Oleh Binti Masruroh


Pada hari Jumat dini hari tanggal 21 Mei 2021 terjadi kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Palestina. (CNBC Indonesia, 21/05/21).

Genjatan senjata ini mendapat dukungan dari negara-nerara arab seperti Sudan, Uni Emirat Arab, Mesir dan negara-negara OKI yang lainnya.

Sudan menyambut baik deklarasi gencatan senjata antara Israel dan Palestina.

Dikutip dari Reuters, Kementerian Luar Negeri Sudan juga mengapresiasi upaya Mesir, regional, dan internasional untuk mencapai kesepakatan ini. (kumparannews, 22/05/21)

Uni Emirat Arab juga siap memfasilitasi perdamain gencatan senjata Palestina-Israel sesuai kesepakatan keduanya. (serambinews.com, 23/05/21).

OKI pun menyatakan permusuhan Israel Palestina telah diselesaikan dengan gencatan senjata. Bahkan OKI menyatakan untuk mencapai perdamaian abadi harus diadakan solusi dua negara dialog dan resolusi PBB yang relevan. (serambinews.com, 22/05/21).

Perlu dipahami bahwa Palestina adalah milik kaum muslimin yang statusnya adalah tanah kharajiyah, yang diperoleh oleh Khalifah Umar bin Khattab berhasil menaklukkan Palestina. Melalui Perjanjian Umariyah pemimpin Nasrani Yerussalem kala itu menyerahkan Tanah Palestina kepada Khalifah Umar bin Khattab. Status tanah Kharajiyah akan tetap sepanjang masa sampai hari kiamat. Dan Israel adalah negara agresor, imperialis atau penjajah yang telah merebut tanah Palestina. 

Gencatan senjata yang yang didukung oleh berbagai pemimpin dunia Islam  menegaskan tiadanya pembelaan sempurna terhadap saudara muslim Palestina, membiarkan penjajah Zionis tetap bercokol di Palestina. Zionis Israel mendapat kesempatan untuk berlindung dan memulihkan kekuatan di balik istilah gencatan senjata dan perdamaian.

Gencatan senjata menegaskan keengganan dunia Islam mengirimkan militer. Karena terlalu banyaknya jerat negara besar dan Israel terhadap dunia Islam berupa hubungan dagang maupun sudah terjadinya normalisasi hubungan diplomatik.

Pemimpin dunia Islam telah tersandera oleh kepentingan politik ekonomi negara Israel, negara barat maupun negara Adidaya. Sehingga gencatan senjata merupakan solusi yang sejatinya solusi masalah Palestina adalah mengirim pasukan militer ke Palestina untuk menghentikan dan mengakhiri pendudukan dan mengusir Zionis dari bumi Palestina. Pasalnya Israel adalah negara agresor, negara penjajah, yang merebut dan menjarah  tanah Palestina. 

Kewajiban yang harus dilakukan adalah oleh kaum muslim terhadap penjajah yang telah menduduki dan merampas tanah kharajiah milik kaum muslimin adalah hukum jihad untuk mempertahankan diri. Melakukan pembelaan terhadap hak miliknya, terhadap tanah milik kaum muslimin yang telah dijarah oleh Israel dan mengusir Israel dari bumi Palestina.

Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 191.

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.” (TQS. Al Baqarah: 191).

Hukum jihad adalah fardhu ain. Yang wajib dilakukan oleh setiap laki-laki  muslim yang telah balig dan berakal yang tinggal di Palestina. Ketika laki-laki yang tinggal di Palestina tidak mampu atau tidak sanggup mempertahankan tanah airnya, maka menjadi kewajiban kifayah bagi laki-laki yang tinggal di sekitar Palestina atau dunia Arab khususnya seperti  Suriyah, Libanon, Yordania, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Mesir dan lainnya untuk melakukan taklif sebagai fardhu kifayah hingga Israel terusir dari Palestina.

Menjadi kewajiban para pemimpin dunia Islam yang mereka memiliki kekuasaan, mempunyai kekuatan militer dan persenjataan untuk mengirim pasukan dan persenjataannya untuk mengusir Zionis Israel dari bumi Palestina. Haram hukumnya bagi kaum muslimin membiarkan muslim Palestina dizalimi ditumpahkan darahnya oleh Zionis Israel.

Allah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk menolong kaum muslimin yang terzalimi dan teraniaya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 72:

“... Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (TQS. Al-Anfal: 72)

Karena itu persatuan dunia Islam dan seluruh kaum muslimin di seluruh dunia di bawah dalam satu kepemimpin yaitu Khilafah Islamiyah adalah kebutuhan yang mendesak. Kaum muslimin mestinya segera berjuang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Khilafah Islamiyah akan memberi komando untuk mengirimkan pasukan untuk mengusir Zionis Israel dari bumi Palestina. Dengan Khilafah Islamiyah kaum muslimin akan mempunyai junnah atau perisai atau pelindung terhadap semua bentuk kezaliman yang menimpanya.

Dari Abu Hurairah Nabi Muhammad saw. bersabda: “Sesungguhnya seorang imam itu laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top