Oleh Ayugi Herismarurroh

Mahasiswa Universitas Negeri Mataram (UIN) 


Pendidikan karakter berasal dari dua kata yaitu pendidikan dan karakter. Pendidikan menurut Islam ialah “segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya manusia yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya sesuai dengan norma Islam”. Sedangkan menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (sisdiknas), pendidikan adalah “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.


Karakter secara etimologi berasal dari bahasa latin character, yang berarti watak, tabiat, budi pekerti, kepribadian dan akhlak. Watak adalah sifat seseorang yang dapat dibentuk dan berubah walaupun mengandung unsur bawaan yang setiap orang berbeda-beda. Tabiat adalah sifat dalam diri manusia yang ada tanpa dikehendaki dan diupayakan. Budi pekerti adalah nilai-nilai perilaku manusia yang akan diukur menurut kebaikan dan keburukannya melalui norma agama, norma hukum, tata krama dan sopan santun, norma budaya dan adat istiadat masyarakat. Akhlak adalah aturan yang mengajarkan bagaimana seharusnya seseorang berhubungan dengan Tuhannya, sekaligus bagaimana seseorang harus berhubungan dengan manusia. Sedangkan secara terminologi (istilah), karater diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya yang tergantung pada faktor kehidupannya sendiri. 


Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Karakter merupakan nilai-nilai yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya serta adat istiadat. Pendidikan karakter menurut Ratna Megawangi yaitu “sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif pada lingkungannya.” Menurut Lickona, “pendidikan karakter mencakup tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good).” Sedangkan pendidikan karakter menurut AlQur’an lebih ditekankan pada membiasakan orang agar mempraktikkan dan mengamalkan nilai-nilai yang baik dan menjauhi nilai-nilai yang buruk dan ditujukan agar manusia mengetahui tentang cara hidup.


Ada beberapa proses dalam membentuk karakter baik agar pendidikan karakter yang diberikan dapat berjalan sesuai sasaran, yaitu:


 1) Menggunakan pemahaman. Pemahaman yang diberikan dapat dilakukan dengan cara menginformasikan tentang hakikat dan nilai-nilai kebaikan dari materi yang akan disampaikan. Proses pemahaman harus berjalan secara terus menerus agar penerima pesan dapat tertarik dan benarbenar telah yakin terhadap materi pendidikan karakter yang diberikan. 


2) Penggunaan pembiasaan. Pembiasaan berfungsi sebagai penguat terhadap objek atau materi yang telah masuk dalam hati penerima pesan. Proses pembiasaan menekankan pada pengalaman langsung dan berfungsi sebagai perekat antara tindakan karakter dan diri seseorang. 


3) Menggunakan keteladanan. Keteladanan merupakan pendukung terbentuknya karakter baik. Keteladanan dapat lebih diterima apabila dicontohkan dari orang terdekat. Guru menjadi contoh yang baik bagi murid-muridnya, kyai menjadi contoh yang baik bagi istri dan umatnya, atasan menjadi contoh yang baik bagi bawahannya.


Nilai-nilai pendidikan karakter, antara lain: 


1) Nilai religius, sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. 


2) Jujur, perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.


3) Toleransi, sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dengan dirinya. 


4) Disiplin, tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. 


5) Kerja keras, perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. 


6) Kreatif, berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. 


7) Mandiri, sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. 


8) Demokratis, cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. 


9) Rasa ingin tahu, sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, atau didengar. 


10) Semangat kebangsaan, cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. 


11) Menghargai prestasi, sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain. 


12) Bersahabat/komunikatif, tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. 


13) Cinta damai, sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. 


14) Peduli lingkungan, sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. 


15) Gemar membaca, kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebijakan bagi dirinya.


Secara etimologi (bahasa) akidah berasal dari kata ‘aqada-ya’qidu-‘aqdan, berarti simpul, ikatan perjanjian yang kokoh, setelah terbentuk menjadi ‘aqidah berarti keyakinan. Sedangkan secara terminologi (istilah) akidah terdapat beberapa definisi, antara lain: 


1) Menurut Salih, akidah ialah percaya kepada Allah Swt., para Malaikat, para Rasul, dan kepada hari akhir serta kepada qhada dan qadar yang baik ataupun yang buruk. 


2) Ibnu Taimiyyah sebagaimana dikutip dalam bukunya “Akidah al Washitiyah”, akidah adalah suatu perkara yang harus dibenarkan dalam hati, dengan jiwa menjadi tenang sehingga jiwa menjadi yakin serta mantap tidak dipengaruhi oleh keraguan. Kata akhlak berasal dari Bahasa Arab yaitu khuluk jamaknya akhlak yang artinya tingkah laku, perangai, tabiat watak, moral atau budi pekerti.


