Oleh Enung Sopiah

(Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah)


Penjajahan, perampokan, perampasan dan pencaplokan Israel atas rakyat dan tanah Palestina, yang dimulai pada awal tahun 1930-an, dimana gerakan zionis di Palestina mendapat persetujuan Inggris untuk memasukan imigran Yahudi ke Palestina secara besar-besaran. 

Dua sejarah penting yang menjadi pondasi perampokan tanah Palestina oleh Israel adalah, pertama peristiwa perjanjian sykes-picot tahun 1916 antara Inggris dan Perancis. Inggris dan Perancis membagi peninggalan kekhilafahan Turki Utsmani. 

Pada perjanjian tersebut bahwa, Perancis mendapatkan jajahan Suriah dan Libanon, sedangkan Inggris mendapatkan jajahan Irak dan Yordania, sementara itu Palestina dijadikan sebagai status wilayahnya sebagai wilayah international. 

Kedua, sejarah peristiwa Deklarasi Balfour tahun 1917. Perjanjian ini menjanjikan sebuah negara Yahudi di tanah Palestina pada gerakan zionisme. Di bawah payung legitimasi perjanjian sykes-picot dan Deklarasi Balfaour tersebut, warga Yahudi di Eropa mulai bermigrasi ke Palestina  pada tahun 1918, dan pada awal tahun 1930-an gerakan zionis di Palestina berhasil mendapat persetujuan pemerintah pretoktorat  Inggris untuk memasukan imigrasi Yahudi ke Palestina secara besar-besaran. 

Di sinilah awal dimulainya kebiadaban-kebiadaban Israel terhadap rakyat Palestina, dan pada 14 Mei 1948 para pemuka Yahudi mendeklarasikan pembentukan negara Israel. Selama 50 tahun terakhir Israel telah membangun pemukiman di daerah-daerah yang kini ditempati oleh lebih dari 600.000 warga Yahudi, dengan cara memaksa, mengusir warga Palestina untuk meninggalkan tanah dan rumah-rumah yang dihuni warga Palestina. (Republika.co.id)

Dilansir oleh tirto.id-54 tahun yang lalu pada 5 hingga 10 Juni 1967 pasukan militer Israel berhasil mencaplok wilayah Palestina yang tersisa antara lain, tepi barat, Yerussalem bagian timur, jalur Gaza, daratan tinggi golan di Suriah dan Semenanjung Sinai di Mesir. Pasukan zionis Israel dalam misinya untuk mewujudkan teritori negara Yahudi dengan mengusir paksa 750.000 orang Palestina dari tanah air mereka, sekaligus menghancurkan tempat tinggalnya. 

Penyerangan demi penyerangan terhadap rakyat Palestina terus dilakukan Israel demi merampas dan mengusir rakyat Palestina. Dunia pun mengecam terhadap kebiadaban Israel, tapi sayang pemimpin negeri-negeri Islam maupun barat hanya sekadar mengecam saja, tidak ada aksi-aksi yang nyata demi terlaksananya kemerdekaan rakyat Palestina. 

Dewan keamanan PBB, yang seharusnya bertugas untuk mendamaikan dunia, seharusnya menindak tegas Israel, tapi sangat lemah dalam menghadapi Israel, sebenarnya tidak mengherankan, karena di dalam tubuh PBB banyak pemimpin-pemimpin negara yang pro Israel bahkan membantu pembentukan negara Israel, terutama Amerika dan Inggris. Perundingan damai pun seringkali dilakukan oleh kedua belah pihak, tetapi Israel selalu melanggar perjanjian tersebut, akhirnya pembantaian pun terus dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina. Bahkan baru-baru ini pun terjadi lagi serangan demi serangan terhadap rakyat Palestina, berawal dari penyerangan di komplek Al-Aqsa, 8 Mei 2021, polisi Israel menghujani dengan tembakan warga Palestina yang sedang melakukan salat tarawih, semua itu buntut dari diusirnya warga Palestina dari Syeikh jarrah, oleh Israel, karena ingin menduduki dan merampasnya.

Dilansir oleh Viva.co.id-Menteri luar negeri Indonesia, Retno Marsudi, menegaskan pentingnya Palestina dan Israel kembali ke meja perundingan untuk mewujudkan perdamaian yang langgeng, menyusul pengumuman genjatan senjata di Gaza. Menlu menyampaikan pernyataan itu dalam pertemuan tertutup dengan sejumlah Menteri Luar Negeri dan Presiden Sidang Majelis Umum ke-75 Perserikatan Bangsa-Bangsa Volkan Bozkir di New York. Himbauan-himbauan kepada Israel dan Palestina untuk melakukan perundingan perdamaian adalah semu semata, karena di dalam setiap perundingan dan perjanjian damai, Israel selalu melanggarnya, tak satu pun dalam setiap perudingan perjanjian damai, Israel menepatinya, karena memang sifat bangsa Israel seperti itu. 

Allah Swt. berfirman, “Orang-orang kafir dari bani israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (QS. Al-Maidah: 78).

Jadi sangat tidak mungkin apabila melakukan perundingan perdamaian dengan Israel, karena Israel selalu mengkhianati perjanjian damai tersebut.

Solusi untuk kemerdekaan bangsa Palestina adalah dengan jihad, dan institusi negaralah yang berkewajiban mengirimkan pasukan militer untuk melawan dan mengusir zionis Israel dari tanah Palestina. Dengan  bersatunya seluruh kaum muslim di seluruh dunia, dan seorang khalifah yang akan memimpin seluruh kaum muslim tentunya dengan izin Allah azza wa jalla, akan bisa membebaskan kembali tanah Palestina dan  Al-Aqsa dari perampokan bangsa Israel laknatullah.

Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top