Pusat Belanja Banjir Pengunjung, Paradoks Kebijakan Pencegahan Penularan



Oleh Tami Lestari


Sudah genap satu tahun pandemi ini berlangsung. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah juga sudah beragam dalam upaya menangani pencegahan penyebaran Covid-19 seperti diberlakukan social distancing, PSBB, work  from home, belajar dari rumah, hingga baru-baru ini yang sedang ramai adalah penyekatan dan larangan mudik lebaran 2021. 


Namun, ironisnya kebijakan-kebijakan tersebut hanya dianggap angin lalu oleh masyarakat Indonesia ini. Faktanya jelang Lebaran, Pasar Tanah Abang di Jakarta Pusat kembali di sesaki pengunjung pada Minggu, 3 Mei 2021. Rata-rata pengunjung datang untuk berburu baju baru jelang lebaran idul fitri 2021


Yuri menyebut, kerumunan pasar Tanah Abang yang sempat viral di sosial media membuat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran, dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurarachman melakukan pengecekan di pusat Perbelanjaan Pasar Tanah Abang..


Menteri Keuangan Sri Mulyani, punya cara jitu mendongkrak perekonomian yang lagi lesu karena pandemi. Eks Direktur Pelaksana Bank Dunia itu minta rakyat tetap neli baju saat lebaran  nanti, meski mudiknya tetap di larang. Hal itu disampaikan Sri Mulyani saat menyampaikan keterangan pers APBN kita, dalam kesempatan itu Sri Mulyani meminta masyarakat tetap menyambut lebaran dengan penuh suka cita. Jangan lupa, kata dia, kegatan belanja menjelang lebaran seperti membeli baju baru harus tetap berjalan. Tujuannya agar kegiatan tetap berjalan.


Fakta membludaknya kerumunan menjelang lebaran dan potensi penyebaran virus tidak bisa dikembalikan pada kesadaran individu rakyat. Tetapi pembuat kebijakanlah, yang harus tegas membuat kebijakan yang selaras yang dapat mengantisipasi penyebaran Covid-19 . Namun pada saat yang sama justru ada kebijakan pemerintah yang mendorong konsumsi dengan alasan perbaikan ekonomi, sungguh kebijakan yang penuh dengan ironi bahkan paradoks. 


Pembuatan kebijakan yang setengah hati bahkan tidak serius dari pemerintah yang menimbulkan tindakan-tindakan dalam upaya pencegahan Covid-19 ini pun sulit dikendalikan. Contohnya saja ketika adanya kebijakan penyekatan dan larangan mudik lebaran 2021 tetapi di sisi lain tempat wisata dan pusat perbelanjaan dibuka lebar bahkan sesak dan dipadati oleh penduduk. Bukankah terlihat sangat ironis kebijakan yang dibuat oleh negeri kapitalis ini?  kebijakan mencla-mencle dari pemerintah membuat pandemi ini berlarut-larut.  


Berbeda halnya dengan daulah Islam ketika mengatur umat di kala terjadi wabah atau pandemi.. Khususnya di masa Khalifah Umar bin Khattab terjadi wabah Tha’un. Kota Amwaz, yang terkena di isolasi. Namun wabah tidak berhenti, hingga akhirnya dua gubernurnya yaitu Abu Ubaidah dan Muadzbin Jabbal wafat karena wabah ini. kemudian kepemimpinan digantikan oleh Amr bin Ash dan kota itu diisolasi dan masyarakat diminta tinggal berpencar yang saat ini kita kenal social distancing hingga wabah berhenti. 


Selama masa isolasi semua kebutuhan mereka dipenuhi oleh masyarakat yang memiliki kelebihan. Dengan motivasi spritual masyarakat saling membantu. Bukan malah mengucilkan mereka karena ini bukan aib. Sebagai pemimpin saat itu mereka juga senantiasa mengajat umat berikhtiar langit dengan memperkokoh spiritual. 


Itulah potret bagaimana negara Islam mengatasi wabah, bukan hanya dengan pembuatan  kebijakannya yang tegas, tetapi umat dikuatkan secara materi saja tetapi juga memperkokoh spiritual. Dengan begitu rakyat akan memiliki kesadaran penuh harus taat terhadap protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Masyarakat saling membantu dan diiringi keimanan yang kokoh. Kita harus yakin bahwa hanya Islam yang mampu memberi solusi terbaik untuk persoalan kehidupan dunia termasuk ketika terjadi wabah atau pandemi. Karena Islam berasal dari Sang Pencipta dan Pengatur yang Maha Mengetahui. Islam telah mengatur dengan sempurna mulai dari persoalan individu, masyarakat bahkan negara, terbukti dengan Islam pernah menguasai 2/3 dunia selama 13 abad lamanya. 


Wallahu a’lam bi shshawab