Pengendalian Covid Tidak Cukup Hanya Andalkan 3T



Oleh Anita Agustin, S.Pd


Sampai saat ini, kasus wabah Covid-19 tidak kunjung selesai. Sudah satu tahun lebih wabah penyakit ini berdiam diri di Indonesia. Pemerintah melakukan vaksinasi, larangan mudik, dan lain-lainnya, akan tetapi wabah Covid-19 semakin hari semakin bertambah jumlahnya di setiap daerah.

 

Walaupun saat ini pengendalian Covid-19 di berbagai daerah dinilai menerapkan 3T, yaitu Testing, Tracing, dan Treatment, akan tetapi pengendalian Covid-19 tidaklah cukup hanya mengandalkan 3T. Lonjakan kasus Covid-19 di berbagai daerah menegaskan gagalnya kebijakan pemerintah dalam penanganan wabah. 


Pemerintah terlihat setengah-setengah dalam mengatasi wabah Covid-19. 

Mengapa demikian, karena tidak sepenuhnya pemerintah fokus dalam penanganan wabah Covid-19. Terminal-terminal yang menghubungkan Indonesia dengan negara luar masih terbuka lebar. Warga asing masih bebas keluar masuk Indonesia dengan alasan ekonomi agar tetap jalan. Sedangkan rakyat Indonesia sendiri dilarang mudik, alasannya untuk menekan penyebaran Covid-19. Hal ini justru sangat terlihat aneh. 


Seharusnya kewajiban negara untuk membuatkan kebijakan yang berfokus menghentikan wabah dan memberi jaminan pemenuhan rakyat, bukan mengedepankan kelangsungan bisnis kaum kapitalis. Kalau sudah mengedepankan kelangsungan bisnis daripada keselamatan rakyat, maka wabah ini tidak akan menemui titik terang dalam penyelesaiannya. 


Lalu, seharusnya apa yang harus di lakukan? Pemerintah sebagai pelindung rakyatnya seharusnya fokus pada penanganan Covid-19 dengan menutup akses masuk Indonesia yang dapat membawa virus tersebut masuk ke Indonesia.


Lantas bagaimana menurut pandangan Islam? Di zaman Rasulullah saw. pernah terjadi wabah kusta yang menular dan dapat mematikan sebelum diketahui apa obatnya. Pada saat itu, Rasulullah saw. memerintahkan masyarakatnya untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami penyakit tersebut (dapat dimaknai social distancing). 

Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. bersabda yang artinya : “ Jangan kamu terus menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta. “ ( HR. Bukhari ). 


Rasulullah saw. juga pernah memperingatkan masyarakatnya untuk tidak masuk ke wilayah yang sedang terkena wabah penyakit, dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah, dilarang untuk ke luar dari tempat tersebut. Hal ini berarti Rasulullah pernah melakukan penutupan akses masuk wilayahnya bagi wilayah yang terkena wabah penyakit.


Rasulullah pernah melakukan lockdown atau penutupan akses masuk wilayahnya. Akan tetapi Rasulullah selalu memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Dari baitul maal, Rasulullah memenuhi kebutuhan rakyatnya, tanpa membedakan status ekonomi. Semua secara rata diperhatikan hingga tidak ada rakyatnya yang menderita akibat hal ini. 


Begitulah potret pemimpin dalam sistem Islam. Islam menjadikan pemimpin sebagai pelindung bagi rakyatnya.


Untuk itu, seharusnya kita tetap mendekatkan diri kepada Allah Swt. agar segala wabah penyakit yang menimpa wilayah ini segera di angkat oleh Allah Swt. Karena sesungguhnya hanya Allah Swt. yang berhak membolakbalikkan kehidupan, dan hanya kepada Allah Swt. kita meminta pertolongan.


 Semoga umat muslim di seluruh Indonesia, dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan senantiasa berada di jalan Allah, sehingga wabah penyakit yang saat ini melanda negeri dapat segera diangkat oleh Allah Swt.

Wallahu a'lam