Islam Solusi Atasi Kriminalitas Tanpa Batas


Oleh Ismawati

(Penulis dan Desainer Grafis)


Keji. Itulah satu kata yang tepat menggambarkan kasus pembunuhan yang terjadi di Desa Menanti, Kecamatan Lubai, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Bak sinetron, pembunuhan berencana ini dipersiapkan hingga sampai menyiapkan lubang untuk mengubur tubuh korban. 

Kejadian ini bermula saat korban, Parsidi (45) warga asal Desa Sri Karang Rejo, Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin hendak membeli sawah irigasi senilai Rp75 juta. Mendengar kabar tersebut, rekan-rekannya tergiur untuk menguasai uang tersebut. 

Pada Kamis (27/5/2021), korban bersama pelaku Sukasman dan Suwandi pergi menuju Desa Menanti sekitar pukul 09.00 WIB. Tujuannya untuk membeli lahan irigasi dan saat itu korban sudah membawa uang sebesar Rp75 juta. Kemudian mereka bersama juga dengan Sutarjo warga Desa Menanti menuju lokasi. 

Saat tiba di lokasi, ternyata ketiga pelaku sudah sekongkol untuk membunuh korban dan diduga telah menyiapkan lubang untuk kuburan korban terlebih dahulu. Parsidi akhirnya tewas di tangan ketiga pelaku ini, tribunnews.com (12/6/2021). 

Sungguh menyedihkan ketika membaca berita ini. Entah di mana hati nurani mereka rela berbuat kriminalitas atas nama materi. Memang, dalam sistem sekularisme hari ini manusia semakin jauh dari agama. Alhasil, rasa keimanan kian keropos dan membuat manusia hilang kendali hingga berbuat keji. 

Hanya demi uang, seseorang rela menanam dosa. Teringat sebuah peribahasa "uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang". Seperti hari ini segala hal dapat dibeli dengan uang. Rasanya tak ada uang seperti "mau mati". Sebab, segala kebutuhan dan keinginan bisa dibeli dengan uang. Harga kebutuhan pokok semakin naik, sementara lapangan pekerjaan tidak tersedia. Alhasil, kriminalitas atas nama uang semakin marak terjadi. 

Kehidupan sekuler telah mematikan keimanan seseorang. Manusia dan kehidupan semakin jauh dari agama. Lihatlah, hari ini nyawa manusia seolah tidak ada harganya. Kelaparan, kemiskinan, hingga kesulitan hidup menjadikan seseorang mudah menempuh jalan kriminal dalam menyelesaikan persoalan. 

Kriminalitas yang tiada batas ini menunjukkan kegagalan dari sistem kapitalisme. Sebab, negara tidak sepenuhnya mengurusi rakyat. Kekayaan alam yang sejatinya diperuntukkan kepada rakyat. Hanya dinikmati segelintir orang saja, yakni para pengusaha. Rakyat semakin dibebankan dengan biaya hidup yang mahal disertai pajak. 

Oleh karena itu, perlu menjadikan setiap insan itu manusia yang beriman. Sebab, keimanan dapat menjadi kontrol seseorang melakukan perbuatan. Seseorang yang beriman tentu tidak akan tega menghabisi nyawa seseorang demi nafsu duniawi. Terlebih, ancaman bagi pelaku pembunuhan sangat tegas dalam Islam. 

Islam memberikan sanksi berupa hukuman qishash bagi para pelaku pembunuhan. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian qishâsh berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh: orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, dan wanita dengan wanita…” (TQS al-Baqarah [2]: 178)

Qishash adalah tuntutan hukuman mati atas pembunuh karena permintaan keluarga korban. Jika keluarga korban tidak menghendaki qishash, mereka juga bisa menuntut denda pada para pelaku pembunuhan. Diyatnya adalah 100 ekor unta, 40 di antaranya dalam keadaan bunting. 

Dalam Islam, nyawa seseorang begitu dimuliakan. Menghilangkan satu nyawa manusia disamakan dengan membunuh seluruh manusia. Nabi saw. bersabda ; “Sungguh lenyapnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.” (HR an-Nasai, at-Tirmidzi dan al-Baihaqi) 

Selain itu, negara juga wajib membina masyarakat dengan tsaqafah Islam, agar tercipta suasana islami di tengah-tengah masyarakat. Sehingga standar kebahagiaan hidup seseorang tidak diukur dari uang saja melainkan dari rida Allah Swt. Karena tujuan hidup kelak adalah meraih surga-Nya. 

Bukan hanya itu, dibutuhkan pula peran negara dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan hidup masyarakat. Jaminan itu berupa sandang, pangan dan papan untuk rakyatnya. Dengan begitu angka kriminalitas seperti pembunuhan akan berkurang dengan sendirinya.

Maka, sudah seharusnya kita kembali kepada sistem Islam yang telah terbukti mampu menjadi solusi bagi masyarakat. Seperti inilah jadinya manusia tanpa Islam. Manusia yang kalut karena beban hidup yang berat. Sementara di dalam sistem Islam, rakyat akan betul-betul di urus. Karena telah terbukti selama 1300 tahun ketika masyarakat hidup dalam sistem Islam akan benar-benar disejahterakan oleh negara. 

Sebab, kepemimpinan adalah tanggungjawab besar dihadapan Allah Swt. Alam semesta, manusia dan kehidupan ini milik Allah. Sudah selayaknya kita kembali kepada aturan Allah untuk mengatur kehidupan ini.

Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (al-Fath: 1 – 3)

Wallahu a'lam bishshawab.