Krisis Pangan Global, Kapitalisme Biang Keladinya


Oleh Yuliyati Sambas

Pegiat Literasi Komunitas Penulis Bela Islam AMK


Belahan bumi kini tengah mengalami goncangan kemanusiaan yang mengerikan dan butuh segera dicarikan solusi tuntasnya. Pangan yang merupakan hajat kehidupan asasi manusia kini sedang ada dalam kondisi kritis. 

Di satu belahan bumi semisal Suriah, krisis pangan telah berlangsung lama dan hingga kini belum juga terselesaikan. Dalam keterangan pers yang diterima Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada 30 Mei 2021 lalu, dikabarkan seorang pria dari Kota Zabadani mengungkapkan kepedihan hidupnya yang terpaksa hanya mampu mengandalkan sekeping kecil roti untuk kebutuhan makan dirinya beserta istri dan anak-anaknya. Apa yang terjadi pada Zabani sekeluarga, menimpa pula pada 12,4 juta warga Suriah lainnya. (republika.co.id) 

Ancama krisis pangan dan kelaparan ekstrem pun terjadi di wilayah Asia. Diberitakan oleh asiatoday.id (28/5/2021) bahwa Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan sebanyak jutaan warga Myanmar mengalami ancaman krisis pangan serius.

Menelusup tanya pada benak, mengapa bisa terjadi demikian? Padahal ketika Sang Penguasa jagat raya menciptakan manusia, semesta dan kehidupan, Ia cukupkan pula semua potensi kehidupan dan rezeki bagi setiap makhluk-Nya. Tak terbayangkan betapa tak adilnya dunia ketika segelintir manusia yang hidup di bawah langit yang sama mendapatkan akses pangan melimpah. Data WHO menyebutkan tahun 2016 sebanyak 1,9 milyar lebih atau sekitar 39 persen orang dewasa usia 18 tahun ke atas tengah berjuang melawan obesitas (kalbaronline.com, 16/3/2020). Dimana semua paham bahwa obesitas berhubungan dengan kelebihan nutrisi makanan dalam tubuh seseorang.

Sementara di belahan lainnya banyak di antara bani Adam yang berjuang untuk sekadar memenuhi rasa laparnya. Apa yang terjadi di Suriah bisa menjadi contoh miris betapa suasana konflik bersenjata menjadikan kondisi pangan morat-marit. Sebagaimana laporan dari Human Rights Watch yang dikutip dari republika.co.id (30/5/2021) bahwa lahan-lahan pertanian di sana makin menyempit tersebab konflik bersenjata selama satu dekade. Gandum yang menjadi bahan pangan utama pun kian langka. Toko roti banyak yang hancur tak mampu beroperasi. Diskriminasi kebijakan pendistribusian roti makin memperburuk kondisi. 

Konflik di Myanmar pun menjadi fakta miris bahwa perebutan kekuasaan militer menjadikan ekonomi dan sistem perbankan nasionalnya lumpuh. Pemogokan, penutupan pabrik-pabrik, melonjaknya tarif bahan bakar menyebabkan hilangnya mata pencaharian di sana. (asiatoday.id, 28/5/2021)

Tak dimungkiri bahwa situasi konflik adalah satu penyebab kondisi hunger di dunia. Namun kita pun tak bisa menutup mata bahwa buruknya ketahanan pangan dialami pula di wilayah-wilayah di luar suasana ketegangan bersenjata. Bahkan di negara adidaya Amerika Serikat sendiri kasus kerawanan pangan telah terjadi jauh-jauh hari dan dilaporkan makin ekstrem setelah dihajar pandemi.

