Mendamba Kepemimpinan Islam


Oleh Oktavia Tri Sanggala Dewi, S.S., M.Pd

(Aktivis Dakwah Islam, Jambi)


Pemilihan  Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jambi rupanya masih akan menyedot perhatian publik, karena Ketua Bawaslu Jambi mengatakan pihaknya masih menemukan beberapa masalah di lapangan terkait pelaksanaan PSU (Pemilihan Suara Ulang) untuk Pilgub Jambi. Sebelumnya, pelaksanaan PSU ini merupakan kelanjutan dari keputusan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) pada 23 Maret 2021.


Hal ini menindaklanjuti permohonan gugatan tim sukses pasangan calon (paslon) Cek Endra dan Ratu Munawaroh, terkait pelanggaran dalam pemilu sebelumnya berupa adanya pemilih yang tidak berhak atau tidak memiliki KTP elektronik (KTP-el) atau belum melakukan rekam data KTP-el lalu dapat memilih. (Kompas.com, 28/5/2021).


Umumnya, pemilu tidak berhenti hanya pada arena pertarungan dan dukungan. Terdapat fenomena lain, yaitu krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemilu sebagai problem solver. Selain perkara teknis seperti data pemilih yang tak valid, juga adanya kesimpulan bahwa siapapun yang terpilih, tak berkorelasi positif terhadap perbaikan nasib rakyat. Nyatanya, jumlah kemiskinan justru bertambah. 


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi, Maret 2020 jumlah penduduk miskin di Provinsi Jambi mencapai 277,80 ribu orang atau 7,58 persen. Dibandingkan dengan September 2019, jumlah penduduk miskin bertambah sebanyak 4,4 ribu orang dari 273,37 ribu orang atau 7,51 persen.


Ketidakpercayaan publik terhadap kebijakan penguasa tidak semata-mata disebabkan kinerja pelaksana kebijakan rezim. Demokrasi yang selalu bergandengan dengan sistem predator kapitalisme sukses melahirkan “karya” berupa kesenjangan ekonomi, politik dan kebijakan yang menguntungkan kapitalis lokal maupun global, serta sistem hukum yang lemah dan tumpul sehingga memunculkan berbagai cabang masalah baru seperti korupsi, kriminalitas dan sebagainya. Pada akhirnya menstimulus sikap apatis atau kritis publik.


Islam dan demokrasi adalah dua kutub  berbeda, pun demikian dalam memandang perilaku politik. Jika dalam demokrasi kecerdasan pemilih diukur  atas pertimbangan program kerja dan kinerja, maka berbeda dengan Islam, akidah menjadi hal mendasar dalam  menentukan kelayakan seseorang dipilih menjadi pemimpin. Apakah kinerja tidak menjadi pertimbangan? Tentu tidak, justru kinerja prima dan bertanggung jawab akan mengekor pada pemimpin dengan latar belakang akidah dan ketakwaan Islam yang kokoh.


Ketakwaan pada Allah akan melahirkan pemimpin yang memiliki rasa takut melanggar perintah-Nya. Sehingga akan menjauhkan diri dari korupsi, memperjualbelikan kebutuhan vital masyarakat seperti listrik dan air, membiarkan SDA dieksploitasi oleh asing, serta berbagai kebijakan melanggar syariat lainnya. Pemimpin bertakwa akan menyadari posisinya sebagai pengurus rakyat, dalam hadis riwayat Muslim dan Ahmad disebutkan, “Imam adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya”. 


Pemimpin akan bekerja keras dan amanah sebab ia sadar apa yang akan dilakukan pasti akan dipertanggungjawabkan di peradilan akhirat. Inilah yang dimaksud idrok silabillah, sebuah keyakinan yang tidak ada dalam konsep demokrasi. Yang tak kalah penting, menjadi orang baik (ketakwaan individu) saja tidak cukup, begitu banyak pemimpin baik, ujung-ujungnya tersandung kasus.


Fakta semacam ini terpampang nyata dalam sistem demokrasi. Sistem yang rusak bekerja seperti mesin penghancur, sebaik apa pun penguasa atau pejabat akhirnya akan rusak juga. Berbeda dengan sistem Islam, dimana syariat Islam (sistem ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan, sanksi, dan hukum) terintegrasi dengan apik lalu diterapkan secara kafah, maka akan mewujudkan pemimpin dan masyarakat dengan peradaban tertinggi.


Dalam bukunya Story of Civilization, Will Durant pakar sejarah nonmuslim secara jujur mengungkap, “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para khalifah itu pun telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa.