Evaluasi Menyoal Pandemi yang Tak Kunjung Usai


Oleh Endang Seruni

(Muslimah Peduli Generasi).


Pandemi mendekap negeri ini sudah satu tahun lebih. Semua terdampak karena kehadirannya. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda pandemi akan berakhir. Justru tidak sedikit jumlah masyarakat yang terpapar.


Inilah yang terjadi di RSUD Cilacap, puluhan tenaga kesehatan dan pegawai RS yang terpapar Covid-19 varian India. Ini terjadi kala mereka berinteraksi dan merawat 13 ABK Philipina yang terkonfirmasi Covid-19 varian India B.1617.2.


Sebab itu pihak RSUD Cilacap menutup sementara pelayanan rawat Jalan yaitu selama 2 hari pada Senin dan Selasa, 24 dan 25 Mei 2021. Sebelumnya rencana penutupan ini selama satu pekan. Guna penanganan lebih intensif. Karena kejadian ini maka protokol kesehatan pun diperketat. (Liputan6, 24/5/2021).


Menengok data harian yang dirilis satgas Covid-19 yang tercatat kumulatif mingguan kasus Covid-19 mengalami lonjakan. Pada periode 9-15 Mei 2021, jumlah kumulatif Covid-19 di Indonesia mencapai 26.908 kasus. Sepekan terakhir 6-22 Mei 2021 naik menjadi 33.234 kasus. Sementara jumlah kematian akibat terpapar Covid-19 terus mengalami kenaikan.


Periode 9-15 Mei 2021 kumulatif kasus kematian sebanyak 1125 kasus. Pada periode 16-22 Mei 2021 sudah mencapai 1238 kasus. Satgas mencatat per 22 Mei 2021 kasus kematian Covid-19 di Indonesia mencapai 2,78%. (CNN Indonesia, 23/5/2021).


Melonjaknya angka orang yang terpapar Covid -19 juga jumlah orang yang meninggal per-6 hari, menunjukkan kepada kita, perlu evaluasi di setiap langkah solusi yang telah diambil oleh pemerintah. Berbagai upaya yang telah dilakukan untuk menekan penyebaran Covid-19 meluas.


Beberapa kebijakan yang digulirkan pemerintah seakan-akan tidak mampu untuk menanggulangi wabah yang semakin hari semakin bertambah. Satu kebijakan yang diambil guna menekan penularan namun faktanya justru menambah klaster yang baru.


Semisal ketika masyarakat dilarang untuk mudik ke kampung halaman kala Idul Fitri tiba. Hal ini dilakukan guna untuk pemerataan vaksin dan juga menekan angka penyebaran virus. Masyarakat yang sudah melakukan vaksinasi merasa bahwa dirinya sudah aman dari virus, sehingga berbuat semaunya dan mengabaikan protokol kesehatan.


Atau di antara masyarakat yang sudah  mengantongi surat bebas Covid-19, boleh melenggang ke kampung halaman, namun apakah sudah yakin di tengah perjalanan atau berinteraksi dengan orang di kampungnya mereka tidak akan tertular virus ini.


Pembukaan tempat-tempat umum seperti pembukaan tempat wisata demi pulihnya perekonomian. Hal ini justru menimbulkan kerumunan dan juga banyak dari masyarakat yang menyepelekan pentingnya protokol kesehatan.


Persoalan di masyarakat tidak akan pernah tuntas, karena sistem yang diadopsi oleh negeri ini adalah kapitalisme. Setiap kebijakan yang diambil berdasarkan manfaat dan materi semata. Sementara negara abai dalam periayah atau pemeliharaan terhadap rakyatnya.


Demi pemulihan ekonomi berbagai cara ditempuh. Namun mengabaikan kesehatan dan keselamatan rakyat. Yang seharusnya menjadi prioritas, karena rakyat adalah tanggung jawab negara.


Abainya negara dalam pemeliharaan terhadap rakyat menambah daftar panjang kesengsaraan rakyat dan melahirkan permasalahan- permasalahan yang baru. Setiap kebijakan yang lahir atau setiap peraturan yang ditetapkan mengandung kepentingan-kepentingan. Dan hal ini tergantung siapa yang memangku jabatan.


Dalam sistem pemerintahan Islam, negara bertugas mengurusi kebutuhan rakyat. Kebijakan dan peraturan yang diambil atas pertimbangan hukum syara. Karena hukum yang digunakan berasal dari Allah Swt., yaitu syar'iat Islam. Sehingga tidak ada kepentingan di dalamnya, apalagi hanya untuk pencitraan.


Negara memenuhi kebutuhan pokok rakyat berupa sandang, pangan, papan, layanan kesehatan, pendidikan,serta keamanan. Pemenuhan ini diambil dari Baitulmal. Adapun sumber Baitulmal adalah dari pengelolaan harta milik umum oleh negara, dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat,yaitu untuk pemenuhan kebutuhan rakyat. Sehingga kala wabah menerpa, kondisi perekonomian kokoh. Tanpa harus kebingungan untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi.


Jika kita belajar dari Rasulullah dan para sahabat, penanganan wabah adalah karantina atau penguncian daerah yang terkena wabah. Dengan demikian penanganannya akan lebih mudah dan penyebarannya bisa ditekan. Karena masyarakat yang berada di wilayah yang terjangkit wabah dilarang keluar. Begitu pula orang yang berasal dari luar wilayah wabah dilarang untuk masuk ke daerah yang terjangkiti wabah.


Sementara aktivitas ekonomi terus berjalan tanpa terpengaruh wabah. Sebab aktivitas ini dilakukan di daerah lain yang tidak terkena wabah. Dengan mengikuti semua yang diajarkan oleh Rasulullah, maka pandemi bisa teratasi. Bukan semakin berlarut-larut dan tak kunjung usai, ditambah pula semakin bertambahnya jumlah orang yang terpapar.


Untuk itu perlu dilakukan peninjauan ulang atas semua kebijakan dan aturan di tengah masyarakat. Setiap kebijakan harus mengacu kepada keselamatan seluruh masyarakat. Bukan untuk keuntungan yang diraih dan bukan pula untuk kepentingan segelintir orang, yang berada di lingkaran kursi kekuasaan. Sehingga lupa untuk siapa sesungguhnya ia berkuasa. Hanya kembali kepada sistem Islam semua persoalan akan mudah teratasi.


Waallahu a'lam bishshawab.