Nikah Muda sama dengan Nafsu?


Annisah R. Sitompul

(Pengemban Dakwah) 


Polemik rumah tangga memang hal yang sangat rumit dan sensitif. Harus dijaga kerahasiaannya agar pihak-pihak lain tidak ikut intervensi dengan rumah tangga. 


Akhir-akhir ini kasus perceraian akibat menikah muda menjadi sorotan media dan publik. Terlebih pernikahan yang didasari dengan ta'aruf yang sesuai dengan syariat Islam. 


Opini yang beredar pun dibuat seolah menjatuhkan marwah syariat Islam. Seolah-olah syariat Islam tidak mampu memberikan kebahagiaan. Padahal faktanya bukan seperti itu. 


Menikah muda bukan untuk ditakuti, tetapi dipersiapkan. 


Untuk menikah di usia muda butuh persiapan. Di usia yang lebih tua pun butuh persiapan. Persiapan ilmu yang utama (bagi wanita dan laki-laki), lalu kemampuan memberikan nafkah bagi laki-laki, kemampuan me-riayah bagi laki-laki, kesiapan untuk taat kepada suami (bagi wanita), dan masih banyak lagi.


Menikah butuh persiapan, baik di usia muda maupun tua. Persiapan utama adalah ilmu. Selain itu, persiapan yang lain bagi laki-laki, seperti memberi nafkah dan meri'ayah. Bagi perempuan, kesiapan taat pada suami. Dan masih banyak lainnya.


Sumber ilmu begitu banyak. Buku yang berkaitan dengan mempersiapkan rumah tangga bertebaran dimana-mana. Salah satunya buku, "Tuntunan Kehidupan Suami Istr" karya Syaikh Yusuf A. Ba'darani.


Menikah di usia muda apakah sama dengan nafsu? 


Pada dasarnya sudah menjadi fitrah, bahwa manusia memiliki gharizah nau (naluri untuk berkasih sayang). Allah sudah menjadikan naluri ini ada pada diri manusia. Hal ini juga untuk kelangsungan kehidupan manusia di bumi. 


Naluri ini menggebu-gebu ketika usia produktif (awal mula usia baligh), belasan hingga dua puluhan tahun. Biasa disebut usia puber. 


Namun, kita dapati bahwa ideologi kapitalis-sekuler yang berkembang saat ini di masyarakat, membuat masyarakat berpikir, bahwa menikah haruslah memiliki setidaknya gaji tetap. Terutama bagi laki-laki dan persiapan dana untuk resepsi yang tidak sedikit. Padahal dalam Islam, menikah itu dimudahkan dan di bawah negara (khilafah) para pemuda dan pemudi difasilitasi dalam pernikahannya. 


Hal ini terjadi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ketika itu dana di baitul mal begitu melimpah sehingga tidak dijumpai orang miskin  yang berhak menerima zakat. Bahkan orang yang terlilit hutang pun dilunasi hutangnya oleh khalifah dari dana baitul mal. Tidak hanya itu, khalifah juga menikahkan para lajang yang ingin menikah dan membayarkan maharnya. Begitulah negara yang betul-betul menerapkan aturan Allah di muka bumi ini. Berbeda dengan zaman sekarang yang menerapkan aturan buatan manusia yang tentu banyak cacatnya. 


Islam tidak melarang menikah muda, yang dilarang adalah berzina. Islam menjembatani naluri manusia dengan cara yang lebih manusiawi. Memerintahkan manusia untuk menyalurkan gharizah nau-nya melalui ikatan pernikahan yang suci. Melalui jalan dan cara yang telah ditentukan. Agar manusia tidak binasa dan lebih terjaga. 


Syariat ini begitu agung dan sakral. Di dalam pernikahan pun dijelaskan hak dan kewajiban masing-masing pihak, yaitu suami dan istri. 


Kesalahannya terletak pada saat suami istri atau salah satunya tidak memahami hal dan kewajiban mereka masing-masing akibat kurangnya ilmu. Maka terjadilah hal yang dibenci oleh Allah, yaitu perceraian. 


