Oleh Nazwa Hasna Humaira

Pelajar dan Aktivis Dakwah


Virus Covid-19 tak henti-hentinya mengguncang Indonesia. Kasus positif Covid masih saja jadi topik utama pemberitaan, bahkan beberapa daerah di antaranya masih dikabarkan rawan penularan. Satu persatu hingga ribuan nyawa manusia terenggut. Hingga saat ini, di sebagian wilayah Indonesia masih ada yang berzona merah dan berzona orange. 


Jumlah daerah yang masih berzona merah (tingkat resiko penularan tinggi) semakin bertambah, yakni sebelumnya ada 10 kabupaten/kota kini menjadi 13 kabupaten/kota. Adapula kenaikan jumlah kabupaten/kota yang berstatus berada di zona merah dikontribusikan terdapat 9 kabupaten/kota.


Wilayah yang dikontribusikan berstatus zona merah ini, di antaranya adalah Kabupaten Bengkulu Utara, Kota Solok, Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Solok, Kota Prabumulih, Kabupaten Dairi, Kota Batam, Kabupaten Melawi, dan Kabupaten Kudus. Bahkan, wilayah zona merah dan orange terus-menerus meningkat. Kemungkinan kasus ini terus bertambah, karena dampak yang timbul dari periode libur Idul Fitri beberapa pekan lalu. Sehingga, kesiagaan pemerintah daerah sangat dibutuhkan agar dapat menangani potensi kenaikan kasus dengan baik. (Dikutip dari laman kompas.com, 4/6/2021)


Penyebaran virus Covid-19 semakin meluas dan memakan banyak korban, usaha pun sudah dilakukan oleh pemerintah dalam menanganinya. Namun, virus tetap melanda di sebagian wilayah Indonesia, sementara kerja keras pemerintah dan jajarannya dalam menangani kasus ini belum dapat terjalin dengan baik hingga menuntas sampai ke akar-akarnya. Penyekatan wilayah, jaga jarak, isolasi mandiri, dan lainnya yang telah dikerjakan juga belum cukup efektif.


Dalam menangani virus memang membutuhkan waktu dan penanganan yang tepat untuk mampu menghilangkanya. Dari mulai hal terkecil yang akan dilakukan sangat berarti untuk dapat menuntaskan virus tersebut. Seperti halnya menggunakan masker, memakai handsanitizer, dan bersungguh-sungguh dalam menjaga pintu keluar masuk bagi warga dalam negeri ataupun luar negeri. Pemerintah pun perlu menutup sementara akses wisata bagi masyarakat, agar virus tidak semakin meluas.


Peraturan yang sudah ditetapkan, maka harus dijalankan dengan benar. Bukan malah peraturan tersebut dijadikan sebagai imbauan dan atau menakuti masyarakat. Berlaku hanya untuk satu kondisi, kondisi lain tidak, menyasar masyarakat yang satu, sedang yang lain dibiarkan. Misal akses wisata dibuka untuk umum, sedangkan pedagang kaki lima dibatasi. Tokoh publik terjerat pidana akibat dugaan berkerumun, sementara yang lain cukup minta maaf. Mirisnya lagi, pintu masuk bagi WNA terbuka lebar padahal virus masih menyebar.


Kesalahan pada sistem atau aturan yang dipakai dalam menjalankan pemerintahan, dapat mempengaruhi kinerja pemimpin negara dalam menangani suatu masalah. Peraturan hanya sebatas aturan saja, tanpa dilakukan dengan benar dan selalu mengutamakan mendapat keuntungan. Juga, memisahkan agama dan menyatukan antara yang hak dan bathil di dalam kehidupan. Inilah yang dinamakan sistem kapitalisme dengan turunannya sekularisme, yang membuat rakyat tak dapat menemukan kedamaian dalam aktivitasnya.


Jika kita ingin segera menangani virus Covid-19, maka sudah tentu hal yang utama harus dilakukan adalah mengubah sistem atau aturannya. Dengan begitu, tak akan terulang kesalahan yang dialami semasa dulu. Sistem yang mampu menangani permasalahan umat ini adalah dan hanyalah sistem Islam saja. Sebab, sistem Islam adalah aturan yang diberikan langsung oleh Allah Swt. yang tertuang dalam kitab suci Al-Qur'an dan juga As-Sunnah.


Aturan Islam sangat mengajarkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan, agar terlindungi dari penyakit yang berbahaya, seperti halnya virus Covid-19 ini. Langkah kecilnya saja untuk terhindar dari penyakit yang dianjurkan dalam sistem Islam adalah agar tidak memakan-makanan yang haram. Allah Swt. berfirman:


 "Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi.." (Q.S Al-Baqarah:168)


Namun, bila wabah penyakit tersebut sudah mulai menyebar luas di beberapa daerah, maka solusi yang harus dilakukan adalah seperti dalam sebuah hadis berikut ini yang artinya:


"Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari)


Tak lupa, seorang pemimpin harus memberikan pemeriksaan kesehatan kepada seluruh masyarakatnya, agar nanti bisa diketahui antara yang positif dan negatif virus Covid-19. Dan juga, memberikan tempat yang berbeda bagi yang terkena virus Covid-19 ini. Sehingga, masyarakat yang negatif virus, akan mampu melaksanakan kegiatan seperti biasanya.


Maka, semua masalah yang terjadi dalam kehidupan ini hanya dapat diatasi melalui sistem Islam. Karena Islam satu-satunya yang benar dan mampu mewujudkan kemashalatan umat, baik itu umat muslim atau pun umat non-muslim.


Wallaahu a'lam bi ash-shawaab

 
Top