Oleh Mariyah Zawawi



Setelah lulus kuliah, beberapa teman yang satu kontrakan dengan saya mulai bekerja. Ada yang menjadi guru SMK, guru TK, atau mengajar privat. Saya sendiri, waktu itu juga diterima mengajar di sebuah SMA di daerah Perak, dekat pelabuhan Tanjung Perak. 


Meskipun telah bekerja, semangat teman-teman untuk belajar Islam tidak hilang. Salah satunya adalah belajar bahasa Arab. Karena itu, teman-teman pun mengikuti kursus bahasa Arab. Bahkan, ada pula yang mengikuti kuliah bahasa Arab di LPBA di kompleks makam Sunan Ampel, salah satu wali songo yang ada di Surabaya. Ada yang mengambil D1, ada pula yang D2. 


Saya sendiri memilih untuk mengikuti kursus. Maklum, dana yang saya miliki terbatas. Bersama dengan beberapa teman, kami kursus di Ma'had al-Manaar. Ma'had ini diasuh oleh seorang ustadz keturunan Arab. Namanya Ustadz Abdullah Salim Barmim. Ma'had ini juga terletak di daerah Ampel, dekat dengan kompleks makam Sunan Ampel. Kami belajar bahasa Arab seminggu dua kali. Satu kali pertemuan sekitar 90 menit. 


Di samping itu, saya juga belajar tahsin dan tahfidz Al-Qu'ran di rumah seorang hafidzah. Namanya Ustadzah Halimah. Rumahnya juga di daerah Ampel. Hanya berbeda gang dengan rumah Ustadz Barmim. Beliau istri Ustadz Dzulhilmi yang menjadi pengajar di LPBA. Tiap hari Rabu, saya ke sana. Maka, dalam satu minggu, saya harus ke Ampel tiga kali. Yaitu, hari Selasa, Rabu, dan Kamis.


Rumah kontrakan yang kami tempati berada di daerah Ketintang, dekat dengan kampus IKIP Surabaya (sekarang UNESA). Maklumlah, kami adalah alumni dari sana. Ketintang sendiri berada di Surabaya bagian selatan. Sedangkan daerah Ampel terletak di Surabaya bagian utara. 


Biasanya, saya naik lyn D saat berangkat ke Ampel. Dari rumah kontrakan, saya berjalan kaki ke RSI Khadijah (sekarang RSI Surabaya) sekitar 15 menit. Dari RSI, saya naik lyn D hingga Ampel. Hanya satu kali naik lyn. Ongkosnya Rp600. Kalau naik bis kota lebih murah, hanya Rp300. Tapi, kalau naik bis kota hanya bisa sampai di terminal Jembatan Merah. Setelah itu harus berjalan kaki sekitar 15 menit. Sedangkan kalau naik lyn bisa turun di depan gang. Jadi tinggal berjalan beberapa ratus meter saja. 


Jika membawa kendaraan sendiri, bisa ditempuh dalam waktu setengah jam.  Namun, karena rute yang  dilewati tidak terlalu ramai, waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama. Sekitar satu jam. Itu karena lyn berjalan pelan. Maklumlah, sopirnya harus tengok kiri kanan untuk mencari penumpang. Tidak jarang, lyn berhenti lama di depan pasar yang dilewati untuk menunggu penumpang.


Meski demikian, saya tetap bersemangat melakukannya. Sebab, keinginan saya untuk paham bahasa Arab dan tahsin, hanya bisa saya wujudkan jika saya datang ke sana. Jadi, mau tidak mau, saya harus mendatanginya. 


Ada kisah yang menarik terkait keharusan mendatangi ilmu ini. Syekh Abdul Aziz Asy-Syinawi, penulis buku Biografi Empat Imam Mazhab menuliskan kisah Imam Malik dengan Khalifah Harun ar-Rasyid. Saat itu, Khalifah Harun ar-Rasyid yang tinggal di Baghdad, mengutus Yahya bin Khalid al-Barmaki, wazirnya, untuk menemui Imam Malik di Madinah. Al-Barmaki menyampaikan pesan dari Khalifah Harun ar-Rasyid agar Imam Malik membacakan kitab al-Muwaththa' di istananya. Mendengar permintaan khalifah itu, Imam Malik berkata,


"Katakanlah kepada Amirul Mukminin, sesungguhnya orang yang mencari ilmu harus mendatangi ilmu, bukan ilmu yang mendatanginya."


Maka, Al-Barmaki pun kembali ke Baghdad tanpa membawa hasil. 


Suatu ketika, Khalifah Harun ar-Rasyid melakukan ibadah haji. Setelah itu, ia  mengunjungi Madinah untuk menemui Imam Malik. Saat di Madinah, Khalifah Harun ar-Rasyid sekali lagi meminta kepada Imam Malik untuk menemuinya dan membacakan kitabnya. Kali ini, dengan berat hati, beliau menuruti keinginan sang khalifah. Meski demikian, ia tetap mengingatkan Khalifah Harun ar-Rasyid tentang hal ini. Beliau berkata,


“Saya berharap, Amirul Mukminin bukan orang pertama yang tidak menghormati ilmu. Sungguh, saya tidak bermaksud menolak permintaan Amirul Mukminin. Saya hanya meminta Amirul Mukminin menghargai ilmu agar Allah pun menghargai Amirul Mukminin.”


Mendengar ucapan Imam Malik, Khalifah Harun ar-Rasyid kemudian bersedia untuk datang ke tempat Imam Malik biasa mengajarkan ilmunya. Khalifah Harun ar-Rasyid pun mengkaji kitab al-Muwaththa' bersama dengan murid-murid Imam Malik lainnya. Kisah yang sangat menarik, bukan?



Pic source: https://mirzavide.wordpress.com

 
Top