Seorang istri diwajibkan taat kepada suami selama ketaatan itu tidak melanggar aturan Allah. Sebagaimana hadis Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:


 إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ “


"Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (menjaga kehormatannya), dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya.” (HR. Ibnu Hibban) 


Begitu mudahnya jalan ke surga bagi seorang istri, jika ia menghendakinya. Namun mayoritas istri berada di neraka. Akibat apa? Akibat dari tidak taatnya kepada suaminya. Sebagaimana hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:


وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ


“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari itu. Aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Ditanyakan kepada beliau, “Mengapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya lagi, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, 'Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menggambarkan seorang istri yang melupakan kebaikan suami. Seolah-olah tidak ada kebaikan sedikit pun pada diri suami. Inilah yang harus dihindari oleh para istri sampai ia meninggal dan agar ia mendapat rida suaminya. Karena jika suami rida terhadap dirinya, maka surga adalah balasannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ


“Wanita mana saja yang meninggal dunia, kemudian suaminya merasa rida terhadapnya, maka ia akan masuk surga”.

(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah) 


Dan hendaklah seorang istri memiliki sifat qana'ah (merasa cukup) agar tidak memberatkan suami jika rezekinya sempit, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,


قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ


”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,


كن ورعًا تكن أعبد الناس، وكن قنعًا تكن أشكر الناس


“Jadilah seorang yang wara’, niscaya engkau menjadi manusia yang paling baik dalam beribadah. Dan jadilah seorang yang qana’ah, niscaya engkau menjadi manusia yang paling bersyukur” (Shahih. HR. Ibnu Majah).


Jadi, menjadi istri itu enak dan nikmat karena mudah untuk menggapai surga, jika taat kepada suami. Lalu bagaimana dengan suami? Apakah suami adalah seorang tuan terhadap istrinya yang bebas memperlakukan istrinya sebagaimana dia suka? 


Dalam Islam, laki-laki adalah seorang pemimpin dalam keluarganya dan seorang periayah (pemelihara) terhadap istri dan anak-anaknya. Seorang suami pun memiliki kewajiban terhadap istrinya. Seperti firman Allah Swt. 


 ۚ وَعَا شِرُوْهُنَّ بِا لْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِ نْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـئًـا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا


"Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya" (QS. An-Nisa 4: Ayat 19)


Ibnu Katsir rahimahullah berkata terkait surat An-Nisa ayat 19, "berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kepada istri kalian. Berbuat baiklah sebagaimana engkau suka jika istrimu bertingkah laku demikian (tafsir Al-Qur'an Al Azhim). 


Bahkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:


«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى»


“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluargaku”.

(HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban) 


Berbuat yang makruf adalah hal yang sifatnya umum, termasuk didalamnya hak-hak istri. Dalam hadis yang shahih, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ditanya tentang hak seorang istri atas suaminya, beliau bersabda:


“Hendaknya dia memberi (nafkah untuk) makanan bagi istrinya sebagaimana yang dimakannya, memberi (nafkah untuk) pakaian baginya sebagaimana yang dipakainya, tidak memukul wajahnya, tidak mendokan keburukan baginya (mencelanya), dan tidak memboikotnya kecuali di dalam rumah (saja)”. (HR. Abu Dawud) 


Nafkah untuk istri adalah yang sesuai kebutuhan. Tidak berlebihan (sehingga boros) dan tidak juga kekurangan (sehingga pelit). Karena semua akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak (darimana harta diperoleh dan untuk apa dibelanjakan).


Selain itu, kewajiban seorang suami yang paling utama adalah memimpin diri dan seluruh anggota keluarganya, agar jangan sampai menjadi bahan bakar api neraka. Allah Ta’ala berfirman:


{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}


Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (QS at-Tahriim:6)


Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata: “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan syariat Islam kepada mereka, serta memaksa mereka untuk melaksanakan perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat dari siksaan neraka, kecuali jika dia benar-benar melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya”.


Maka, sebelum menikah sangat wajib bagi para wanita dan laki-laki untuk membekali diri dengan ilmu. Ilmu kerumahtanggan atau ilmu pernikahan yang sesuai dengan syariat Islam. Agar pernikahan itu benar-benar membawa sakinah (ketenangan/kebahagiaan) mawaddah (rasa cinta dalam keadaan senang dan susah) warohmah (kasih sayang dalam bersikap dan menunaikan hak kewajiban masing-masing suami istri) dalam kehidupan berumah tangga.


Wallahu a'lam bish showwab.