Kapitalisme Lahirkan Krisis Pangan vs Islam Jamin Kesejahteraan dan Keberkahan


Oleh Maretika Handrayani, S.P

(Aktivis Dakwah Islam)


2021 masih menjadi tahun dimana kita harus menelan fakta pahit krisis pangan yang melanda dunia sampai hari ini bencana kelaparan dan kasus kurang gizi terus bermunculan. Global Hunger Index (GHI) mencatat ada 690 juta orang yakni sekitar satu dari setiap 10 orang di dunia menderita kekurangan gizi.

Terlebih negeri-negeri muslim yang berada di daerah konflik, krisis pangan semakin memprihatinkan. Seorang peneliti di Suriah di Human Right Watch mengungkap bahwa jutaan orang kelaparan di Suriah, sebagian besar karena kegagalan pemerintah untuk mengatasi krisis roti yang ditimbulkannya, (Republika.co.id, 30/5/2021). 

Begitu pula yang terjadi di Myanmar, ada 3,4 juta warga Myanmar yang menghadapi krisis pangan dan kelaparan ekstrim. (Lenterasultra com, /29/5/2021).

Krisis pangan dan kelaparan ekstrim tersebut adalah konsekuensi logis buah penerapan sistem kapitalisme global yang eksploitatif. Sistem kapitalisme telah memberikan ruang bagi para kapitalis mengeksploitasi dan mengeruk Sumber Daya Alam (SDA) bumi yang berlimpah ruah hingga merusak alam dan iklim.  

Di sisi lain, kapitalisme telah “berhasil” menciptakan kesenjangan ekonomi antara penduduk dunia yang kekurangan pangan dengan negara kapitalis yang berlebihan pangan, serta menumpuknya kekayaan pada elit kapitalis di tengah kelaparan akut jutaan rakyat dunia. 

Di sisi politik, sistem kapitalisme melanggengkan para pemilik modal berkolusi dengan penguasa/politisi menguasai hajat hidup masyarakat, perpolitikan sangat ‘beraroma uang’, korupsi, kolusi, dan permainan uang menjadi penyakit akut yang mengancam hidup masyarakat.

Dunia harus berani mengakui kegagalan kapitalisme dalam menyejahterakan rakyat dan gagal dalam menjamin atas pemenuhan hak hidup rakyat dunia.

Kapitalisme dengan tabiatnya yang dekstruktif harus diganti dengan sistem yang konstruktif yakni sistem Islam dalam institusi Khilafah Islamiyyah, Khilafah Islamiyyah sebagai institusi global telah terbukti menyejahterakan manusia yang berada di bawah naungan khilafah selama 14 abad lamanya, kontras dengan “sukses” menciptakan kemiskinan tersistematis.

Islam menetapkan bahwa umat Islam adalah umat yang satu. Tidak ada sekat nasionalisme yang mencerai berai umat yang membiarkan umat dalam kelaparan. Penguasa dalam Islam (Khalifah) adalah ra’in (pemelihara) yang mengurusi seluruh urusan rakyat yang berada dalam naungannya. 

Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khaththab. Saat itu dunia Arab sedang dilanda bencana kekeringan. Hingga membuat masyarakat hijrah ke ibu kota pemerintahan demi mendapatkan bantuan. 

Sang khalifah dengan tangan terbuka menerima mereka, meski berasal dari wilayah nun jauh di sana.

Beliau menjadi pemimpin panutan, senantiasa mendahulukan rakyatnya. Umar tak akan makan sebelum seluruh rakyatnya kenyang. Bahkan soal makanan pun tak ingin dikhususkan. Sang khalifah hanya makan makanan yang sama seperti rakyatnya, minyak zaitun dan roti.

Khilafah menetapkan kebijakan politis hingga teknis dalam menjaga ketahanan pangannya dari kebijakan di sektor hulu dengan meningkatkan produksi pertanian melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Khilafah akan menggerakkan roda perekonomian secara riil dan menghilangkan bank riba dan pasar modal yang menyengsarakan umat. Khilafah akan menjaga kestabilan harga dengan dua cara menghilangkan distorsi mekanisme pasar syariat yang sehat seperti penimbunan, intervensi harga. Dan negara akan menghilangkan penjajahan dan dominasi asing dan aseng atas tanah kaum muslimin sehingga penderitaan dan perampasan hak dan SDA umat tak akan terjadi.

Demikianlah sekilas bagaimana syariat Islam mengatasi masalah krisis pangan. Masih banyak hukum-hukum syariat lainnya, yang bila diterapkan secara kaffah niscaya krisis pangan dan kelaparan dapat diselesaikan seperti halnya di zaman peradaban kekhilafahan Islam. lebih dari itu syariat Islam adalah kewajiban yang harus diterapkan. 

Sudah seharusnya umat Islam menjadikan proyek penegakan syariat Islam dan institusi Khilafah sebagai proyek utama perjuangannya. Allahu a’lam bishshawab.