Negeri Mayoritas Muslim yang Diperebutkan


Oleh Liza khairina


Hampir setiap hari kita disuguhi peristiwa mala dan lara menyesakkan dada. Mulai kebijakan penguasa yang tidak menyentuh kalangan bawah, hingga nestapa sosial berdarah yang terus menghantui saudara, tetangga seakidah, sewilayah dan sesama hamba. Terkadang kita melewatkannya agar tidak menumpuk kesedihan kita. Kadang pula kita menyimak penuh untuk menghadirkan empati dan mengalirkan doa, sebagai bentuk tanggung jawab kita kepada sesama. Menarik nafas kemudian bergumam, "Allaaah ...."

Dalam hadis tentang cinta sesama muslim Rasulullah mewasiatkan, "Jika seorang muslim mendoakan saudaranya dari kejauhan, maka malaikat akan mengucapkan: "Aamiin, dan bagimu yang sepadan." (HR. Muslim).

Dalam hadis lain Rasulullah mengecam umat Islam yang tidak peduli nasib saudara muslimnya. "Barang siapa yang bangun pagi-pagi kemudian tidak terpikirkan urusan kaum muslimin, maka dia bukan bagian dari mereka (kaum muslimin)." (HR. Al-Hakim).

Betapa Islam menjunjung hak hubungan akidah dengan kewajiban peduli kepada urusan saudaranya. Jiwa besar yang ada dalam diri kaum muslimin adalah kejawantah keimanan yang Allah Swt. karuniakan kepada kita yang mengikat hati, lisan dan perbuatan dengan-Nya.

Potret Negeri Mayoritas Muslim Sedunia

Indonesia, negeri dengan segudang masalah: pajak menjadi pemasukan utama. Dekade ini makin mencekik dengan wacana sembako berpajak. Terikat pinjaman hutang berbunga kepada tuan penjajah Barat dan Timur menjadikan Indonesia tidak berdaulat. Indonesia dengan sumber daya alamnya melimpah, tapi rakyatnya menjadi kuli para penjarah. Indonesia mayoritas muslim tapi jauh dari kehidupan Islam. Indonesia nenek moyangnya pendekar yang disegani bangsa-bangsa, tapi generasinya halu pembebek drama dan budaya antah-barantah.

Indonesia, negeri dengan menjamurnya para penjarah. Lebih dari 76 UU yang bernuansa liberal telah dipaksakan oleh pihak kapitalis asing: UU Migas, UU Sumber Daya Alam, UU Perbankan, UU Kelistrikan dan sebagainya. Tentu akibatnya adalah, angka kemiskinan yang terus bertambah dan lebarnya kesenjangan ekonomi di kalangan rakyat bawah. Anehnya, kita masih bersikap biasa. Diam atas kebijakan penguasa dan menganggap tidak terjadi apa-apa.

Indonesia, negeri dengan angka kriminal yang terus meningkat. Pada tahun-tahun sebelumnya persentasenya 1 persen lebih, maka sejak masuk minggu pertama tahun 2021 naik hingga 5 persen. Ini membuktikan bahwa kita tidak kondusif keamanannya. Begal setiap hari mengisi berita. Tindakan asusila di lingkungan keluarga, sekolah dan tempat kerja. Beragam hilangnya nyawa sebab pembunuhan berantai, dendam tak terkira, serta kesengajaan-kesengajaan penghilangan nyawa terhadap orang tua, remaja dan anak-anak. Ini semua bukanlah drama tapi peristiwa nyata dalam kehidupan negeri Indonesia.

Indonesia, negeri dengan predikat paling toleransi sedunia, sampai-sampai ada upaya menghilangkan agama oleh para "pembela" negara. Indonesia sebagai pemasok jamaah haji terbesar di dunia, penguasanya tergiur sampai dananya dialokasikan untuk infrastruktur tanpa konfirmasi kepada para pemiliknya. Indonesia dengan tabiat buruk nyolongnya (korupsi milik rakyat) sampai tidak ada rasa malu oleh pelakunya, dan berjalan biasa saja layaknya punggawa. Bahkan TWK bagi para karyawan kantornya dengan bangga mendiskreditkan simbol dan ajaran Islam sebagai agama yang dipertentangkan dengan Pancasila.

Indonesia, negeri yang disebut-sebut sebagai bangsa beradab dan berbudaya. Tidak lebih para penguasanya telah memata-matai rakyatnya, kemudian membuat stempel buruk secara sepihak bagi siapa saja yang mencoba melawan arus, dengan bantuan media mainstreamnya. Bahkan, ketika semua tragedi yang mengiris naluri dan psikis ini mengitari kehidupan kita, sambutan para simpul umat terhadap proyek moderasi beragama benar-benar berwarna. Sebagiannya tanpa merasa dipaksa meninggalkan nafas beragama, berbangsa dan bernegara.

Ditambah dengan momok Covid-19 dengan segala kebijakan mengkhawatirkan dan tidak merakyatnya. Menambah deretan daftar kepiluan atas apa yang terjadi di negeri Indonesia Raya ini.

Ooouh, ini semua adalah gambaran bagaimana Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, juga kekayaan alamnya yang melimpah. Negeri yang telah mewujud hidangan empuk di mata para penjajah, baik penguasa Barat dengan sekularismenya maupun penguasa Timur dengan sosialismenya.

Hadis Rasul tentang umat Islam seperti hidangan yang siap disantap oleh siapapun, sepertinya hari ini telah kita saksikan. Terjadi di negeri mayoritas muslim yang tidak punya sengat sama sekali.

Rasulullah bersabda, "Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakanmu, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring." Seseorang berkata, "Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?" Beliau bersabda, "Bahkan kamu waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadapmu, serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn." Seseorang bertanya, "Apakah wahn itu?" Beliau menjawab, "Cinta dunia dan takut mati." (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Ini hadis menggambarkan bagaimana keadaan umat Islam akhir zaman ketika meninggalkan prinsip keimanannya. Tidak lagi punya pemimpin untuk menjaga agamanya, berada dalam ketakutan yang melampau batas sebab keterbatasan hidupnya. Islam hanya berada dalam pengetahuan tidak dalam aktualisasinya. Semua menjadi tersamarkan, dimana saudara seiman dan dimana musuh agamanya.

Tentu belum terlambat kita kembali bertaubat secara sistemik. Islam yang disampaikan Allah dalam Al-Qur'an sebagai kebenaran, sebagai petunjuk bagi manusia dan rahmat bagi seluruh alam adalah dihadirkan sebagai solusi bagi seluruh persoalan. Konsep keadilan, kesejahteraan, keamanan, kesehatan, kemuliaan dan semua sisi dari berlangsungnya kehidupan. Islam telah menganugerahkan apa pun kebaikan kepada siapa saja yang ingin mengambilnya.

Maka, tidak ada alasan untuk tidak mengambil Islam dalam sistem kehidupan. Karena Islam bukan hanya sekadar wacana, tapi konsep nyata yang sudah pernah diterima oleh dua pertiga penduduk dunia. 

Wallahu a'lam bishshawab.