Maraknya Incest karena Kesalahan Sistem


Oleh Nur Ilmi Hidayah

Pemerhati Masalah Remaja, Praktisi Pendidikan


Tindakan perkosaan atau kejahatan seksual ini secara umum dialami oleh perempuan yang masih anak-anak atau remaja yang mana pada umumnya, pelaku dan juga korban berasal dari stratifikasi sosial yang rendah. Kekerasan seksual ini dapat terjadi karena faktor lingkungan dan juga latar belakang psikis dari si pelaku di masa lalu sebagai bentuk ketidaksiapan mentalnya, yang kemudian mempengaruhi perilaku pelaku yang kemudian melakukan kekerasan seksual yang terjadi secara spontan karena adanya rangsangan.

Pada saat ini, hal yang paling menyedihkan terjadi yakni perkosaan oleh orang terdekat si korban, yang masih memiliki hubungan darah dengan korban yang seharusnya menjadi pelindung dan pembimbing korban. Banyak sekali kasus yang terjadi antara perkosaan ayah dan anak yang masih di bawah umur, kakak dan adik, bahkan antara ibu dan anak kandungnya sendiri.

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan terjadinya incest.  Pertama faktor Eksternal berupa lingkungan yang cenderung apatis dan kurang menaruh empati dan simpati kepada seseorang, menyebabkan seseorang merasa Iebih akrab dan bisa diterima oleh saudaranya sendiri, daripada orang lain.

Kedua, faktor Internal yang antara lain tingginya libido seseorang, sementara tidak ada tempat pelampiasan hasrat seksualnya, sehingga memungkinkan ia mencari jalur alternatif yaitu dengan melakukan hubungan seks terhadap keluarga dekat. Selanjutnya, faktor kemiskinan juga menjadi salah satu peluang terjadinya incest. Rumah yang tidak layak, tanpa pemisah (kamar). Tempat tidur anak dan orang tua yang tanpa sekat, memungkinkan seorang ayah yang tak mampu menahan nafsu birahinya akan mudah terangsang melihat anak perempuannya tidur. Dalam kondisi seperti ini, peluang terjadinya incest sangat besar.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa di negara yang tidak melegalkan pornografi dan prostitusi serta  memiliki tingkat kemiskinan tinggi seperti Indonesia, perilaku incest  memang lebih rentan terjadi. Padahal di negara Barat yang taraf hidupnya tinggi, bahkan melegalkan pornografi dan prostitusi, kasus incest juga banyak terjadi. Misalnya di Perancis, di sana incest bukanlah kejahatan. 

Ada tatanan dan aturan baku yang berlaku bagi setiap anggota keluarga dan juga fase-fasenya. Tidak bisa aturan yang diperbolehkan saat fase kanak-kanak mutlak tetap berlaku saat dewasa. Dalam Islam, lingkungan rumah/keluarga disebut sebagai hayatul khas. Dimana tidak setiap orang asing yang bukan mahram bebas masuk tanpa izin. Bahkan meskipun bagian anggota atau sanak keluarga,ada kondisi-kondisi saat mereka menemui hukum dan perlakuan yang berbeda memasuki rumah kerabat mereka sendiri. Sayangnya, aturan dalam kehidupan khas sesuai tuntunan Islam kini telah sirna bahkan banyak yang tidak tahu.Tidak heran jika kasus-kasus aneh menimpa keluarga bahkan dalam rumahnya sendiri. Seperti kasus incest yang kini sedang jadi PR bangsa ini.

Di Indonesia, lihat saja hampir tak pernah sepi dalam kehidupan kita, pemberitaan atau kita mendapati di sekitar lingkungan ada persoalan penyimpangan seksual. Setiap hari –bahkan- kita dijejali beragam informasi yang menyayat hati seputar perilaku anak manusia dalam memenuhi syahwat biologisnya. Tidak hanya jauh dari norma-norma sosial dan agama, yang terjadi bahkan sudah menafikan kodrat kemanusiaannya. Kita tentu sering mendengar, membaca atau menyaksikan fakta dimana seorang ayah menggauli anak kandungnya, kakek memperkosa cucunya, seorang bocah mati dalam kondisi mengenaskan setelah sebelumnya disodomi oleh tetangganya, dan  masih banyak lagi kisah tragis seputar masalah penyimpangan seksual.

Belum lagi, dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, seseorang yang punya kecenderungan seks menyimpang sengaja memasang kamera tersembunyi (hidden cam) di tempat-tempat yang sangat privat, baik kamar hotel, kamar mandi, toilet, dan sebagainya. Di sisi lain, budaya permisif (liberal) yang melanda bangsa ini memberikan peluang bagi masyarakat -tak hanya anak muda-  untuk berperilaku bebas dan tak terkendali.  Pergaulan tak ada batas yang menjurus pada free sex, kumpul kebo dan sejenisnya sudah menjadi style masyarakat kebanyakan.

