Ritel Gulung Tikar, Wajah Buram Ekonomi ala Kapitalis


Oleh Dewi Sartika

(Pemerhati Publik)


Sejumlah perusahaan ritel kondisinya semakin terpuruk akibat Covid-19. Beberapa retail menutup gerainya dan  menyisakan pengangguran. Sejak tahun 2019 setidaknya sudah ada beberapa ritel ternama yang tutup di antaranya, Seven Eleven, Matahari Pasar Raya Blok M, Lotus, Debenhams, dan Gmap, Giant Express Cinere Mall. (kumparan.com, 28/6/2021).


Kini, di tengah kondisi Covid-19 yang tak kunjung selesai, semakin menambah beban ritel. Sehingga ritel modern pun harus gulung tikar dan menutup gerainya. Dikutip dari Kompas.id. Satu per satu perusahaan ritel besar justru gulung tikar dan beralih fungsi karena terdampak pandemi Covid-19. Pelaku usaha berharap pemerintah dapat segera merealisasikan rencana pemberian stimulus pada sektor ritel.


PT. Hero Supermarket Tbk atau Hero Group menjadi perusahaan ritel terbaru yang akan menutup semua gerai hipermarket Giant per Juli 2021. Menurut rencana, lima gerai Giant akan diubah menjadi gerai baru perlengkapan rumah tangga IKEA, sementara gerai hipermarket Giant lainnya akan ditutup. 


Langkah Hero Group mengikuti peritel besar lainnya yang sudah terlebih dahulu menutup sebagian atau semua gerainya akibat terimbas pandemi. Misalnya, PT Matahari Department Store yang menutup 25 gerai pada 2020 dan berencana kembali menutup 13 gerai tahun ini. Ada pula gerai ritel fashion Centro Department Store dan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk.


Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey, Kamis (27/5/2021), mengatakan, bisnis ritel telah memasuki titik nadir setelah satu tahun lebih terdampak pandemi. Aprindo mencatat, selama pandemi, terdapat lebih dari 400 minimarket yang gulung tikar. Sementara untuk supermarket, selama Maret-Desember 2020, rata-rata ada 5-6 gerai yang terpaksa tutup setiap hari. Per Januari-Maret 2021 ini, rata-rata ada 1-2 toko yang tutup dalam sehari. 


”Ini ironis karena dalam dua bulan terakhir ini sebenarnya konsumsi masyarakat mulai membaik. Tapi, ternyata dua bulan itu tidak bisa mengompensasi kesulitan yang sudah dirasakan selama 12 bulan terakhir. Ini seharusnya jadi lampu kuning bagi pemerintah,” kata Roy, saat dihubungi di Jakarta. (Kompas.id, 28/5/2021)

Kabar tentang tutupnya ritel Indonesia terbilang bukan hal baru, mengingat bisnis ritel di Indonesia memang dalam kondisi yang menyedihkan. Tutupnya toko ritel tentu berimbas pada jumlah pengangguran yang semakin membludak. Pengangguran juga berdampak pada meningkatnya kriminalitas, kemiskinan, perceraian, kelaparan dan masih banyak lagi dampak yang ditimbulkan.


Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran pada bulan Februari 2021 sebanyak 8,75 juta. Bila dibandingkan dengan Februari 2020 yang sebanyak 6, 93 juta jumlah ini meningkat 1,82 juta orang (Kontan.co 5/5/2021).


BPS juga mencatat tenaga karyawan yang terdampak PHK sebanyak 30 juta orang, sementara yang masih bertahan gajinya dipotong, dan yang berstatus sebagai pegawai kontrak tidak diperpanjang. Tingkat pengangguran terbuka  (PPT) Februari 2021 tercatat 6,26%, ini pun meningkat dari posisi pada Februari 2020 yang sebelumnya 4,94%. Dengan ditutupnya beberapa ritail tersebut, sudah dipastikan jumlah pengangguran akan semakin bertambah, yang akan berdampak pada tatanan dalam masyarakat.


