Menghentikan Islamofobia


Oleh Dwi Indah Lestari, S.TP. 


Sejarah Islamofobia sudah berlangsung lama. Semenjak berakhirnya perang Salib, kebencian terhadap Islam seakan terus dipupuk dan menjangkiti benak generasi-generasi berikutnya. Media massa pun dijadikan sebagai alat untuk menyebarluaskan fitnah terhadap Islam dan pemeluknya. Hasilnya, korban jiwa berjatuhan tak terelakkan.

Islamofobia kembali menelan korban. Sebuah keluarga muslim yang tengah berjalan di trotoar di kota London, Ontario, Kanada, sengaja ditabrak oleh pemuda berusia 20 tahun dengan truk pick up berkecepatan tinggi. Akibatnya, 4 orang meninggal dunia dan seorang anak usia sembilan tahun dalam kondisi kritis. Kepolisian setempat menyebutkan, aksi tersebut telah direncanakan dan didorong oleh kebencian terhadap muslim. (kabar24.bisnis.com, 8 Juni 2021).

Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau dalam pernyataannya melalui twitter menyatakan dukungannya kepada komunitas muslim, tak lama setelah peristiwa tersebut terjadi. Lebih lanjut ia mengatakan mengecam kejadian itu dan bahwasanya Islamofobia tidak mendapat tempat serta harus segera dihentikan. (detiknews.com, 8 Juni 2021).

Islamofobia semacam ini tidak hanya terjadi seperti sekarang saja. Peristiwa-peristiwa serupa telah banyak terjadi di berbagai tempat lainnya. Kebencian terhadap muslim di belahan dunia Barat telah begitu akut hingga sering berujung pada tindak kekerasan. Seperti peristiwa perobekan dan penghinaan terhadap Al-Qur’an di Norwegia yang akhirnya rusuh.

Dibalik Islamofobia

Memang, sejak peristiwa 11 September 2001, yaitu peristiwa pengeboman WTC di New York, Amerika, dimulailah seruan untuk memerangi terorisme. Namun sejak itu pula, kaum muslim senantiasa menjadi pihak tertuduh. Islam dan pemeluknya dianggap sebagai biang masalah dan kekerasan, meski seringkali hanya prasangka buruk tanpa bukti. Tentu saja ini menjadi persoalan bagi kaum muslim sebab membuat kehidupan mereka selalu diwarnai ancaman.

Sebenarnya peristiwa-peristiwa Islamofobia bukan hanya sekadar respon terhadap tindak kekerasan yang dilakukan oleh muslim. Melainkan juga sebagai momen untuk menebarkan kebencian terhadap Islam dan pemeluknya. Di balik isu Islamofobia juga ada agenda terselubung dari Barat untuk menghalangi perjuangan Islam ideologis dan mencegah manusia memahami kemuliaan ajarannya.

Untuk itu, Islamofobia harus segera dihentikan. Namun upaya untuk menghentikan hal itu tidaklah cukup hanya dengan melempar kecaman. Juga tidak cukup dengan mengambil sikap defensif seraya menjelaskan ajaran Islam semata. Sebab semua upaya itu, faktanya tidak mampu menghentikan aksi kekerasan terhadap muslim karena Islamofobia.

Menghilangkan Islamofobia

Umat Islam harus menyadari propaganda busuk Barat di balik isu Islamofobia dan membongkar makar jahat mereka. Al-Qur’an sendiri telah mengabadikan permusuhan abadi orang-orang kafir terhadap Islam dan kaum muslimin.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti.” (TQS. Ali Imran [3]: 118).

Umat pun harus menyadari, bahwa penyelesaian terhadap Islamofobia hanya akan dapat direalisasikan bila syariat Islam diterapkan secara kafah. Hal ini juga pernah terjadi pada kehidupan umat Islam saat Rasulullah saw. masih ada. 

Saat dakwah masih berlangsung di Mekkah, kaum muslimin kerap menjadi sasaran cemoohan orang-orang kafir Arab jahiliyah. Mereka menuduh pengikut Rasulullah sebagai biang keladi yang menyebabkan perpecahan. Menyebabkan terpisahnya anak dari orang tuanya, suami dari istrinya, bahkan dengan kerabatnya. Bahkan kaum muslim kerap mendapatkan siksaan serta tak luput dari pemboikotan.

Namun sejak Daulah Islam di Madinah tegak, kaum muslimin akhirnya mendapatkan kedudukan yang mulia di tengah manusia. Kekuatan manapun tak lagi memandang remeh terhadap mereka. Meski fitnah keji terus dilontarkan orang-orang kafir, namun Allah dan Rasul-Nya selalu memberikan pembelaan pada orang-orang beriman.

Dalam buku Sirah Nabawiyah, karangan Al Mubarakfury diceritakan, Rasulullah saw. mengirim Abdullah bin Jahsy ke Nakhlah bersama 12 orang sahabat lainnya untuk memata-matai rombongan dagang Quraisy. Namun ternyata, terjadi insiden dimana para sahabat memutuskan untuk menghadapi kafilah dagang tersebut hingga kedua pihak terlibat pertempuran.

Akibat kejadian itu, menyebabkan kaum Quraisy memiliki kesempatan menyebarkan fitnah bahwa kaum muslim telah melanggar kesucian bulan haram, sebab dalam pertempuran tersebut jatuh korban jiwa dari orang-orang kafir. Hal itu sempat membuat kaum muslimin sedih dan kehilangan kepercayaan dirinya.

Namun kemudian Allah menurunkan pembelaan-Nya dengan turunnya wahyu. 

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, "Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar. Tetapi menghalangi (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) Masjidilharam, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah. Sedangkan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup. Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (TQS. Al Baqarah [2]: 217).

Ayat tersebut telah membungkam suara sumbang yang disebarluaskan orang-orang musyrik kepada kaum muslimin sekaligus menyingkap niat jahat yang tersimpan dalam hati mereka. Kaum muslim di Madinah dapat kembali mengangkat wajahnya dengan penuh percaya diri sebab mereka yakin berada di pihak yang benar. 

Dengan penerapan Islam secara praktis oleh sebuah institusi negara yaitu khilafah Islamiyah, yang akan mampu menepis segala tuduhan keji dan fitnah-fitnah terhadap Islam dan kaum muslimin. Sebab khilafahlah yang akan mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan hakiki di hadapan seluruh manusia di dunia. 

Pada saat itulah umat Islam akan terlindungi kehormatannya di mana pun mereka berada. Kaum kafir tidak akan berani seenaknya mempermainkan kaum muslim. Sebab khilafah akan selalu berada di garda terdepan sebagai junnah (perisai) kaum muslimin.

Ini pulalah yang pernah terjadi di masa kekhalifahan Al Mu’tashim Billah. Saat mendengar teriakan seorang budak muslimah yang meminta pertolongan karena dilecehkan kehormatannya oleh tentara Romawi, beliau segera meresponnya. Khalifah mempersiapkan pasukan yang besar untuk menyelamatkan muslimah tersebut. Hingga akhirnya kota Ammuria pun turut berhasil ditaklukkan.

Hanya dengan khilafah, Islamofobia dapat dihentikan. Islam dan kaum muslimin akan terjaga dan terlindungi kehormatannya dari siapapun. Bahkan kemuliaan cahaya Islam akan menerangi seluruh dunia dan menjadi rahmat bagi seluruh manusia dan alam semesta. Wallahu a'lam bishshawab.