Oleh Sera alfi Hayunda


Sudah tahun calon jamaah haji Indonesia harus menelan kekecewaan karena pemerintah memutuskan meniadakan pemberangkatan haji dari Indonesia. Tentu hal ini membuat jamaah haji tidak sekadar kecewa tapi membuat jamaah haji benar-benar marah. Pasalnya, alasan keputusan ini terkesan mengada-ada. Malah menjadikan pihak Saudi sebagai kambing hitam.


Alasan yamg pemerintah beberkan bahwa dikarenakan pandemilah pihak Saudi tak memberi ruang bagi jemaah Indonesia. Tapi nyatanya, pihak otoritas Saudi sama sekali belum mengambil keputusan apa-apa. Hal itu tampak dari klarifikasi yang disampaikan Dubes Saudi. Hingga ia mengkritik, semestinya pemerintah berkomunikasi dengan pemilik otoritas di Saudi. Supaya info yang disampaikan benar-benar valid. (Kompas.com, 4 Juni 2021) 


Ditambah lagi beredar tangkapan layar artikel dari situs Gelora.co menyebutkan jika karena pembatalan jamaah haji lalu para calon jamaah haji melakukan penarikan maka efeknya akan menyebabkan tidak dapat berhaji seumur hidup. (Gelora.id, 8 Juni 2021) 


Paham artikel tersebut viral, maka langsung banyak klarifikasi dari berbagai media, bahwa yang tertulis dalam artikel itu tidak benar. Yang benar menurut BPKH jika melakukan penarikan maka jelas dia kehilangan antrian. Jika ingin haji maka dia harus mengantri dari awal dan harus menunggu dari awal lagi, alias antriannya di tahun ini hangus. (Merdeka.com, 10 Juni 2021) 


Maka dari semua yang terjadi ini sangat wajar jika masyarakat melancarkan berbagai tudingan. Maklum, selama ini urusan dana haji memang sensitif dan dinilai jauh dari transparan. Bisa dibayangkan, yang antre diberangkatkan sudah lebih dari 5 juta orang. Sedangkan dana setoran yang terkumpul sudah mencapai Rp150 triliun. Di manakah gerangan dana itu tersimpan?


Pemerintah sendiri meyakinkan bahwa keputusan itu tak ada hubungannya dengan uang. Karena Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) disebut-sebut sudah bekerja dengan penuh tanggung jawab dan profesional. Namun tetap saja, track record pemerintah yang selalu bermasalah soal keuangan terkhusus dalam urusan utang mengutang. Membuat rakyat terus diliputi rasa waswas dan curiga. 


Padahal diketahui masalah penyelenggaraan haji merupakan pekerjaan rumah pemerintah dari masa ke masa. Tapi sayangnya antusias masyarakat untuk menunaikan salah satu kewajiban yang tertera dalam rukun Islam yang kelima ini tidak  diimbangi dengan pengurusan yang maksimal oleh negara. 


Paradigma kapitalisme yang dipakai sebagai dasar pengurusan masyarakat memang membuat permasalahan ini seakan tak ada ujungnya. Bahkan, dikarenakan paradigma ini, terjadilah pencampuradukan antara haq dan kebatilan. Akan berbeda halnya dengan sistem Islam. Dalam sistem Islam, negara berposisi sebagai ra’in (pengurus) sekaligus junnah (perisai) bagi umat atau rakyatnya.


Fungsi ini memiliki dimensi ruhiyah, berupa keyakinan bahwa kepemimpinan adalah amanah dari Allah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di Yaumil Hisab. Maka, perintah dan larangan Allah akan senantiasa menjadi patokan negara dalam pengaturan seluruh urusan rakyat. Termasuk dalam memfasilitasi dan mempermudah masyarakat memenuhi kebutuhannya dan menunaikan kewajibannya.


Terlebih, dalam Islam, praktik ibadah semacam haji termasuk dalam syiar-syiar Allah yang wajib ditegakkan bukan hanya oleh individu, tapi juga oleh negara. Maka, urusan haji pun menjadi sangat politis, sehingga negara akan berhati-hati untuk memastikan penyelenggaraannya tak menemui hambatan yang berarti. Bukan belum ada keputusan apa-apa dari Saudi lalu buru-buru beri keputusan tidak bisa berangkat haji karena alasan ini dan itu. 


Maka cukuplah dari semua yang menimpa umat hari ini, termasuk wabah yang makin menjadi dan akhirnya menghambat penyelenggaraan ibadah haji, sebagai penambah bukti betapa keberkahan memang makin jauh dari umat ini. Maka, sepatutnyalah kita segera bertobat dengan kembali menjadikan Allah Swt. sebagai tujuan. Lalu melakukan koreksi mendasar dalam seluruh pengaturan kehidupan. Yakni dengan menjadikan seluruh hukum-hukumnya sebagai satu-satunya tuntunan dalam mengatur semua aspek kehidupan. Wallahu a'lam bish-shawwab

 
Top