Feeding America, satu program nirlaba yang terdiri dari 200 bank makanan, bergerak dalam rangka mengumpulkan donasi makanan untuk disumbangkan bagi warga yang kesulitan. Melalui Kepala Operasinya, Katie Fitzgerald mengungkapkan bahwa sebelum pandemi pun sudah banyak keluarga yang mengalami kerawanan pangan. Lebih lanjut ia menyebutkan kelaparan dalam arti sesungguhnya telah tampak di saat seorang ibu lebih memilih tidak makan demi keluarganya mendapat makanan. (voaindonesia.com, 3/4/2021)  

Jika demikian, maka sungguh ada hal lain yang melatari terjadinya bencana global kelaparan yang sangat mengiris batin itu. Hal itu lebih disebabkan distribusi kekayaan di dunia ini sangatlah buruk. Sistem pengaturan urusan kehidupan kapitalisme yang dianut di setiap negara sangat jauh dari kata adil. Korporatisasi pertanian dan industri pangan dunia telah sukses menjadikan pangan hanya bisa diakses oleh mereka dengan kapital (uang) melimpah. Bagi yang tak ada akses dengan uang bersiaplah tersingkir bahkan punah terlindas zaman. Persis arahan teori evolusi Charles Darwin terkait kekuatan adalah salah satu penentu spesies mana yang akan bertahan di belantara kehidupan ini. Na’uzubillah.

Prinsip kapitalisme mengamanahkan pada negara bahwa peran mereka cukuplah untuk melakukan upaya pembuatan regulasi dan mengawasi berjalannya regulasi tersebut. Sementara hajat hidup semisal pangan, sandang, papan bahkan kebutuhan kolektif kesehatan, pendidikan dan keamanan diserahkan pada mekanisme jual beli. Dimana tentu hal itu dikendalikan oleh korporat. Maka penguasaan hajat hidup orang banyak pun berada di tangan segelintir para kapital pemilik korporat raksasa dunia.  

Sistem kapitalisme pun bersifat eksploitatif, merusak alam/iklim ketika liberalisasi di bidang ekonomi dan penguasaan aset kekayaan sempurna diterapkan.

Kapitalisme pula yang sukses menjadikan dunia selalu berada dalam kondisi keterjajahan. Negara adidaya menjajah negara-negara pengekor. Baik melalui agresi militer atau dengan penjajahan ekonomi berkedok kerjasama multilateral. Negara adidaya kapitalis pun tak segan menanamkan pemimpin-pemimpin bonekanya di negara-negara lain. Lantas memerankan diri sebagai sutradara yang memiliki kuasa menimbulkan, mempertahankan atau menghentikan konflik di sebuah negara.

Konsep nation state kian memperburuk kondisi. Masing-masing negara merasa tak tergerak untuk saling mengambil peran dalam upaya penyelesaian permasalahan negara miskin di sekitarnya. Bahkan dalam satu kawasan nation state pun wilayah-wilayah yang kaya akan sumber daya alam diarahkan untuk menutup mata atas penderitaan sesama. Aksi filantropi yang ditampakkan dengan upaya-upaya saling membantu dari setiap individu pun tak sanggup untuk menyelesaikan gurita kelaparan global karena cakupannya bersifat sistemik.

Kapitalisme sungguh biang keladinya!

Maka sungguh dunia secara keseluruhan membutuhkan sistem kehidupan yang adil dan menyejahterakan. Tanpa memandang bangsa dan kedudukan manusia. Satu kekuatan yang sanggup mengelola alam dan harta kekayaan di muka bumi dengan keadilan hakiki. Dan ini hanya sanggup diberikan oleh sistem kehidupan yang datang dari Sang Maha Pencipta. Ia yang menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan. Ia pula yang memberikan seperangkat aturan yang tentu tepat untuk diberlakukan di hamparan bumi ciptaan-Nya. Diberikan sebagai bentuk kasih sayang Al-Khaliq pada setiap mahkluk.  Itulah sistem kehidupan Islam. 

Sistem kehidupan Islam telah terbukti berabad lamanya mampu mempersembahkan peradaban gemilang diliputi kesejahteraan dan keadilan hakiki. Aturannya yang dinamakan syariat berhasil menjaga lima hal: agama, darah/jiwa, kehormatan, harta dan akal. Dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin, Islam akan menaungi bumi tanpa memandang agama, ras dan bangsa. Menjauhkan umat manusia dari kezaliman.

Cukuplah perkataan seorang orientalis asal Barat, Will Durrant bersama istrinya menjadi satu bukti.  “Para Khalifah (pemimpin sistem pemerintahan Islam) telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapa pun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa. (The Story of Civilization)