Oleh Umu Zalfa

(Pegiat Opini)


Pangan merupakan kebutuhan hidup umat manusia yang wajib dipenuhi, sebab jika tidak maka manusia akan sakit, bahkan mati. Namun, krisis pangan kini sudah mengancam berbagai belahan dunia salah satunya negeri Myanmar dan Suriah. 

Menurut Program Pangan Dunia (WFP) mendengungkan bahwa jutaan warga di Myanmar kini menghadapi ancaman krisis pangan dan kelaparan ekstrem. Ekonomi dan sistem perbankan nasional negeri itu telah lumpuh sejak perebutan kekuasaan militer yang mendorong pemimpin sipil Aung San Suu Kyi lengser pada Februari lalu. Mata pencaharian telah hilang setelah pemogokan dan penutupan pabrik, harga bahan bakar melonjak dan mereka yang cukup beruntung memiliki tabungan bank harus mengantre sepanjang hari untuk menarik uang tunai. Bertualang di tempat umum untuk mencari nafkah juga mengancam keselamatan dengan latar belakang tindakan keras tanpa pandang bulu dan brutal oleh pasukan keamanan terhadap perbedaan pendapat yang telah menewaskan lebih dari 800 warga sipil. (lenterasultra.com, 29/05/2021). 

Tak hanya di Myanmar, di daerah Suriah pun demikian. Suriah mengalami krisis pangan yang belum terselesaikan hingga kini. Seorang pria dari Kota Zabadani mengatakan, keluarganya yang beranggotakan empat orang telah berhenti makan keju dan daging pada awal 2020. Kini dia hanya mengandalkan roti untuk makanan mereka. Namun, dengan kenaikan harga roti dan adanya batasan pemerintah, dia dan istrinya terpaksa hanya memakan secuil roti tiap harinya.

Berdasarkan laporan Human Rights Watch, konflik bersenjata selama satu dekade telah menyebabkan kekurangan gandum yang parah di Suriah akibat lahan-lahan pertanian semakin sedikit. Selain itu, banyak pula toko roti yang ikut hancur dan tidak dapat beroperasi selama konflik.

Kondisi itu diperparah dengan kebijakan distribusi roti yang diskriminatif, yang mana ada pembatasan jumlah roti bersubsidi yang dapat dibeli warganya. Roti pun menjadi barang yang diperebutkan di Suriah, banyak orang yang melakukan perjalanan melalui pos pemeriksaan untuk sekadar mendapatkan roti. ( republika.co.id, 30/05/2021).

Sungguh kondisi yang menyayat hati. Melihat saudara kita yang harus kelaparan di luar sana guna memenuhi kebutuhan pangan mereka untuk bertahan hidup. Ditambah lagi kondisi konflik yang tak kunjung usai menambah derita mereka. Padahal, kebutuhan pangan global dengan banyaknya sumber daya alam yang diberikan oleh Allah di bumi ini seharusnya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh dunia. 

Namun apalah daya, akibat keserakahan kaum kapitalis yang hanya bertumpu pada aspek manfaat (keuntungan) semata membuat alam ini banyak terekploitasi dan rusak. Sebab, SDA dikelola oleh mereka yang memiliki modal tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan dan hanya meraup untung demi diri mereka sendiri ataupun kepentingan segelincir orang, tanpa memperhatikan nasib rakyat jelata. 

Sistem kapitalis pun membuat kesenjangan yang kian nampak di antara setiap manusia. Sehingga sebagian manusia yang memiliki kelebihan pangan tidak memikirkan saudara mereka yang kekurangan pangan. Bahkan, dunia pun tersekat nasionalisme. Muslim yang satu dan muslim lainnya tak lagi bersatu. Mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri hingga melupakan nasib saudara kita di luar sana. 

Para pemimpin dunia muslim pun tak mampu memberikan bantuan dan mengatasi konflik yang terjadi. Yang dilakukan hanya sebatas memberikan bantuan kemanusiaan. Padahal, negeri konflik membutuhkan penyelesaian yang mendasar agar mereka segera keluar dari konflik dan semua masalah mereka. 

Namun, inilah sekat nasionalisme yang dibuat oleh sistem kapitalisme. Penyelesaian berbagai problem hanya sebuah ilusi. Problem yang membelit seluruh insan manusia seyogianya membutuhkan penyelesaian sempurna. Sistem paripurna yaitu yang digunakan adalah aturan yang datang dari Sang Pemilik Alam, Allah Swt. 

Islam dengan sistem ekonominya jelas mampu menjauhkan rakyatnya dari bahaya kelaparan. Sebab, ekonomi Islam mengatur tentang masalah kepemilikan yang di dalam sistem kapitalis hanya bertumpu pada orang-orang bermodal. Misalnya, pengelolaan SDA, dalam Islam SDA merupakan harta milik umat yang harus dikelola oleh negara dan hasilnya dikembalikan demi kesejahteraan rakyat. Kemudian, pengelolaan SDA pun memperhatikan kelestarian lingkungan, bukan asal meraup keuntungan.

Kemudian, Islam pun menutup jalan impor yang mampu mematikan pendapatan rakyatnya, bahkan menyediakan berbagai bibit unggul dan infrastruktur guna menunjang rakyatnya bercocok tanam. Sehingga, dengan adanya cocok tanam, maka rakyat bisa menghasilkan pangan yang berlimpah. Serta, ketersediaan di dalam negeri bisa tercukupi. 

Tak sampai di situ, di dalam pengelolaan pasar pun para pemimpin senantiasa mengontrol pasokan dan ketersediaan kebutuhan pangan. Tidak dibiarkan adanya praktik-praktik monopoli dan kelalaian dalam pendistribusian barang. Sehingga, dapat dipastikan jika seluruh daerah akan mampu mendapatkan distribusi pangan dengan baik. 

Sehingga kita semakin yakin jika kita sangat merindukan sistem Islam. Sistem yang melahirkan pemimpin yang benar-benar mengurusi rakyat dengan segenap jiwa dan raganya. Pemimpin yang tidak akan rela melihat rakyatnya sengsara dan menderita sedangkan ia tertidur dengan lelap. Pemimpin yang tidak akan tega melihat kaum muslim tersiksa di belahan negeri lain, sedangkan ia tak mampu berbuat apa-apa. Wallahu a'lam Bishshawab.

 
Top