Oleh Mariyah Zawawi


Suatu sore, di mushola Gg. SDN Sukorejo. Seperti biasa, ibu-ibu RT sudah berkumpul untuk mengikuti pengajian rutin. Pengajian yang diadakan satu bulan sekali. Panitianya bergantian dari satu dasawisma ke dasawisma lainnya. Ada yang bertugas sebagai pembawa acara. Ada juga yang memimpin membaca surat Yasin. Ada yang bertugas mengantarkan air minum untuk Bu nyai yang mengisi pengajian. Kalau konsumsi, dikerjakan bersama oleh semua anggota dasawisma.

Pengajian itu rutin diisi oleh seorang mubalighah sekaligus anggota DPRD Bojonegoro. Namanya Bu Dra. Hj. Cicik Mursidah. Jika beliau berhalangan, pengajian akan diisi oleh sahabat beliau, Bu Nyai Hj. Maskanah. Terkadang, karena ada keperluan yang mendadak, pengajian akan diisi oleh guru agama yang rumahnya dekat mushola. Ah, saya lupa namanya. Pak Musta'in atau siapa, saya lupa.

Nah, sore itu Bu Cicik tidak bisa hadir. Bu Nyai Maskanah sudah siap menggantikan beliau. Kami pun memulai acara pengajian itu. Setelah selesai pembukaan dan pembacaan surat Yaasin, Bu Nyai Maskanah pun memulai memberikan tausiyahnya. Namun, sesaat setelah beliau membukanya dengan salam dan sholawat nabi, beliau berkata,

"Monggo ibu-ibu ingkang pinarak dateng njawi kulo aturi majeng mriki." (Ibu-ibu yang duduk di depan, silakan menghadap ke sini)

Beliau kemudian melanjutkan, "Adabipun tiyang pados ilmu niku mboten pareng nyingkuri gurune." (Adab orang mencari ilmu itu tidak boleh membelakangi gurunya)

Saat itu, saya juga kebagian duduk di teras. Mushola yang tidak terlalu besar itu sudah penuh dengan ibu-ibu. Biasanya, saya lebih suka duduk di dalam mushola. 

Mendengar perkataan beliau, saya merasa malu. Saya merasa sedang dijewer telinga saya karena melakukan suatu kesalahan. 

Kami yang duduk di teras memang posisinya membelakangi Bu Nyai yang mengisi pengajian. Maklumlah, kami ingin bersandar di tembok mushola. Tanpa kami sadari, kami telah melakukan su'ul adab. Maka, kami yang berada di teras mushola pun mengubah posisi duduk kami agar tidak membelakangi beliau.

Jadi ingat dengan kisah Imam Malik. Saat beliau menyampaikan keinginan beliau untuk menuntut ilmu, sang ibu berpesan kepadanya, "Pergilah ke Rabi'ah dan pelajarilah adab sebelum ilmunya."  Rabi'ah yang dimaksud di sini adalah Rabi'ah ibn Abi Abdirrahman ar-Ra'y. Beliau merupakan tabi'in termuda, ahli fikih, hadis, dan mujtahid di Madinah. 

Karena itulah, Imam Malik sangat memperhatikan adab. Bahkan, beliau berkata,

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Mengapa harus mendahulukan adab? Yusuf bin Al Husain berkata,

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau bisa memahami ilmu.”

Abu Zakariya An Anbari rahimahullah mengatakan,

علم بلا أدب كنار بلا حطب، وأدب بلا علم كروح بلا جسد

“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh.” 

Wajarlah, jika Imam Ibnu Mubarok bahkan  mempelajari adab selama 30 tahun dan mempelajari ilmu selama 20 tahun. 

ABDURAHMAN bin al-Qasim, seorang pelayan Imam Malik bin Anas menuturkan, “Selama dua puluh tahun aku menjadi pelayan Imam Malik. Delapan belas tahun aku gunakan  untuk mempelajari adab, sedangkan yang 2 tahun aku gunakan untuk mempelajari ilmu. Itu pun aku merasa menyesal, mengapa tidak kugunakan yang 20 tahun itu untuk mempelajari adab, sehingga ilmu akan berdatangan kepadaku setelahnya."

Inilah sikap para ulama dahulu. Mereka lebih mendahulukan belajar adab daripada belajar ilmu. Sudahkah kita belajar adab sebelum belajar ilmu?



Sumber gambar: http//infoabadi.org

 
Top