Kemelut di Tubuh Partai Bukti Lemahnya Standarisasi

 


Oleh Ummu Najla

(Komunitas Ibu Peduli Generasi)


Gonjang-ganjing dan aura panas di tubuh PDIP semakin ketara. Di duga bara api disulut dari aroma persaingan yang tidak sehat antara Puan Maharani dan Ganjar Pranowo. Jelas saja pengusung trah Sukarno ini merasa kegerahan ketika melihat elektabiltas sang rival Gubernur Jateng menukik jauh di atasnya.

Bahkan, beberapa lembaga surve menggadang-gadang, Ganjar unggul atas Puan. Contohnya, surve yang dilakukan ARSC Maret-April 2021, menyebutkan elektabilitas Ganjar: 11,25% sedangkan Puan: 2,48%. Survei IPO Maret-April 2021, menyebutkan elektabilitas Ganjar: 12,6%. sedangkan Puan: 1,6%.

Alhasil, kemelut semakin meradang dengan tidak diundangnya Ganjar dalam acara pengarahan kepada kader PDIP jelang Pemilu 2024 di Semarang, Jateng pada Sabtu (22/5) oleh Puan selaku ketua pengurus pusat PDIP.

Lebih-lebih emak banteng bermoncong putih ini, menyindir Ganjar dalam pidato sambutannya. Puan menuding, ganjar terlalu ambisius ‘nyapres’ dan pencitraan. Sementara di sisi lain, kubu Ganjar semakin merasa di atas angin dengan memanfaatkan moment ketidakharmonisan ini untuk semakin mendongkrak dan mendulang elektabilitasnya.

Ini hanyalah sebuah fakta yang terjadi di salah satu tubuh partai. Bagaimana dengan partai lainnya? Tentunya, banyak kemelut serupa bahkan lebih tringginas baik yang ketara atau tidak. Lantas, seperti apakah potret partai yang dirindukan umat?

Penumpang Gelap

Miris, melihat potret buram partai di Negeri ini. Kemelut yang terjadi datang silih berganti tiada henti. Gerbong yang diharapkan bisa menghantarkan umat mencapai tujuan dan kesejahtereraan, ternyata diisi oleh para penumpang gelap.

Sang penumpang tak lagi menghiraukan arah dan tujuan. Sehingga visi dan misipun pudar dipenuhi dengan keserakahan. Perjuangan tak lagi demi kemaslahatan umat tapi syarat dengan kepentingan.

Partai yang harusnya menjadi wadah aspirasi umat, justru disibukkan dengan perebutan jabatan. Aksi jegal-menjegal bukan lagi sebuah keheranan. Namun sebuah kewajaran bak sekolah kanak-kanak yang berebut mainan. Alih-alih menjadi wakil rakyat, justru ketika menjabat sibuk mengembalikan modal dan mempertahankan kekuasaan.

Standarisasi Partai

Inilah, ironi partai sekuler yang lemah standarisasi. Rapuh pondasinya dan retak kerangkanya. Azas partai bukan lagi untuk keadilan namun syarat kepentingan. Money politic dan materialistis sudah menjadi sebuah landasan dalam bangunan partai.

Anggotanya hanyalah seorang petugas partai yang siap menjadi wayang dalam panggung sandiwara perpolitikan. Padahal, harusnya partai bisa menjadi tumpuan dan harapan umat.

Tentunya, berbeda halnya dengan partai Islam yang benar (shohih), begitu kokoh standarisasinya. Ibarat membangun rumah, ketakwaan dan iman menjadi pondasi kuat yang menghujam hingga menegakkan bangunannya.

Visi dan misi (fikrah dan thariqah) partai jelas mengakar dalam setiap kerangka aktifitasnya, yakni demi meraih ridho Allah SWT dan kemaslahatan umat. Seluruh penumpang partai akan selalu bersinergi dalam gerbong yang sama untuk meraih satu tujuan.

Tak tergoyahkan sedikitpun oleh gemerlapnya dunia. Bersih dari money politic, korupsi dan haus kekuasaan, karena anggota partai hanya memposisikan diri sebagai pelayan umat bukan sebagai tuan dan penguasa semata.

Sungguh kini, berharap pada partai sekuler ibarat pungguk merindukan bulan. Mendambakan perubahan laksana sebuah fatanorgama dalam kehampaan. Mengharapkan kesejahteraan bak meminum air di lautan, semakin dahaga tiada tersisa.

Silih bergantinya rezim menjadi bukti kegagalan dinasti keserakahan. Lantas masihkah kita terus terlelap dalam mimpi yang takkan menjadi nyata?! Akankah kita akan terus tenggelam dalam gelap yang melupakan cahaya?!

Kini sudah saatnya, umat terbangun dari tidur panjang yang melenakan. Bersama bangkit merajut asa, memperjuangkan hadirnya partai Islam yang benar (shohih) dalam sistem kaffah yang diridhoi Sang Pencipta. Wallahualam bi ash-shawwab.