Oleh Rahmi Ummu Atsilah


Bulan Juni berisikan euforia penerimaan raport untuk kenaikan kelas. Siswa dan para orang tua yang anaknya sedang menimba ilmu di bangku sekolah senantiasa menanti dengan harap-harap cemas.  Hasil prestasi tertuang pada raport dalam bentuk nilai, predikat  ataupun deskripsi. Berharap apa yang tertera di sana adalah nilai tinggi dan terbaik. 


Bagi  yang mendapatkan itu semua ada suka di relung hatinya, terukir pula lengkung senyum bahagia. Bagi yang belum mendapatkannya ada kecewa di dada, dan terikut juga tetesan air mata. Fenomena semacam ini menjadi warna dari momen penerimaan raport kenaikan kelas setiap tahunnya. Meski ada juga yang biasa-biasa saja menjalaninya.


Prestasi di atas adalah capaian nilai tinggi dengan predikat baik sekali dan deskripsi sangat baik. Kungkungan sistem kapitalisme saat ini telah membentuk pola pikir yang hanya berorientasi pada materi. Kesuksesan seseorang diukur  dari pencapaian materi dalam kehidupan. Materi meliputi deretan angka-angka, predikat dan deskripsi. Meliputi pula pendapatan harta dan tahta dalam jangka panjangnya. Tidak peduli lagi pada perkembangan pola pikir anak dan pola sikap anak.


Namun yang paling membanggakan sebenarnya adalah keberkahan yang didapat oleh anak-anak dan para orang tua atas apa yang telah mereka raih. Bukan semata goresan angka dan catatan tinta tetapi juga perubahan pola pikir dan perubahan sikap ke arah yang lebih baik. Itulah hakikat berkah yang sebenarnya.


Berkah menurut bahasa artinya nikmat (Kamus Al-Munawir, 1997:78). Istilah lain dalam bahasa Arab adalah Mubarak dan tabaruk. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179), berkah adalah “Karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”. Menurut istilah, berkah (barakah) artinya ziydatul khair, yakni “bertambahnya kebaikan” (Imam al-Ghazali, Ensiklopedia Tasawuf, hlm.79).


Para ulama juga menjelaskan makna berkah sebagai segala sesuatu yang banyak dan melimpah, mencakup berkah-berkah material dan spiritual, seperti  keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, anak, dan usia. (www.risalahislam.com).


Dalam syarah shahih Muslim karya Imam an-Nawawi disebutkan, berkah memiliki dua arti: _pertama_ tumbuh, berkembang, atau bertambah; _kedua_ kebaikan yang berkesinambungan. Menurut Imam an-Nawawi, asal makna berkah ialah “kebaikan yang banyak dan abadi".


Hal inilah yang semestinya menjadi harapan dan cita-cita setiap anak dan orang tua dalam menjalani kehidupannya. Keberkahan dalam setiap lininya. Termasuk dalam ilmu yang diperolehnya di bangku sekolah. Keberkahan ini yang akan mampu mengantarkannya kepada kebahagiaan yang sebenarnya yaitu meraih rida Allah Swt.


Keberkahan ini nampak ketika bersama bertambahnya usia dan pengetahuan anak , maka bertambah pula imannya. Rasa cintanya kepada Allah Swt dan Rasul-Nya semakin tinggi. Sehingga setiap jengkal perbuatannya akan selalu ia ikatkan dengan aturan yang Allah Swt. turunkan. Ia berusaha pula menajuhi setiap larangan-Nya.


Keberkahan ini nampak pula bila dengan bertambahnya usia dan pengetahuan, mereka semakin berbakti kepada orang tua, hormat kepada guru, dan memahami bahwa menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban, terlebih ilmu agama. Mempelajari ilmu agama wajib ‘ain hukumnya, sebagaimana wajibnya salat lima waktu. Hadis Rasulullah yang menyampaikan tentang wajibnya menuntut ilmu menjadi cambuk bagi mereka:


“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik ra. disahihkan  al-Albani dalamShahi al-Jaamai’ish Shagir no. 3913)


Paradigma berpikir semacam ini akan membuat anak akan terus belajar. Tanpa mengenal batasan ruang, tanpa ada labirin waktu. Mereka sangat mencintai ilmu beserta sumber ilmu yaitu guru dan sebagainya. Berlama-lama dengan sumber ilmu adalah kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Mengingat janji dari Allah Swt:


"….Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ….” (QS. Al-Mujadilah [58]:11)


Maka tidak heran bila kemudian lahir generasi-generasi gemilang yang mampu melakukan riset dan penelitian, menghasilkan berbagai penemuan. Jika mereka berkolaborasi dengan para mujtahid yang fakih dalam agama, akan mampu  menciptakan karya peradaban yang sangat kreatif dan monumental. Karya itu akan sangat termanfaatkan bagi generasi berikutnya.


Generasi ini telah lahir di masa keemasan Islam. Yaitu masa ketika ajaran Islam dilaksanakan secara sempurna dalam naungan khilafah Islamiyah. Islam bukan hanya menjadi agama spiritual semata akan tetapi juga mengatur politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. Demikian juga  dalam sistem pendidikan, sistem pendidikan Islam adalah sistem yang ideal untuk diterapkan. Karena bersumber dari Dzat yang menciptakan manusia. 


Terlebih keberkahan  ilmu akan  nampak ketika mereka sangat mencintai Islam dan menjadi penjaga Islam yang amanah. Mereka akan terus melakukan aktivitas amar makruf nahi mungkar, saling menasihati dalam kebenaran, tolong menolong dalam kebaikan, muhasabah kepada penguasa, serta mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia. Dengan demikian mereka tidak hanya berkutat dengan dunia pribadinya, akan tetapi berusaha memberi manfaat bagi sesama, yakni menyelamatkan mereka dari jurang kesesatan. 

Wallahu a'lam bisshawab

 
Top