Oleh Irma Faryanti

Ibu Rumah Tangga & Member Akademi Menulis Kreatif


Sekian waktu berselang pasca terjadinya serangan keji Israel terhadap rakyat Palestina, kabar baru muncul dari kubu negara kaum yahudi tersebut, bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disinyalir terancam tumbang setelah munculnya koalisi baru yang mengguncang posisi Netanyahu yang telah berkuasa 12 tahun lamanya. Koalisi ini disampaikan oleh Yair Lapid dan sekutunya Naftali Bennett. (Liputan6.com 3 juni 2021)


Media "The Times of Israel" menyebutkan bahwa setidaknya ada 8 partai yang setuju dengan koalisi ini. Yair Lapid selaku pemimpin oposisi Israel menyatakan kekecewaannya terhadap pemerintahan Netanyahu karena dianggap tidak mampu mengantisipasi kegagalan suara anggaran di parlemen.


Banyak pihak menyambut baik keruntuhan rezim Netanyahu, khususnya warga Palestina. Namun peluang jatuhnya pemerintahan tersebut tidak serta merta membuat lega apalagi  bahagia. Sebagian dari mereka justru menganggapnya sebagai awal dari kegelapan baru, karena koalisi baru tersebut tidak akan ada bedanya dengan pemimpin sebelumnya. Selama Israel masih menduduki wilayah Palestina maka hal serupa pasti akan berulang. 


Warga Palestina yang tinggal di wilayah yang diduduki Israel saja tidak diberi hak untuk memilih, padahal nantinya pemimpin terpilih itu akan menentukan nasib warga Palestina yang ada di sana. Mereka yakin betul bahwa pergantian kepemimpinan tidak akan merubah apapun bagi negara mereka, karena faktanya yang melakukan kezaliman bukan hanya pada kepemimpinan Netanyahu, melainkan kepemimpinan sebelumnya pun melakukan hal yang sama.


Saat ini warga Palestina tengah berusaha bangkit, menata kembali negerinya yang telah diporak porandakan serangan bom Israel yang membabi buta. Kezaliman yang seolah tiada habisnya dan telah berlangsung sangat lama.  Menurut laporan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal sekitar satu juta warga palestina telah ditangkap oleh pasukan Israel sejak perang Timur Tengah pada tahun 1967. Sebagaimana dikutip oleh Anadolu Agency (Sabtu, 5 Juni 2021), sekitar 17 ribu perempuan dan 50 ribu anak-anak adalah termasuk diantara mereka yang ditahan. Umumnya mereka mengalami bentuk penyiksaan fisik atau psikologis, pelecehan moral dan perlakuan kejam.


Negara-negara di dunia bereaksi , namun sayangnya sebatas kecaman tanda peduli tanpa membantu saudaranya terlepas dari tirani. Dalam sebuah pertemuan tertutup sejumlah Menteri Luar Negeri dan Presiden sidang Majelis Umum ke-75 Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Volkan Boskir di New York (Kamis, 20 Mei 2021) dibahas tentang situasi Palestina. Pada acara tersebut Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi mengungkapkan tentang pentingnya Palestina dan Israel untuk kembali ke meja perundingan demi terwujudnya perdamaian pasca gencatan senjata beberapa waktu lalu. Retno pun mengungkapkan bahwa para menlu yang hadir memiliki pendapat yang sama yaitu berharap agar Palestina, Israel dan pihak-pihak lainnya mengakhiri konflik tersebut agar kekerasan tidak terus berulang.


Kapitalisme yang diadopsi oleh berbagai negara di dunia, termasuk negeri-negeri kaum muslim, menjadikan mereka begitu mengagungkan nasionalisme kebangsaan. Hal inilah yang membuat negeri muslim bersikap masing-masing. Karena menganggap urusan Palestina bukanlah urusan negaranya. Yang bisa dilakukan hanyalah sebatas memberi bantuan secara logistik dan ungkapan kecaman yang terkesan basa basi yang tidak ada gunanya. Karena sekalipun ribuan kecaman dilontarkan, nyatanya tidak bisa menghentikan Israel untuk tidak melakukan kezaliman di bumi Palestina. 


PBB sebagai lembaga perdamaian, nyatanya tidak  mampu memberi solusi, bahkan memberikan pengakuan dan persetujuan terhadap Israel. Dari sekian  banyak kekejaman yang dilakukan bangsa Yahudi tersebut, tidak pernah sekali pun PBB menjatuhkan sanksi tegas terkait kejahatan perang.


Amerika yang dikenal sebagai negara adidaya pun bersikap serupa. Bahkan cenderung menganak emaskan Israel. Obama saat masih menjabat sebagai presiden pernah menyatakan bahwa ia berjanji akan melakukan apapun untuk menjamin keamanan Israel. Bahkan ia pun memberikan bantuan dana untuk persenjataan Israel.


Dukungan yang sama ditunjukkan oleh Presiden AS terpilih saat ini, Joe Biden yang mengungkapkan penolakannya untuk bergabung dengan pemimpin dunia untuk mengecam Israel atas serangannya di negeri Palestina. Biden menegaskan bahwa ia tetap mendukung apa yang dilakukan Israel sebagai upaya untuk mempertahankan diri.


Dengan demikian, bisa dipahami mengapa warga Palestina tidak merasa antusias dengan kejatuhan rezim Netanyahu, karena hal itu tidak akan memberikan perubahan yang berarti. Ditambah lagi dengan tidak adanya dukungan serta bantuan dari negara-negara internasional yang cenderung sibuk dengan sikap nasionalismenya.


Yang dibutuhkan Palestina saat ini adalah sebuah solusi yang bersifat fundamental. Berupa pengiriman pasukan-pasukan militer dari negeri-negeri kaum muslim untuk mengusir Israel dari bumi Syam, bukan sebatas kecaman, kutukan ataupun belasungkawa yang hanya sebatas formalitas semata. Palestina membutuhkan sebuah kekuatan yang mampu membebaskannya dari belenggu penjajahan. 


Bumi Palestina menantikan sosok pemimpin yang akan mengerahkan pasukan di bawah kepemimpinan Islam, yang akan melindungi dan mempertahankan seluruh wilayah kaum muslim. Membebaskannya dari penderitaan di atas landasan tali persaudaraan antar sesama kaum muslim. Yang akan merasa sakit ketika saudaranya tersakiti. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam." (HR. Muslim).


Oleh karena itu, yang dibutuhkan oleh negara palestina saat ini tidak lain adalah naungan sebuah kepemimpinan yang akan melindungi serta membebaskannya dari bayang-bayang penjajahan dan merebut kembali wilayah kaum muslim yang telah dirampas oleh bangsa yahudi tersebut. Itu semua hanya akan terwujud melalui tegaknya sistem pemerintahan Islam yang akan menerapkan syariat Islam di setiap aspek kehidupan dan membawa keselamatan bagi seluruh alam.


Wallahu a'lam Bishawwab

 
Top