Semua itu jika dibiarkan berlarut-larut tanpa ada upaya, baik bersifat preventif, dengan mencegah terjadinya krisis moralitas seksual lebih lanjut, maupun upaya solutif pencarian jalan keluar terhadap persoalan yang satu ini, maka tidak menutup kemungkinan kondisi moralitas bangsa ini akan semakin hancur. Sedangkan negara, ketika dihadapkan pada persoalan seperti ini, kadang tak bisa dan tak mampu menjangkaunya. Pasal zina pun jika diterapkan membutuhkan delik aduan. Pasal perkosaan anak juga baru bisa diterapkan jika korban di bawah umur dan ada aduan dari korban atau keluarga. UU No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, mengatur masalah incest sesuai UU Perlindungan Anak di pasal 59. Karena itu, sangat mengecewakan jika Indonesia menyamakan kasus incest dengan kasus pemerkosaan biasa. Di dalam pasal 46, tidak mengenal pidana penjara paling sedikit, namun hanya mengenal hukuman pidana penjara paling lama dua belas (12) tahun.

Islam Solusi Tuntas untuk Menuntaskan Incest

Berkenaan dengan persoalan di atas, Islam jauh-jauh hari sebelumnya sudah memberikan rambu-rambu agar umat manusia tidak terjerumus ke lembah kenistaan, dalam hal ini yang berkaitan dengan masalah kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur, maupun pernikahan sedarah. Islam mengharamkan hubungan seks antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang masih memiliki kekerabatan dekat. Hal ini ditegaskan dalam surah an-Nisa’ [4] ayat 23:

حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمۡ اُمَّهٰتُكُمۡ وَبَنٰتُكُمۡ وَاَخَوٰتُكُمۡ وَعَمّٰتُكُمۡ وَخٰلٰتُكُمۡ وَبَنٰتُ الۡاٰخِ وَبَنٰتُ الۡاُخۡتِ وَاُمَّهٰتُكُمُ الّٰتِىۡۤ اَرۡضَعۡنَكُمۡ وَاَخَوٰتُكُمۡ مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَ اُمَّهٰتُ نِسَآٮِٕكُمۡ وَرَبَآٮِٕبُكُمُ الّٰتِىۡ فِىۡ حُجُوۡرِكُمۡ مِّنۡ نِّسَآٮِٕكُمُ الّٰتِىۡ دَخَلۡتُمۡ بِهِنَّ فَاِنۡ لَّمۡ تَكُوۡنُوۡا دَخَلۡتُمۡ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ وَحَلَاۤٮِٕلُ اَبۡنَآٮِٕكُمُ الَّذِيۡنَ مِنۡ اَصۡلَابِكُمۡۙ وَاَنۡ تَجۡمَعُوۡا بَيۡنَ الۡاُخۡتَيۡنِ اِلَّا مَا قَدۡ سَلَفَ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوۡرًا رَّحِيۡمًا ۙ‏

“Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara-saudara perempuanmu sesusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu (menikahinya), (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Ayat ini secara tegas menjelaskan pengharaman nikah (hubungan seks) dengan keluarga, baik dari jalur nasab maupun kerabat dekat. Dari jalur nasab ini antara lain, ibu, anak perempuan, saudara perempuan  dan seterusnya. Sedangkan yang dimaksud dengan kerabat dekat antara lain, ibu-ibu yang menyusukan (bukan ibu kandung), saudara sepersusuan, mertua, menantu, dan seterusnya.

Islam sama sekali tidak mentolelir, bahkan secara tegas melarang hubungan seks dengan keluarga sedarah maupun kerabat dekat. Bahkan hubungan ini dianggap melanggar dua keharaman yaitu zina (QS. an-Nur: 2) dan menodai hubungan darah (mahram).

Dalam Islam pun mengajarkan umat manusia untuk berakhlak mulia, berperilaku sopan, bersikap santun dalam segala sendi kehidupan. Termasuk di dalamnya adalah ber-akhlak mulia dalam pemenuhan naluri seksual. Maka perlu ada usaha menyehatkan kembali masyarakat menuju moralitas seksual yang sesuai dengan ajaran Islam, mau tidak mau, berpulang pada usaha penyehatan keluarga melalui edukasi yang sesuai ajaran Islam. Dengan harapan keluarga mampu menjadi basis untuk melahirkan individu-individu yang sehat, berakhlak mulia, bukan justru membentuk individu-individu yang bermasalah.