Penyebab Tutupnya Retail


Tidak hanya ritel besar yang menutup gerainya, tetapi, sejumlah ritel menengah terlebih dahulu tumbang. Setidaknya ada beberapa penyebab gerai ritel tersebut ditutup.


Pertama, karena Covid-19.Tak dipungkiri, adanya wabah Covid-19 menyisakan kepedihan yang mendalam, serta menyebabkan banyak masyarakat yang terdampak PHK dan kehilangan pekerjaannya, hal ini, secara otomatis penghasilan mereka berkurang dan daya belanja pun berkurang.


Kedua, Pembatasan Aktivitas. Selama pandemi covid-19, aktivitas masyarakat di luar rumah dibatasi, mereka lebih banyak melakukan aktivitasnya di dalam rumah. Pun, dengan belanja yang tadinya berbelanja secara offline. Masyarakat kini beralih kepada belanja via online.


Ketiga, tergerusnya konsumsi masyarakat gerai yang tutup, masyarakat yang biasa belanja akhirnya menunda untuk berbelanja.


Ketua umum asosiasi pengusaha ritel Indonesia (apriando) Roy Nicholas Maudey menyebutkan beberapa hal yang menyebabkan gerai ritel modern tutup. “(Apriando) menyatakan prihatin dan berduka terhadap anggota apriando yang harus menutup gerainya, karena kondisi terdampak Covid-19, juga penyebab mobilitas berkurang karena PSBB dan PPKM serta rendahnya daya beli (liputan6.com, 26/5/2021). Sejatinya, yang menjadi penyebab utama penurunan daya beli masyarakat adalah tidak stabilnya kondisi ekonomi dalam negeri.


Akibat Kapitalisme


Penutupan pada gerai ritel modern ini menunjukkan wajah buram perekonomian ala kapitalis, yang mana ekonomi dalam sistem kapitalis ditetapkan dalam dua sektor: Pertama, Sektor keuangan (moneter) seperti perbankan, pasar modal, dan  pasar uang. Kedua, Sektor riil yaitu aktivitas pertukaran barang dan jasa.


Namun, karna terjadi resesi pada tahun ini yang menghantam sektor riil, yang menyebabkan kondisi perekonomian semakin kalang kabut. Adanya fenomena resesi yang berujung pada krisis ekonomi, dan terus berulang ini. Sejatinya, menjadi bukti bahwa sistem ekonomi kapitalis menyebabkan kerusakan dan karugian bagi manusia.


Sistem Ekonomi dalam Islam


Sejarah mencatat dalam peradaban Islam, memang pernah mengalami krisis. Namun, krisis yang terjadi bukan disebabkan sistem perekonomian, melainkan dikarenakan adanya wabah dan bencana.


Dalam sistem ekonomi Islam tidak memperbolehkan pengembangan pada sektor keuangan seperti ribawi dan aktivitas spekulasi lainya. Karena, ekonomi dalam Islam adalah ekonomi yang berbasis pada sektor riil. Islam memandang kegiatan ekonomi hanya terdapat dalam sektor riil seperti, pertanian, perdagangan, industri, dan jasa maka dari sektor inilah kegiatan dilangsungkan dan dikembangkan agar lebih maju. Tentunya negara juga tidak berlepas tangan, negara bertanggung jawab menyediakan sarana dan prasarananya, serta memantau agar kegiatan perekonomian berjalan dengan lancar.


Negara juga tidak membebani para pelaku usaha dengan berbagai pajak/cukai dan pungutan di luar ketentuan syariat, memberikan insentif saat terjadi bencana, dan memberikan perlindungan dari hegemoni raksasa ekonomi dunia (baik dalam hal kebijakan maupun penguasaan). Karena, Islam memandang bahwa negara hadir sebagai pelindung, pelaksana syariat Islam secara menyeluruh, termasuk dalam sistem ekonomi. 


Demikian kepengurusan negara Islam dalam menjamin perekonomian agar tidak mudah goyah, yang berbeda 180 derajat dengan sistem hari ini. Sudah saatnya kita beralih dari sistem yang kufur dan menyengsarakan ini, dengan mengambil sistem yang rahmatan lil'alamin. Wallahu a'lam bishshawab.