Oleh Sumisih


Kesepakatan gencatan senjata yang dicapai antara Israel dan Palestina di jalur Gaja terjadi pada Jumat( 21/5/2021) dini hari. Tetapi masih terjadi ketegangan di Yerusalem di mana polisi Israel menyerbu komplek masjid Al-Aqsha dan menembakkan gas air mata ke arah warga Palestina setelah salat Jumat. (Jakarta CNBC Indonesia, 4/5/2021).

Genjatan senjata yang diusulkan berbagai pemimpin dunia Islam, hanya menegaskan tiadanya pembelaan yang menyelesaikan masalah saudara muslim Palestina. Membiarkan zionis Israel berlindung dan memulihkan kekuatan di balik istilah gencatan senjata dan perdamaian.

Sejak hilangnya institusi Khilafah, kaum muslim hidup terpecah- pecah dan jatuh dalam cengkeraman penjajah. Gelombang migrasi Yahudi ke Palestina tidak bisa dibendung. Masalah utama yang terjadi adalah penjajahan Israel ke Palestina dan ingin diakui dunia kemerdekaannya.

Bangsa Israel terus menampilkan diri seolah-olah merekalah korban dalam krisis Palestina. Mereka mengharap masyarakat dunia lupa bahwa krisis yang terjadi ulah mereka. Padahal mereka yang menjarah tanah Palestina. Namun milyaran umat Islam dan puluhan negeri muslim dan jutaan tentaranya, ternyata tidak mampu menyelesaikan. Padahal Israel hanya sedikit.

Bahkan lembaga PBB dan OKI hanya bisa mengecam tak ada tindakan nyata. Harusnya menegaskan dunia Islam untuk mengirimkan militer dan memberi solusi menghentikan kedudukan dan mengusir Israel dari bumi Palestina.

Tapi hari ini bangsa Israel yang tadinya tidak punya negara, numpang dan menjajah tanah Palestina dan diakui sebagai suatu negara. Dan keberadaanya dijaga negara adidaya.

Bahkan dilihat dari sejarah Islam, pendirian negara Israel ada kaitannya dengan antara peradaban barat dan dunia Islam. Karena negeri Palestina mempunyai potensi besar demi bangkitnya peradaban Islam.

Pada masa kejayaan Islam tanah Palestina dipersatukan oleh Khilafah. Namun sejak kekalahan di perang Salib dan sekutunya terus menghancurkan Khilafah dengan cara yang licik. Dengan meracuni pemikiran Islam dan menjauhkan ajarannya dengan memecah belah persatuan umat Islam dan menyusupkan antek-anteknya ke dalam pemerintahan Islam dan membuat makar dari dalam.

Dan terjadi perang dunia 1, lalu wilayah umat Islam menjadi ghanimah dibagi Inggris dan Perancis. Maka sejak itu Palestina menjadi incaran kaum Zionis untuk menguasainya.

Maka tahun 1924 M menjadi sejarah kelam umat Islam dan duka yang mendalam. Di tangan antek Inggris Mustafa Kemal juga seorang Yahudi Dunamah Khilafah Islam di Turki diruntuhkan.  

Sejak hilangnya Khilafah umat muslim tanpa pemimpin sebagai Junnah (penjaga) kaum muslim. Umat Islam terpecah belah dalam cengkeraman penjajah. Hingga setelah perang dunia ke II tahun 1947 PBB membagi wilayah Palestina menjadi 2 bagian: 

1. Untuk bangsa Arab

2. Untuk Yahudi.

Pada tahun1948 negara Israel dideklarasikan. Saat itulah Palestina terusir sejengkal demi sejengkal dari tanah Palestina. Hingga wilayahnya menyempit tidak ada yang membela semua pemimpin muslim bungkam.

Karena terlalu banyak jerat negara besar dan Israel dan dunia Islam (berupa hubungan dagang maupun sudah terjadinya normalisasi hubungan diplomatik).

Semua ajuan solusi hanya memberi kesempatan lebih bagi Israel. Untuk melakukan genosida dan menguasai  Palestina itulah yang diinginkan.

Maka masalah Palestina bukan sekadar konflik biasa, tetapi berakar dari penjajahan Israel.

Penjajahan Israel tidak akan mampu menguasai Palestina tanpa dukungan negara- negara besar di belakangnya.  Bisa kita lihat mereka bukan membantu Palestina untuk mengusir penjajah dengan tindakan nyata( perang) tapi mereka hanya sibuk dengan perjanjian damai dan gencatan senjata.

Maka itu semua tidak memberikan solusi bagi Palestina.

Umat Islam butuh Khilafah sebagai Junnah. Maka kita tidak bisa berharap kepada semua pihak yang menjadi penjajah Israel.

Hanya jihad mengangkat senjata untuk menghentikannya. Jihad defensif sudah dilakukan bangsa Palestina dengan segala kekuatannya. Apadaya Israel dibantu negara besar.

Harapannya hanya akan terwujud jika umat Islam dipimpin kembali dan menjalankan syariat di muka bumi. Pemimpin yang menjadi Junnah

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top