Oleh Tsamratul Ilmi 

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah



Moderasi beragama terus diaruskan di berbagai lini: pendidikan, keluarga, ASN, termasuk ASN Kemenag dan yang lainnya. Menurut Sekjen Kemenag Nizar, seluruh ASN Kemenag yang tersebar di seluruh Indonesia harus melek moderasi beragama. Agar melek, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengadakan pelatihan penguatan moderasi beragama. Nizar menjelaskan kegiatan pelatihan penguatan moderasi beragama khususnya di kalangan ASN Kemenag ini akan digelar pada September-Desember 2021.(Kemenag.go.id)


Masih menurut Nizar, penguatan moderasi beragama merupakan prioritas pertama Kemenag di bawah kepemimpinan Menag Yaqut Cholil Qoumas. Saat ini Kemenag sedang menyusun modul pelatihan moderasi beragama bagi ASN, TNI/Polri, penyuluh agama, para pendidik guru dan dosen, serta stakeholder lainnya.


Pemerintah melalui Kemenag begitu serius hendak memastikan seluruh komunitas harus mendapatkan pelatihan penguatan moderasi beragama tanpa kecuali. Hal tersebut sejalan dengan upaya memoderasi pemahaman Islam di tengah kaum muslimin.


Berawal dari pandangan bahwa tidak sedikit masyarakat yang terpapar paham radikal atau ekstrem dalam beragama. Kasus kekerasan, intoleransi, aksi-aksi teror yang kerap terjadi seringkali dikaitkan dengan alasan karena pelaku bersikap ekstrem atau berlebihan dalam beragama. Oleh karena itu penting diaruskan Islam wasathiyah atau Islam moderat sebagai solusi untuk menyelesaikan permasalahan di atas.


Menurut penggagasnya, Islam moderat mengajarkan prinsip-prinsip Islam yang ramah dan  toleran, sehingga pemeluknya akan terhindar dari sikap intoleran dan ekstrem. Mereka memperkuat pendapatnya dengan menyandarkan pada al Qur'an surat al Baqarah ayat 143, yang artinya:


"... dan demikian pula kami telah menjadikan kalian umat Islam umat yang adil dan pilihan agar menjadi saksi atas perbuatan manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kalian."


"Umat yang adil dan pilihan" dijabarkan menurut mereka adalah umat yang bersikap pertengahan atau moderat dalam berbagai urusan termasuk dalam beragama, sebab adil itu berada di tengah-tengah, sehingga tidak berlebih-lebihan. 


Penting kita kritisi, jika yang dimaksud dengan sikap moderat adalah tidak fanatik terhadap ajaran agamanya (Islam), sebaliknya menerima sumber hukum ciptaan manusia seperti demokrasi, jelaslah sikap moderat seperti ini sangat tidak layak disandarkan pada al Qur'an. Terlebih lagi ketika menolak jihad, Islam kaffah, yang dituduhnya sebagai Islam radikal, padahal keduanya bersumber dari al Qur'an. 


Dari sini jelas Islam moderat murni bukan berasal dari pemikiran Islam dan tidak dikenal dalam Islam, tetapi sengaja disebarkan  Barat untuk mempengaruhi cara berpikir umat Islam, agar menentang ajaran agamanya sendiri, kemudian terbuka terhadap nilai-nilai Barat yang kufur. Dapat disimpulkan bahwa karakter Islam moderat tidak ada bedanya dengan karakter kaum liberal maupun sekular. Penggunaan ayat al Qur'an biar terkesan bahwa Islam moderat sejalan dengan Islam, sejatinya justru menjauhkan dari Islam yang sebenarnya.


Sayangnya gagasan Islam moderat ibarat racun berbalut madu, dipandang sebagai solusi untuk menciptakan kerukunan. Mengkompromikan Islam dengan nilai-nilai Barat seperti pluralisme dan toleransi yang kebablasan dinilai mampu menyelesaikan konflik di tengah masyarakat.  Mungkin mereka lupa bahwa konflik yang kerap muncul hanyalah akibat ketidakadilan. Rakyat semakin susah, tapi korupsi, pertambahan pajak semakin bikin gerah. Asing dan aseng digelar karpet merah, sedangkan rakyat ibarat sapi perah.


Racun Islam moderat perlu terus diungkap. Barat sangat memahami, jika umat Islam berpegang teguh kepada seluruh ajaran agamanya, itu artinya umat Islam menuju kebangkitannya. Hal ini sangat ditakuti Barat, sebab akan mengakhiri hegemoninya di negeri-negeri Islam. Maka dari itu Barat sangat getol menuduh kelompok yang menginginkan diterapkannya Islam kaffah sebagai kelompok radikal. Sebaliknya kepada yang mengadopsi Islam moderat mereka angkat dan dipuji-puji.


Barat sangat licik, Islam moderat digunakan sebagai alat memecah belah umat Islam. Muslim moderat selanjutnya dimanfaatkan Barat agar berada di pihaknya untuk kemudian menyerang muslim ideologis yang menyerukan kebangkitan Islam.


Barat merasa sulit untuk mengalahkan pemahaman Islam ideologis yang terus bergulir, makanya butuh memanfaatkan kelompok Islam moderat untuk memusuhi, mencurigai sesama saudaranya. Andaikan kesadaran itu datang atas anugerah Allah Swt. bahwa yang layak dijadikan musuh bersama adalah ideologi kapitalisme ataupun sosialisme bukan idelogi Islam, pastilah di hadapan mereka akan ada cahaya terang benderang, bahwa kerusakan, kemiskinan, keterpurukan hanyalah akibat meninggalkan penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Ekonomi ribawi jelas tidak akan membawa keberkahan, kehidupan sosial yang bebas hanya akan melemahkan, begitupun penerapan hukum bukan bersumber dari wahyu telah banyak melahirkan ketidakadilan.


Sebagai umat Islam yang diseru dengan keimanan, wajib menolak moderasi beragama, memahami kekeliruannya, kemudian menyampaikannya agar umat terlepas dari sihirnya. Takutlah akan peringatan Allah Swt., yang artinya: 


" Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta".(TQS An Nahl ayat 105)


Wallaahu a'lam bi ash-shawaab.

 
Top