid menyambut baik ketika ada rencana pemerintah melaksanakan pembelajaran tatap muka.


Dilansir dari Jabarekspres.com, (4 Januari 2021), Ketua Komisi X DPR RI , Dede Yusuf Macan Effendy di Soreang Kabupaten Bandung mengungkapkan bahwa berdasarkan survei, sebanyak 70% orangtua menginginkan belajar tatap muka, sementara sisanya 30% lainnya masih ragu-ragu. Berdasarkan kesepakatan pada Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud), tatap muka boleh dilakukan dengan catatan, harus ada ijin Pemda, harus melihat zona, sekolah harus sudah siapkan protokol kesehatan, dan mendapatkan ijin dari orangtua.


Belum hilangnya wabah di tengah masyarakat, memang menjadi dilema terutama di dunia pendidikan. Satu sisi PTM dilakukan demi memenuhi keinginan anak didik dan orangtua, namun di sisi lain hal itu dapat memunculkan klaster baru di sekolah, sebagaimana yang terjadi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ada dua siswa yang positif setelah mengadakan uji coba pembelajaran tatap muka.


Harapan untuk melaksanakan PTM sepertinya harus ditunda. Penanganan ala kapitalisme sekuler kerap menjadi biang keladi dari permasalahan yang terjadi. Penanganan yang lamban dan terkesan setengah hati, menyebabkan wabah tidak segera hilang. Gonta ganti kebijakan juga menjadi salah satu penyebabnya. Rakyat kembali menjadi korban. Penguasa terkesan hanya menjadi regulator, bukan penanggungjawab utama dan kurang serius dalam mengatasi wabah. 

Kebijakan yang diberlakukan termasuk dalam hal penanganan wabah senantiasa mengedepankan nilai materi/keuntungan daripada mendahulukan keamanan dan kesehatan masyarakat. Kepentingan ekonomi selalu menjadi alasan yang harus diselamatkan. Nyatanya ekonomi semakin rapuh, korban virus terus bertambah.


3 T yaitu tracing, testing  dan treatment  belum sepenuhnya terlaksana karena berbagai kendala. Tracing masih terbatas, testing hanya ditujukan bagi yang bepergian ataupun kepentingan pekerjaan, itupun ada pemalsuan, treatment baru sebatas penyediaan fasilitas isolasi masih kurang memadai, maka akan sulit untuk memastikan suatu daerah yang benar-benar sudah terkategori zona kuning ataupun hijau. Belum lagi akurasi data, atau kondisi wilayah dengan zona yang berubah-ubah.


Kapitalisme terbukti banyak mudaratnya, berbeda dengan aturan Islam. Sebab aturan Islam lahir dari Sang Maha Pencipta dan Pengatur, Allah Swt. sedangkan kapitalisme sekular lahir dari pemikiran manusia yang lemah dan terbatas. Apa yang dicontohkan Rasulullah saw. dengan menerapkan karantina wilayah atau lock down terbukti efektif memisahkan yang sakit dengan yang sehat. Sehingga kegiatan di luar wilayah wabah termasuk kegiatan menimba ilmu tetap berjalan. Perhatian negara tertuju kepada wilayah wabah agar cepat teratasi dan wabah tidak berlarut-larut.


Negara mesti mempersiapkan kurikulum yang bisa berlaku baik pada masa pandemi maupun tidak. Yang membedakan hanyalah teknis pelaksanaannya saja. Asas, tujuan, metode, dan konten dasarnya tetap. Inilah yang harus dihadirkan.

Pendidikan dalam sistem Islam, lahir dari paradigma pendidikan yang sahih, karena diselenggarakan berdasarkan akidah Islam, yang menjadi landasan beramal setiap muslim. Tujuannya adalah membentuk kepribadian Islam dan membekali peserta didik dengan tsaqafah Islam. 


Disamping itu, pendidikan dalam Islam memiliki tujuan dan capaian yang tepat. Secara produktif akan menghasilkan SDM yang handal dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Kurikulum pendidikan Islam memiliki kemampuan menghadapi segala kondisi. Bila terjadi pandemi, asas, tujuan, dan metodenya tak akan berubah, hanya konten, rinciannya saja yang disesuaikan.


Penyampaian materi pembelajaran oleh guru dan penerimaan  oleh siswa harus terjadi proses berpikir (talqiyan fikriyyan), yang dapat mempengaruhi perilaku. Dalam kondisi pandemi, prinsip ini sangat penting diperhatikan. Standar keberhasilan belajar bukanlah nilai, tapi perilaku dan kemampuan memahami ilmu untuk diamalkan. Hal ini akan menghasilkan dorongan cerdas dalam menghadapi pandemi, seperti penemuan berbagai teknologi anti wabah, dan sebagainya.

Sistem Islam dari Zat yang Maha Sempurna, dalam penerapannya membutuhkan seorang pemimpin yang bertanggungjawab penuh terhadap rakyat.  Sosok penguasa yang memahami betul bahwa kelak akan ada hisab di akhirat atas amanah kepemimpinannya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:


"Imam (Khalifah) adalah raa'in, yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya." (HR. Muslim)


Wallahu a'lam bish Shawwab