Pentingkah Sertifikasi bagi Da'i?


Oleh Zulhilda Nurwulan, S.Pd

(Relawan Opini Kendari)


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), da’i adalah orang yang kerjanya berdakwah atau orang yang menyebarluaskan ajaran agama. Secara harfiah kata dakwah berasal dari kata da’a, yad’u, da’watan yang artinya panggilan, seruan atau ajakan. Dengan demikian, definisi da’i adalah seseorang yang berdakwah untuk menyeru atau mengajak kepada orang lain agar bertakwa kepada Allah Swt. Dalam hal ini da’i adalah orang yang menyampaikan kebenaran Al-Qur’an. Sebagai seorang yang berilmu, da’i memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Fussilat ayat 33:


“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"


Di samping itu, Islam telah menetapkan syarat dan kriteria bagi seorang da’i di antaranya bertakwa kepada Allah Swt., berilmu, beramal dengan dakwah dan membawa hikmah. Syarat dan kriteria selaras dengan apa yang sudah termaktub dalam QS. Fussilat ayat 33 di atas. Dengan demikian, perlukah da’i memiliki kriteria yang lain?


Dilansir oleh Republika.co.id,  Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengatakan akan melakukan sertifikasi wawasan kebangsaan bagi para dai dan penceramah dalam rangka penguatan moderasi beragama. Hal ini disampaikan dalam Rapat Kerja Komisi VIII DPR pada Selasa (1/6/2021). Dalam kesempatan itu Yaqut menyampaikan dalam sertifikasi itu para da’i diberikan wawasan kebangsaan dan moderasi agama lalu kemudian diberikan sertifikat untuk menjadi modal atau syarat untuk bisa berceramah.


Pernyataan Menag Yaqut Cholil menimbulkan pertanyaan, apakah tanpa sertifikat wawasan kebangsaan maka para da’i tidak boleh berceramah?


Menanggapi hal ini, Ketua Umum Ikatan Da’i seluruh Indonesia (IKADI) KH. Ahmad Satori mengingatkan bahwa sertifikasi da’i harus dinilai bertujuan hanya karena Allah Swt. bukan karena syahwat-syahwat dari golongan tertentu dalam sertifikasi dai berwawasan kebangsaan. Menurutnya hadirnya sertifikasi da’i berwawasan kebangsaan pada hakikatnya bagus asalkan tujuannya adalah untuk meningkatkan kompetensi dai, dapat menjadikan rakyat Indonesia mengerti mengenai Islam dan bangsa, serta dapat memperkuat persatuan NKRI. Namun, Ia menyayangkan apabila tujuan dari sertifikasi tersebut hanyalah ‘titipan’ dari golongan-golongan tertentu.


Benar yang dikatakan oleh KH. Ahmad Satori, sejatinya tanpa tes wawasan kebangsaan sekalipun para da’i telah menjalankan tugas mereka sebagai wakil Allah Swt. di muka bumi untuk mengajarkan Islam kepada umat manusia. Dulu di zaman Rasul dan para sahabat dakwah menjadi urgensitas bagi umat muslim bahkan negara menjadi wadah bagi orang-orang yang ingin berdakwah dan mengajarkan Islam. Beriman kepada Allah Swt. menjadi syarat utama menjadi seorang da’i sehingga tidak perlu lagi ada syarat lain apatah lagi berkaitan dengan nafsu dunia. Lantas, mengapa harus ada sertifikasi da’i?


Sertifikasi Wawasan Kebangsaaan Rekatkan Moderasi Agama


Munculnya isu tentang sertifikasi wawasan kebangsaan bagi para da’i di nusantara perlu dikritisi. Sejak Indonesia merdeka tahun 1945 Islam memang menjadi sorotan bagi pemerintah terlebih bagi kelompok atau ormas islam. Pada zaman orde baru dakwah Islam adalah sesuatu yang langka. Mengkaji Islam seolah ancaman bagi pemerintah sehingga aktivitas dakwah pun kadang tidak terlaksana.


Moderasi agama adalah tonggak dari terciptanya rencana sertifikasi wawasan kebangsaan bagi para da’i. Melalui kegiatan ini para da’i diharapkan bisa berdakwah sesuai dengan aturan pemerintah sehingga bagi para da’i yang menyampaikan materi dakwah bertentangan dengan pemerintah maka jelas tidak akan diizinkan untuk berdakwah atau berceramah. Sebuah fenomena yang unik, sejatinya menyampaikan kebenaran adalah kewajiban. Berislam harus secara benar dan menyeluruh tidak boleh seperti sedang makan di warung prasmanan, ambil yang disuka tinggalkan yang tidak disuka. 


Moderasi agama identik dengan kebangsaan. Dalam konsep ini Islam harus menyesuaikan dengan keadaan kebangsaan. Padahal, Islam adalah sumber hukum yang tinggi sehingga adat istiadat maupun kebangsaan harusnya disesuaikan dengan Islam bukan sebaliknya.


Moderasi agama bukanlah proyek baru. Pengarusutamaan moderasi beragama sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Program ini diharapkan mampu menghadirkan wajah agama yang damai dan merekatkan antar pemeluk agama satu dengan yang lainnya. Khusus dalam Indonesia, moderasi beragama diperlukan sebagai strategi kebudayaan dalam merawat keindonesiaan. Indonesia disepakati bukan negara agama, tapi juga tidak memisahkan agama dari kehidupan warga negaranya. Dikutip dari buku Moderasi Beragama yang diterbitkan Kemenag, Indonesia adalah negara dengan keragaman etnis, suku, budaya, bahasa, dan agama yang nyaris tiada tandingannya di dunia. Berdasarkan hal tersebut sertifikasi wawasan kebangsaan bagi para da’i lahir agar materi dakwah yang hendak disampaikan bisa menyesuaikan moderasi beragama yang diwacanakan kemenag dan pemerintah. Dengan demikian, disimpulkan bahwa tujuan dari sertifikasi wawasan kebangsaan bagi para da’i yakni untuk merekatkan moderasi beragama. 


Ulama (Da’i) adalah Pewaris Nabi


Islam menempatkan ulama atau da’i pada kedudukan yang tinggi. Bahkan, ulama atau da’i dikatakan sebagai pewaris para nabi di muka bumi. Hal ini berdasarkan pendapat yang mengatakan ulama sebagai seorang yang berilmu sehingga memiliki derajat yang tinggi.


Rasulullah saw. bersabda, "Siapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena rida dengan apa yang mereka lakukan. Orang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi sampai ikan di air. 


Perumpaan orang yang berilmu di dalam Islam ditujukan bagi para ulama yang memahami ilmu Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada seluruh umat manusia. 


Dilansir oleh laman Mawdoo, dijelaskan bahwa salah satu ciri dan keutamaan terbesar dari para ulama adalah karena mereka ahli waris para nabi. Mereka tidak mewarisi uang atau barang darinya dari hal-hal duniawi, melainkan ilmu. Oleh karena itu, tidak memahami kenegaraan dan pemerintahan dengan baik bukanlah persyaratan utama seorang da’i bisa berdakwah menyampaikan kebenaran Islam karena seyogyanya syarat dan kriteria menjadi ulama ialah ketika ia memiliki pemahaman ilmu agama secara sempurna, agama yang berlandaskan Al-Qur’an dan syariat Islam. Wallahu a'lam bishshawab.