Sedangkan menurut istilah Ibnu Maskawaih dalam kitab Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq, sebagaimana dikutip oleh Abbudin Nata, mendefinisikan al-khuluk ialah keadaan jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa pemikiran dan pertimbangan dahulu. 


Mata pelajaran Akidah Akhlak merupakan suatu mata pelajaran yang harus direalisasikan dalam bentuk tingkah laku atau perbuatan yang harmonis pada siswa, sebab pelajaran Akidah Akhlak bukan hanya bersifat kognitif semata melainkan harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu guru dalam melaksanakan pengajaran Akidah Akhlak harus senantiasa memberi tauladan yang baik bagi siswa saat berada di lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah. Dengan demikian pengajaran Akidah Akhlak yang disampaikan oleh guru dapat diterima oleh siswa semaksimal mungkin, sehingga tujuan yang g telah diprogramkan dapat tercapai. 


Menurut Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No. 2 tahun 2008, tujuan mata pelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyyah yaitu: 


 1) Menumbuh kembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengalaman, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah Swt.


2) Mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia Dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai akidah Islam.


Adapun nilai-nilai karakter dalam pembelajaran Akidah Akhlak sebagai berikut:


1) Terhadap Tuhan: iman, takwa, syukur, ikhlas, sabar, taat dan taubat. 


2) Terhadap diri sendiri: berusaha keras untuk mencapai prestasi yang baik, jujur, disiplin, amanah, konsisten. 


3) Terhadap sesama: adil, jujur, tanggung jawab, santun, tolong menolong, tidak egois, tertib, patuh, peduli, setia, menghargai orang, dan toleran terhadap sesama. 


4) Terhadap lingkungan: tertib, patuh, menjaga lingkungan, dan disiplin. 


5) Terhadap kebangsaan: setia, peduli, menghargai keberagaman. 


Berdasarkan nilai-nilai karakter diatas, jelas bahwa tujuan pendidikan bukan hanya pada pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skill), akan tetapi juga pada keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Jadi di dalam pendidikan karakter dan Pendidikan Agama Islam mengandung nilai-nilai karakter baik yang berhubungan dengan Tuhan (hablum minallah), diri sendiri sesama manusia (hablum minan-nas), lingkungan (hablum minal ‘alam) dan kebangsaan.


Integrasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Integrasi pendidikan karakter adalah proses memadukan nilai-nilai karakter tetentu terhadap sebuah konsep lain sehingga menjadi suatu kesatuan yang koheren dan tidak bisa dipisahkan atau proses pembauran hingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan bulat. Integrasi pendidikan karakter dalam pembelajaran didasarkan bahwa setiap ilmu memiliki metodologinya sendiri, pemanfaatan metodologi ilmiah (ilmu pengetahuan) bisa saling diintegrasikan dengan metodologi yang lain, misalnya ilmu agama, ilmu sosial, ilmu sains dan seni. Guru harus menyadari bahwa dirinya merupakan contoh bagi peserta didik. Agar peserta didik memiliki kejujuran, guru tidak boleh mengajarkan atau memberikan contoh kebohongan. Guru tidak boleh melakukan pelanggaran hukum apabila guru tersebut menginginkan peserta didiknya menghormati hukum. Hal tersebut menunjukkan bahwa karakter peserta didik sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh karakter guru, terutama di dalam proses pembelajaran, karena di dalamnya terjadi proses interaksi.


Pendidikan karakter bukan hanya sekadar mengamalkan nilai-nilai kepada peserta didik, akan tetapi pendidikan karakter juga harus mampu menginternalisasikan nilai-nilai agar tertanam dan berfungsi sebagai muatan hati nurani sehingga mampu membangkitkan penghayatan tentang nilai-nilai, dan bahkan sampai pada pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai inilah yang selanjutnya menyusun ketahanan mental dan moral, khususnya jika terjadi pertemuan antar nilai yang berbenturan. Nilai yang paling dominan yang diintegrasikan pada setiap mata pelajaran adalah nilai etika, kejujuran, toleransi, disiplin, menghormati yang lebih tua, persoalan akhlakul karimah.


Bidang studi agama memiliki karakteristik tertentu, yaitu membangun keyakinan (akidah), aturan (syari’ah), dan moral (akhlak), sehingga bidang agama erat kaitannya dengan nilai-nilai moral yang saling berhubungan dengan akidah, syari’ah, dan akhlak yang menjadi pilar-pilar agama bahkan menjadi satu kesatuan, integatif, dan interkonektif. Aplikasi di dalam kehidupan sehari-hari dari apa yang diperbuat manusia tidak luput dari masalah agama.

 
Top