Islam Menuntaskan Krisis Pangan dan Konflik


Oleh Mita Nur Annisa

(Pemerhati Sosial)


Krisis pangan yang kini melanda berbagai belahan dunia, akibat sistem yang eksploitatif dalam mengelola sumber daya alam, merusak serta mengelola dengan rakus dan tamak sehingga kesenjangan makin nyata. Hampir semiliar penduduk dunia kekurangan pangan namun segelintir negara kelebihan pangan, bukti bagaimana sistem hari ini tidak memberikan kemaslahatan bagi umat.

Seperti yang dilansir oleh Republika.co.id, (30/05/2021), Suriah mengalami krisis pangan yang belum terselesaikan hingga kini. Seorang pria dari Kota Zabadani mengatakan, keluarganya yang beranggotakan empat orang telah berhenti makan keju dan daging pada awal 2020. Kini dia hanya mengandalkan roti untuk makanan mereka.

Namun, dengan kenaikan harga roti dan adanya batasan pemerintah, dia dan istrinya terpaksa hanya memakan secuil roti tiap harinya. "Kami memecah roti menjadi gigitan kecil dan mencelupkannya ke dalam teh agar tampak lebih besar," kata orang tersebut, dalam keterangan pers Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang diterima, Ahad (30/5).

Roti telah lama menjadi makanan pokok di Suriah. Sebelum 2011, negara ini mampu memproduksi cukup gandum untuk memenuhi kebutuhan konsumsi roti dalam negeri. Namun, sejak perang berkecamuk di Suriah, produksi dan persedian roti pun mulai menipis.

Berdasarkan laporan Human Rights Watch, konflik bersenjata selama satu dekade telah menyebabkan kekurangan gandum yang parah di Suriah akibat lahan-lahan pertanian semakin sedikit. Selain itu, banyak pula toko roti yang ikut hancur dan tidak dapat beroperasi selama konflik.

Hingga Februari 2021, Program Pangan Dunia, setidaknya 12,4 juta warga dari 16 juta warga Suriah mengalami kerawanan pangan. Jumlah ini bertambah 3,1 juta dari tahun lalu. World Food Programme (WFP) juga memperkirakan 46 persen keluarga di Suriah telah mengurangi jatah makanan harian mereka, dan 38 persen orang dewasa telah mengurangi konsumsi pangan mereka, agar anak-anak mereka memiliki cukup makanan.

Sungguh memprihatinkan di kala pandemi yang sampai hari ini belum juga usai. Menambah daftar hitam sistem hari ini dengan melandanya krisis pangan di berbagai belahan dunia. Perlunya solusi tuntas dari segala permasalahan yang dihadapi. Tak cukup dengan berbagai upaya yang hanya menunda lalu pada akhirnya berujung dengan semakin memburuknya kondisi. 

Belum lagi, keadaan umat muslim yang mengalami penindasan dan diskriminasi di negeri-negeri berkonflik menjadi deretan catatan masalah di dunia. Hingga butuh solusi tuntas yang dapat mengatasi setiap masalah. Adanya bantuan dan donasi yang digelontorkan dari negara-negara tetangga sebagai solusi jangka pendek yang akan membantu saudara-saudara kita di sana. Atau solusi jangka panjang, perlunya kekuatan besar yakni umat membutuhkan junnah, perisai yang mampu melindungi umat dari kerakusan dan kegilaan manusia atas kekuasaan.

Demikian krisis pangan yang melanda berbagai belahan dunia akibat sistem kapitalisme yang eksploitatif. Sistem yang tidak memandang kehidupan umat sebab fokus hanya kepada kepuasan diri sehingga akan terus menghasilkan kerusakan serta permasalahan baru. Maka umat butuh sistem yang memberikan kebaikan serta menjamin kemakmuran umat yakni dengan junnah dan memberlakukan sistem ekonomi Islam di bawah naungan khilafah. 

Dengan sistem Islam penindasan dan segala permasalahan akan diselesaikan dengan tuntas, bantuan tak hanya sebatas retorika belaka namun nyata. Mari bersama mewujudkannya dengan berjuang dalam tegaknya Islam kafah yang rahmatan lilalamin, tidak hanya umat muslim yang merasakan namun nonmuslim yang berada di bawah naungan Islam.

Waallahu a'lam bishshawab.