Hubungan antara laki-laki dan perempuan yang berjalan di luar fitrah manusia tentu saja tidak terjadi dengan sendirinya. Salah satu penyebab utama dari maraknya kasus incest baik yang sudah terlapor maupun yang masih belum terungkap, disebabkan oleh paham kebebasan yang telah diadopsi dalam masyarakat saat ini, yaitu kapitalisme-liberalis. Paham serba boleh, tanpa memandang apakah yang dilakukan tersebut sesuai ataukah tidak dengan norma sosial ataupun hukum yang diberlakukan oleh yang menciptakan manusia Allah Swt. Karena paham ini berjalan melalui pemberlakuan sistem sehingga hal yang tabu menjadi lumrah untuk dilakukan.

Dulunya dapat menghargai dan bahkan menyayangi saudara kandung sendiri, namun terjadi pergeseran karena terbiasa melihat tayangan-tayangan yang tidak mendidik, bersifat vulgar dan memancing hasrat seksual.  Sehingga saudara kandung menjadi mangsa terdekat yang siap untuk dijadikan objek pelampiasan. Tidak lagi mampu berpikir dampak buruk yang akan ditanggung di tengah keluarga maupun masyarakat.

Kasus incest bukanlah perkara yang  bisa diremehkan, jika dibiarkan akan menimbulkan kerusakan tata sosial, yaitu keberlangsungan umat manusia dengan segala kesempurnaan dan kebaikannya akan menjadi hilang bahkan punah. Sehingga dibutuhkan penyelesaian segera yang melibatkan negara. Sebab negaralah yang bertanggung jawab penuh untuk memastikan kesehatan dari warganya serta kejelasan keturunan (nasab) melalui suatu perkawinan yang normal.

Namun kondisi negara dalam sistem kapitalis hari ini tidak menjalankan fungsi riayah (pengurusan) yang benar kepada warganya, terbukti besarnya kasus incest yang terjadi di setiap tahun. Negara hanya menjalankan fungsinya melalui legalisasi aturan perundang-undangan yang mengikat warganya. Pengaturan untuk kasus-kasus incest masih berdasarkan pada pasal 285, pasal 287, pasal 294 ayat (1) dan pasal 295 ayat (1) butir (1). Sebenarnya, pasal 285 kuhp kurang tepat, karena pasal 285 adalah pasal perkosaan. demikian juga pasal 287 KUHP juga belum tepat untuk pengaturan incest.

Tidak cukup hanya disampaikan soal dampak yang buruk melalui jenjang-jenjang sekolah, namun juga didukung dengan berjalannya sistem-sistem yang lain. Seperti sistem informatika, yang harusnya dapat memfilter tayangan-tayangan yang mengumbar aurat, yang berbau seksual bahkan tayangan yang mewadahi incest. Terlebih di zaman milenial ini, warga sangat mudah mengakses konten negatif yang sengaja ditumbuhsuburkan, sebab asas negara yang dipakai adalah sekuler-kapitalistik yaitu memisahkan agama dari kehidupan, dan agama dari negara.

Sungguh peran negara sangat dibutuhkan dalam mengatasi masalah incest ini agar tuntas. Dengan mengatur dan menerapkan tata pergaulan yang benar antara laki-laki dan perempuan sesuai syariat Islam. Sebab hanya syariat yang sesuai dan memahami fitrah manusia. Dalam hal ini negara berkewajiban memberikan perlindungan dari seluruh aspek, mulai dari aspek individu, masyarakat maupun pada skala besar yang memberlakukan terapan hukum yang sesuai kaidah syariat.

Perlindungan individu bisa dimulai dari menjaga sistem pergaulan dengan lawan jenis, yaitu dengan tidak mendekati zina (pacaran), membentengi diri dengan keimanan dengan cara mengkaji ilmu agama setiap waktu, taat beribadah, olahraga, membaca dan melakukan hal-hal yang bermanfaat dan bernilai positif. Aspek kedua yaitu lingkungan atau masyarakat seperti sistem pergaulan yang bersifat liberal saat ini atau biasa disebut dengan kebebasan serta permisif atau bersifat terbuka untuk diganti menjadi sistem pergaulan yang memiliki batasan, seperti kehidupan khusus perempuan dan laki-laki yang terpisah.

Sungguh kita membutuhkan sistem Islam, yang akurat sejak pencegahan, juga kuratifnya pun sangat menuntaskan. Tak seperti sistem sekuler yang mana hukum bisa berubah-ubah sesuai keinginan publik dan zaman.

Wallaahu a’lam bishshawab.[]