Oleh Yanyan Supiyanti, A.Md.

Pegiat Literasi, Member AMK


Islamofobia kembali merenggut nyawa muslim di Kanada. Seorang pria Kanada Nathaniel Veltman (20 tahun) telah didakwa dengan empat tuduhan pembunuhan tingkat pertama dan satu percobaan pembunuhan setelah mengemudikan truk pikapnya ke sebuah keluarga muslim. Yang terdiri dari nenek, ibu, ayah, dan putrinya, serta anak laki-laki berusia sembilan tahun yang selamat. 

Kepala Dinas Kepolisian London Steve Williams mengatakan, Senin (7/6), penyelidik percaya ini adalah tindakan yang disengaja dan para korban menjadi sasaran karena mereka muslim.

Senada dengan Williams, Wali Kota London Ed Holder, mengatakan ini adalah tindakan pembunuhan massal yang dilakukan terhadap umat Islam dan berakar pada kebencian. 

Dalam beberapa tahun terakhir, tercatat sejumlah kekerasan yang dialami muslim di Kanada. Dari tahun 2015 hingga 2019, Dewan Nasional Muslim Kanada (NCCM) melacak lebih dari 300 insiden, termasuk lebih dari 30 tindakan kekerasan fisik. Ini termasuk serangan senjata di Pusat Kebudayaan Islam Quebec pada 29 Januari 2017 yang menewaskan enam orang dan melukai 19 orang dalam salah satu penembakan massal paling mematikan. (Republika.co.id, 8/6/2021)

Psikolog Stephen Wright menilai islamofobia hadir karena adanya pemahaman yang mengaitkan antara muslim dengan kekerasan dan terorisme. Kesalahpahaman ini telah meresapi dalam keyakinan masyarakat Kanada. Menurut Wright, untuk mengatasi keyakinan negatif ini perlu ada upaya untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan antar komunitas. Juga menyarankan untuk memusatkan perhatian pada narasi positif tentang kelompok-kelompok yang terpinggirkan, dan memahami bahwa perbedaan itu ada dan harus diterima. 

Sedangkan Jasmin Zine, seorang sosiolog yang telah mempelajari islamofobia di Kanada selama lebih dari satu dekade, mengatakan bahwa penyebab tragedi ini bukanlah hal baru. Menurut Zine, ada situasi yang mendorong kebencian dan retorika anti-muslim di Kanada selama bertahun-tahun, seperti keputusan politik dan undang-undang keamanan, seperti Undang-Undang Anti-Terorisme Kanada, yang berlaku setelah serangan 9/11. Juga RUU Quebec 21, yang melarang orang memakai simbol agama -seperti jilbab dan niqab- di tempat kerja. UU itu adalah untuk mengatur perempuan muslim dan mengasingkan mereka dari ruang publik. Ini menjadi pesan bahwa identitas dan ekpresi keagamaan muslim ini tidak pantas di Kanada. Mereka adalah ancaman bagi cara hidup Kanada. Zine mengatakan pemikiran ini tak hanya dipercaya masyarakat, tetapi terwakili dalam kebijakan pemerintah dan retorika politik arus utama. (Republika.co.id, 14/6/2021).

Sebenarnya fakta islamofobia bukan hal yang baru. Sudah tampak sejak masa Rasulullah saw. Kafir Makkah melakukan berbagai cara untuk menghalang-halangi manusia dari dakwah Islam. Mereka pun melontarkan tuduhan keji terhadap Islam dan Rasulullah saw. sendiri. 

Sebagaimana dikabarkan Allah Swt. dalam firman-Nya:

"Demikianlah, tidak seorang Rasul pun yang datang kepada mereka, melainkan mereka mengatakan, "Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas." (QS. az-Zariyat: 52-53).

Saat ini, para penyeru Islam tidak disebut tukang sihir. Ada istilah lain yang disematkan, namun memiliki konotasi sama sebagai ajaran yang buruk dan berbahaya. Maka muncullah istilah baru seperti Islam agama teroris, radikalis, fundamentalis, dan seterusnya.

Islamofobia muncul bukan sekadar respon atas beberapa kasus 'kekerasan' yang dilakukan sejumlah muslim. Peristiwa tersebut hanyalah momen yang digunakan untuk semakin menyebarkan kebencian terhadap Islam dan penganutnya.

Sebenarnya yang para pembenci Islam takuti bukan sekadar jumlah umat Islam yang kian membesar, namun ketakutan terhadap kehadiran Islam sebagai pengatur kehidupan. Mereka menyadari kebobrokan ideologi yang selama ini mereka jalankan, juga kezalimannya akan terbongkar manakala sistem Islam hadir dalam kehidupan.

Hegemoni para pembenci Islam di negeri-negeri Islam akan disadari sebagai cengkeraman penjajahan yang layak untuk disingkirkan karena bertentangan dengan aturan Islam yang mengharamkan muslim berada dalam kekuasaan orang kafir. 

Allah Swt. melarang memberikan jalan apa pun bagi orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman dalam firman-Nya:

"Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin." (QS. an-Nisa: 141).

Larangan menjadikan orang kafir sebagai penguasa juga terdapat dalam ayat Al-Qur'an surat al-Maidah ayat 51:

"Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu), mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

Kesadaran umat atas kegagalan kapitalisme-sekularisme dalam menyelesaikan masalah kehidupan serta berbagai krisis yang dilahirkannya, kian memuncak. Di sisi lain tuntutan perubahan sistematis ke arah penerapan Islam kafah juga terus gencar disuarakan. 

Menghadapi kenyataan ini, para pembenci Islam ini semakin meradang dan menampakkan kesungguhannya untuk menghadang kebangkitan Islam dan kembalinya peradaban Islam dalam kehidupan. 

Salah satu upaya tersebut adalah menyebarkan opini buruk terkait khilafah. Khilafah digambarkan sebagai negara yang keji dan tidak mempertimbangkan hak-hak kemanusiaan. Maka muncullah ISIS, sebuah negara rekaan mereka yang mengklaim dirinya sebagai Khilafah Islamiyah. Gambaran keji inilah yang terus disuguhkan ke tengah-tengah umat. Parahnya, pengetahuan umat Islam sendiri tentang khilafah ala minhajinnubuwah sangatlah minim. Wajar jika kemudian banyak di antara umat Islam yang menolak sistem khilafah. Seolah-olah khilafah yang didakwahkan para pejuang yang mukhlis itu akan mengancam keselamatan mereka, akan menghilangkan hak-hak mereka, layaknya ISIS yang menakutkan. 

Orang-orang yang termakan opini islamofobia di negeri ini semangat mendukung UU anti-terorisme bahkan semenjak masih RUU sudah didesak untuk segera disahkan dengan alasan eksistensi negara dalam ancaman.

Di balik islamofobia sesungguhnya ada rencana jahat untuk menjegal laju perjuangan Islam ideologis. Sepak terjang mereka untuk menimpakan kemudaratan pada orang beriman sudah dinyatakan Alllah Swt. dalam firman-Nya surat Ali Imran ayat 118:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu."

Dalam ayat lain Allah Swt. menyebut orang yang membuat-buat kedustaan sebagai orang yang hendak memadamkan cahaya Allah.

"Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya." (QS. ash-Shaff: 8).

Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, maksud ayat tersebut adalah mereka berupaya menolak perkara yang hak dengan perkara yang batil. Perumpamaan mereka dalam hal ini sama dengan seseorang yang ingin memadamkan sinar mentari dengan mulutnya. Mustahil. 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top