Oleh Annis Miskiyyah
(Member AMK dan Pemerhati Generasi)

"Kamu melihat orang-orang mukmin di dalam saling berkasih sayang, mencintai, dan bersimpatinya seperti tubuh. Jika (sebagian) anggotanya sakit, maka sebagian tubuh lainnya akan tertatih-tatih (ikut merasakannya) sebab tidak bisa tidur dan demam." (HR. Muslim)

Sabda Rasulullah saw. tersebut di atas, sangat tepat menggambarkan ikatan akidah yang terjalin antar sesama muslim. Ketika Palestina mengalami derita karena serangan Israel, maka muslim dunia tergerak untuk membantu. Seperti yang dilakukan kaum muslimin di Garut.

Dikutip dari garutexpress.id pada hari Kamis (20/5), kaum muslimin dari berbagai elemen umat Islam se-Kabupaten Garut melakukan aksi solidaritas membela Palestina di Lapang Otista Alun-alun Garut Kota.

Palestina merupakan negeri Islam yang senantiasa menjadi wilayah membara. Sejak pendudukan Israel tahun 1948 M hingga kini, wilayah Palestina semakin menyusut pada peta dunia.

Teror dari tentara Israel dan Yalahudi ke rumah-rumah muslim Palestina terjadi ketika okupasi. Seperti yang berlaku di Syekh al-Jarrah dan Tepi Barat. Banyak penduduk Palestina terusir dari rumah dan wilayahnya, diduduki para penjajah.

Bukan hanya itu, agresi militer Israel berulang terjadi. Rudal-rudal diluncurkan dari jet-jet tempur, menghancurkan rumah dan memakan korban sipil yang kebanyakan wanita dan anak-anak. Serangan 11 hari di akhir bulan Ramadan hingga tercapai gencatan senjata pada 21 Mei 2021, memakan korban 260 warga Palestina termasuk 66 anak-anak. (RMOL). Sedangkan laporan Al Jazeera, pada Kamis malam (17/6) Israel kembali menyerang dengan jet tempur ke barat laut Kota Gaza dan Beit Lahia. (beritaislam.org, 18/6/2021)

Jelas, Israel tetap melakukan penjajahan, meskipun berganti PM dari Netanyahu ke Bennet. Karakteristik suka ingkar janji juga melekat pada mereka, meskipun telah menyepakati gencatan senjata. Bahkan mereka berani mengolok-olok kaum muslimin dan Islam. Apalagi negara adidaya Amerika ada di belakang Israel.

Sementara pemimpin-pemimpin negeri Islam sekitar Palestina tak mau berbuat lebih selain kutukan dan solusi dua negara, sesuai arahan adidaya. Begitupun negeri-negeri Islam yang tergabung dengan Organisasi Konferensi Islam (OKI). Karena sekat-sekat negara bangsa telah memecah-belah persatuan dan kesatuan wilayah Islam. Terasa sulit untuk dapat mengirimkan bantuan militer demi bantu saudaranya yang terjajah.

PBB tidak jauh berbeda, tak berdaya oleh hak veto anggotanya sendiri. Taringnya langsung tumpul bahkan tak bergigi sama sekali menghadapi agresor kecil yang ditanamkan adidaya di Timur Tengah sana.

Wajar jika mayoritas Muslim dunia tergerak melakukan berbagai aksi solidaritas hingga penggalangan dana. Itulah batas yang mampu dilakukan individu yang tidak punya kekuasaan dan kekuatan militer. Namun, ternyata belum cukup membuat Israel gentar dan menyurutkan serangan apalagi hengkang dari bumi para Nabi.

Sudah lebih dari 70 tahun penjajah Israel menduduki Palestina. Bahkan sejak runtuhnya khilafah Turki Utsmaniyah yang terakhir, pada 3 Maret 1924, Palestina langsung menjadi santapan empuk penjajah Zionis. Palestina tidak lagi memiliki perisai dan pelindung lagi. Tanahnya mulai dijarah dan diokupasi. Padahal, ketika masih ada khilafah Islam, Khalifah Abdul Hamid II tak memberi sejengkal tanah wakaf kaum muslim itu kepada Zionis, meski mau disewa dan dibayar mahal oleh mereka.

Pada masa khilafah inilah, Palestina bahkan mencapai kemajuan ekonomi dan pembangunan yang luar biasa. Meskipun tidak semua muslim jadi warganya. Namun hidup berdampingan diatur oleh aturan Islam kafah.

Sebelumnya, Palestina sempat terusik oleh Perang Salib yang berlangsung lama. Namun, kembali damai ketika Islam dan kaum muslim berhasil membebaskannya dengan jihad dan khilafah.

Kini Palestina membara, seruan kembali terdengar. Muslim dunia kembali dipanggil untuk membebaskan mereka dari penjajahan Israel. Inilah yang harusnya dilakukan seluruh muslim dunia. Umat Islam harus bersungguh-sungguh menyeru semua kalangan terutama ahlul quwwah yang terdiri dari pemilik kekuatan dan kekuasaan untuk segera menerapkan sistem Islam kafah dalam naungan khilafah. Kemudian berjihad membebaskan Palestina.

Demikianlah derita Palestina masih terus terjadi hingga hari ini. Tidak ada satu pun pasukan militer dari negeri Muslim yang dikirim untuk membebaskan mereka dari penjajahan Israel.

Semua akibat dari sistem kapitalis sekuler yang diterapkan dunia hari ini. Islam dijauhkan dari kehidupan dan negara. Ajaran jihad dan khilafah dikriminalisasi hingga dihapuskan. Padahal kedua ajaran Islam inilah yang dibutuhkan untuk membebaskan Palestina.

Selain itu, nasionalisme turunan kapitalisme ini juga turut andil menambah derita muslim yang tak berkesudahan. Oleh karena itu, kaum muslim harus segera mencampakkan kapitalisme sekuler dan turunannya. Kembali bersatu dan beralih memperjuangkan Islam kafah dalam naungan khilafah. Kembali membebaskan Palestina dengan Jihad di bawah komando seorang khalifah. Sebagaimana yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab ra. dan juga Shalahuddin al-Ayubi.

Wallahu a'lam bishshawab

 
Top