Derita Palestina, Kegagalan Sistem Kapitalisme Sekuler dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia


Oleh Ismarani Ummu Izzah

(Pemerhati Masalah Umat)


Palestina kembali bergejolak dan menjadi sorotan dunia. Penderitaan demi penderitaan dialami rakyat Palestina. Tanah Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha menjadi objek imperialisme Israel. Lebih dari seratus hari militer Israel terus menggempur Gaza dan wilayah seputar Masjid Al-Aqsha. Banyak korban jiwa yang di antaranya anak-anak. Parahnya, dunia kembali terdiam. Para pejuang HAM bungkam. Pun, para penguasa Arab hanya pandai mengecam dan beretorika. Ditambah sedikit bantuan kemanusiaan. Itu pun, tak luput dari jeratan pencitraan. Tak satu pun aksi nyata dari para penguasa muslim, mengirim pasukan militer untuk berjihad membebaskan rakyat Palestina dan tanah kaum muslim dari penjajahan keji Israel.  


Padahal, sudah ratusan korban wafat akibat keganasan kaum zionis. Bukankah telah jelas, bahwasanya di mata Allah Swt., jangankan ratusan jiwa, menghilangkan nyawa satu orang saja tanpa hak, sama dengan membunuh seluruh manusia. Sebagaimana  firman Allah Swt. yang artinya: “Siapa saja yang membunuh satu orang, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia.”


Tanah Palestina sesungguhnya merupakan tanah wakaf milik kaum muslim. Bukan hanya milik bangsa Arab atau bangsa Palestina saja. Palestina telah berada di bawah kekuasaan Islam saat dibebaskan oleh Khalifah Umar bin al-Khattab ra. Pada tahun 15 H. Beliaulah yang langsung menerima tanah tersebut dari Safruniyus di atas sebuah perjanjian yang dikenal dengan perjanjian ‘umariyah, yang di antara isinya berasal dari usulan orang-orang Nasrani, yaitu agar orang Yahudi tidak boleh tinggal di dalamnya. 


Namun, sejak Khilafah utsmaniyah runtuh pada 3 Maret 1924, tanah Palestina jatuh ke tangan zionis Yahudi, sang agresor dan penjajah. Zionis Yahudi berhasil mendirikan entitas negaranya pada tahun 1948 dengan menduduki 77% tanah Palestina dan setelah mengusir  2/3 rakyat Palestina dari tanah mereka. Yang tersisa tinggal 156 ribu jiwa (17 %) dari total warga entitas Israel saat didirikan. Itupun mereka seperti warga asing di tanah mereka sendiri. Sejak pendudukan itu, menurut Dr. Ibrahim Abu Jabir, sebanyak 478 desa dilumatkan dari total 585 desa yang ada di wilayah Palestina 1948. Akibatnya, sebanyak 804 ribu orang Palestina hijrah keluar wilayah terjajah 1948. Sebanyak 30 ribu orang lainnya diusir dari tanah mereka ke daerah-daerah lain.

Sejak pendudukan Israel tahun 1948, sudah ratusan ribu orang Palestina tewas dibantai. Puluhan ribu luka-luka, cedera bahkan cacat. Ratusan ribu kehilangan rumah, tempat tinggal dan pekerjaan. Ribuan wanita dilecehkan kehormatannya bahkan diperkosa. Ribuan anak-anak menjadi yatim piatu. Masjid Al-Aqsha pun diserang lebih dari 100 kali sejak tahun 1967.


Padahal, Al-Aqsha adalah salah satu masjid agung tempat suci ketiga bagi umat Islam dan satu dari tiga masjid yang direkomendasikan Nabi saw. untuk dikunjungi. Rasulullah saw. pun bersabda, “Sekali salat di Masjidil Haram sama dengan 100.000 salat. Sekali salat di MasjidKu (di Madinah) sama dengan 1000 salat. Sekali salat di Masjid Al-Aqsha sama dengan 500 salat.“ (HR. At-Thabrani dan Al-Bazzar). 


Adapun Al-Quds adalah tempat yang amat mulia, tanah wahyu dan kenabian. Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Para Nabi tinggal di Syam dan tidak ada sejengkal pun kota Baitul Maqdis kecuali seorang nabi atau malaikat pernah berdo’a atau berdiri di sana.“ (HR. At-Tirmidzi). 


Al-Quds juga merupakan tanah kiblat pertama bagi kaum muslim sampai Allah menurunkan wahyu untuk mengubah kiblat ke arah ka’bah (QS. Al-Baqarah: 144). 


Selain itu, Al-Quds adalah tanah yang diberkahi, sebagaimana firman Allah Swt.: "Kami menyelamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah kami berkahi untuk seluruh alam." 


