HARUSKAH JENJANG PENDIDIKAN DIBATASI?

 


Oleh Nazwa Hasna Humaira

Pelajar dan Aktivis Dakwah


Bupati Bandung HM Dadang mentargetkan tiga tahun ke depan rata-rata masyarakat kabupaten Bandung minimal tamat SMA. Hal ini disampaikan Dadang Supriatna saat menghadiri acara wisuda dan tafaruqon, siswa yayasan pondok pesantren Darul Ma'arif, Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Sabtu (29/5/2021).


Dadang Supriatna pun meminta kepada pihak sekolah mengajukan siswa yang berprestasi untuk mendapatkan beasiswa. Karena pemerintah menyiapkan anggaran untuk beasiswa. "Kita siapkan anggaran beasiswa tapi dalam kontek bagi ekonominya yang kurang mampu" katanya usai acara. (Dejurnal.com, Sabtu, 29/5/2021).


Kebijakan ini pastinya akan membuat masyarakat yang kurang mampu merasa terbantu dengan adanya beasiswa. Walaupun tentu saja program beasiswa merupakan program yang bersifat parsial. Bantuan dalam bentuk keringanan biaya atau gratis sekalipun adalah hak mendasar masyarakat yang harus dipenuhi negara. Program beasiswa dalam sistem kapitalisme menempatkan posisi siswa didik dalam lingkaran kompetisi, bersaing meraih prestasi akademis demi tunjangan materi. 


Dan, jika siswa yang kurang mampu tak lolos dalam memenuhi syaratnya, ia akan gagal dan kemungkinan berhenti sekolah karena kalah bersaing sementara untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi tak ada biaya terlebih jika anggota keluarga lainnya  membutuhkan biaya yang sama.


Jika pemerintah atau negara ingin semua masyarakatnya dapat lulus hingga SMA atau bahkan lebih ke tingkat yang tinggi, maka negara harus dapat memenuhi kebutuhan rakyatnya secara optimal. bukan hanya pendidikan tapi juga kebutuhan dasar lainnya seperti kesehatan, sandang, pangan, papan, kenyamanan, keamanan dll. Baik warga miskin atau bukan, selama mereka rakyat yang memiliki hak yang sama.


Bila beasiswa hanya diperuntukkan untuk siswa atau siswi yang pintar atau tidak mampu secara ekonomi, lalu bagaimana nasib yang lainnya? Yang pasti mereka pun membutuhkan sekali pendidikan dalam hidupnya, agar mampu membangun kehidupan yang lebih layak dari sebelumnya.


Sejatinya, negara memberikan perhatian yang besar pada pendidikan sebagai modal besar terwujudnya generasi cemerlang. Namun harapan ini hanya sebatas angan ketika kapitalisme yang dijadikan pijakan oleh negara membuat peserta didik sebagai aset perusahaan semata. Ditambah lagi dengan program vokasi pendidikan yang terus digaungkan tak ubahnya sekolah itu mesin pencetak tenaga kuli. Lulusan SMA sederajat yang terpilih akan ditempatkan di perusahaan tertentu sesuai jurusan keahlian atau bidang studi.


Sehingga, sistem kapitalis inilah yang menjadi penyebab masyarakat merasakan ketidakadilan dari seorang pemimpin. Sebab, tak mampu menjadikan pendidikan yang layak bagi seluruh masyarakatnya. Mencetak output cemerlang dan memiliki kepribadian Islam dengan akhlak yang mulia selain menciptakan generasi cinta dunia dengan segala cara. Itulah arahan kapitalisme yang membuat rakyatnya selalu berada dalam ambang keterpurukan.


Namun, berbeda halnya bila kita berada dalam sistem Islam yang pemimpinnya selalu mengutamakan kebutuhan rakyatnya, seperti halnya masalah pendidikan. Sebab, Islam mewajibkan umat Islam untuk senantiasa  menuntut ilmu. Sebagaimana dalam hadist berikut ini:


“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah)


Islam dengan syariatnya memang luar biasa, bukan saja perintah menuntut ilmu tapi juga mengajarkan agar senantiasa menghargai sebuah ilmu, baik yang bersumber dari Al-Qur'an dan juga As-Sunnah. Pandangan Islam kepada sebuah ilmu itu seperti dalam firman Allah Swt.


اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَق


"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan," (QS. Al-'Alaq 96: Ayat 1).


Ayat tersebut menggambarkan agar senantiasa membaca, mempelajari, dan mengkaji sebuah ilmu. Maka, sangat penting lah ilmu dalam Islam, sebab tanpa ilmu hidup kita seperti dalam kegelapan. Jadi, seorang pemimpin dalam pemerintahan Islam akan memberikan pelayanan dan fasilitas maksimal agar kaum muslim menjadi pencinta ilmu sebagai wasilah terwujudnya peradaban gemilang. 


Bukan hanya kehidupan di dunia saja, melainkan sebuah ilmu yang akan menuntun rakyatnya menuju jalan yang Allah ridhoi. Sehingga, akan senantiasa melahirkan masyarakat yang berpikiran cemerlang dan selalu mengarah kepada hal yang positif. Hal ini akan benar-benar terealisasi saat pemimpin penuh perhatian tersebut ada di tengah umat dengan institusi yang akan menerapkan syariat kaffah.


Wallahu a'lam bi as-Shawwab