Berdasarkan nash-nash tersebut, jelaslah tanah Palestina, Yerusalem dan Al-Aqsha adalah bagian dari Islam dan kaum muslim. Karena itulah, ketika pada tahun 1099 pasukan salib menaklukkan Al-Quds sekaligus membantai dengan sadis sekitar 30 ribu kaum muslim di sana, maka keinginan untuk menguasai kembali Al-Quds tidak pernah padam di dada para penguasa muslim saat itu. Akhirnya, pada tahun 1187 Shalahudin Al-Ayubi sebagai komandan pasukan muslim saat itu, berhasil membebaskan kembali Al-Quds yang telah diduduki selama sekitar 88 tahun oleh kaum Yahudi.  Namun, setelah Khilafah Turki Utsmani runtuh menjadi awal kembalinya penderitaan rakyat Palestina. 


Dalam menyelesaikan masalah Israel-Palestina, banyak pihak menawarkan berbagai solusi parsial. Pertama, solusi two state (dua negara). Yang dimaksud adalah mengakui kemerdekaan Palestina dua negara dan hidup berdampingan dengan Israel. Solusi ini seolah-olah bisa menyelesaikan masalah tapi sesungguhnya membahayakan bagi umat Islam. Mengapa? Karena, itu sama saja mengakui entitas Yahudi.


Kedua, solusi memboikot barang-barang Yahudi Israel. Seruan boikot terhadap produk-produk Israel patut diapresiasi sebagai bentuk perlawanan terhadap institusi penjajah tersebut. Hanya saja, ketika kita dalami lebih lanjut, hal ini tidak akan memberikan pengaruh signifikan terhadap penyelesaian masalah Palestina. 


Ketiga, meminta PBB untuk memberikan sanksi kepada Israel. PBB yang diklaim sebagai penjaga keamanan dunia justru biasa-biasa saja. Bahkan, cenderung  menutup mata dan telinga terhadap kebiadaban Israel. Lalu apakah kita masih bisa berharap kepada PBB?


Keempat, meminta rakyat Palestina hijrah meninggalkan tanahnya agar muslim Palestina aman dan leluasa menjalankan ibadahnya. Solusi ini pun seolah-olah akan menyelesaikan masalah. Namun, sesungguhnya ini merupakan penyelesaian yang menyesatkan. Mengapa? Karena itu  sama artinya dengan kita menyerahkan tanah Palestina kepada musuh kaum muslimin.


Padahal, tanah Palestina adalah tanah kaum muslimin. Sehingga, alih-alih menyelesaikan masalah Palestina, yang terjadi justru semakin menguatkan eksistensi Yahudi di tanah Palestina. Sebagai seorang muslim, di mana pun berada, sepatutnya berkontribusi dalam upaya mengembalikan al-Quds sebagai tanah kaum muslim. Umat Islam seluruh dunia mesti bersatu, bahu membahu untuk merebut kembali tanah Palestina dari penjajah Yahudi Israel laknatullah’alaih. 


Masalah Palestina bukan sekadar masalah kemanusiaan. Akan tetapi, menyangkut masalah Islam dan seluruh kaum muslim. Pasalnya, tanah Palestina adalah tanah kharajiyah milik kaum muslim di seluruh dunia. Statusnya tetap seperti itu sampai hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang berhak menyerahkan tanah kharajiyah kepada pihak lain, apalagi kepada perampok dan penjajah seperti Yahudi Israel.  Sebagaimana sikap yang ditunjukkan oleh Sultan Abdul Hamid II, yang menolak segala bentuk penyerahan tanah Palestina kepada kaum kafir, meskipun hanya sejengkal.


Olehnya itu, sepatutnya sikap kaum muslim terhadap Israel yang telah merampas tanah Palestina adalah sebagaimana yang telah Allah Swt. perintahkan, yakni perangi dan usir. Sebagaimana  firman Allah dalam QS. al-Baqarah ayat 191 yang artinya, “Dan perangilah mereka di mana saja kamu jumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah/kekufuran lebih berbahaya dari peperangan.” (TQS. al-Baqarah: 191).


Sikap inilah yang kita bangun dalam diri umat Islam. Kita bangun jiwa militansi dalam diri-diri kita sebagai pejuang Syariah dan Khilafah. Sebab, penyelesaian tuntas masalah Palestina tidak cukup hanya dengan mengirimkan donasi atau do’a semata. Akan tetapi, harus diiringi dengan perjuangan mewujudkan kembali kekuasaan Islam yang berlandaskan akidah dan syariah Islam. Itulah Khilafah Islam yang mengikuti manhaj kenabian. Khilafahlah satu-satunya pelindung umat yang hakiki, yang akan menyerukan jihad untuk memerangi siapa saja yang memusuhi Islam dan kaum muslim. Dengan kekuatan jihad fi sabilillah, Khilafah pasti sanggup mengusir Israel dari tanah Palestina. Wallahu a’lam bishshawab.