Akhiri Konflik Palestina dengan Solusi Cemerlang dari Islam



Oleh Neng Fia Nisa Fitria


Usaha Israel yang ingin menutup semua jalan warga Palestina untuk memerdekakan diri semakin nyata adanya. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Israel seperti menakut-nakuti dan penindasan yang tidak ada habisnya kepada bangsa Palestina karena masih terdapat beberapa wilayah yang belum dikuasai oleh Israel. Keinginan Israel untuk menguasai tanah Palestina dan menjadikan warga Palestina bergabung menjadi warga Israel secara resmi mengakibatkan sering terjadi gejolak di beberapa wilayah.

Gejolak tersebut disinyalir karena dipicu pihak Israel yang melakukan hal-hal yang membuat warga Palestina marah. Seperti kasus yang belum lama ini terjadi di tanah Palestina, dari mulai penyerangan Masjid Al Aqsa hingga pengumuman Gencatan Senjata. Dilansir oleh kompas.com dari AFP terdapat beberapa kronologi bentrok Palestina dan Israel terbaru seperti penyerangan Masjid Al Aqsa yang dipicu oleh kepolisian Israel yang menutup tempat warga Palestina yang biasanya berkumpul setelah berpuasa, kemudian dilanjutkan dengan pengancaman pengusiran puluhan warga di Kawasan Sheikh Jarrah beberapa hari setelah pertikaian di komplek Masjid Al Aqsa. Hingga konflik Hamas dan Israel yang terjadi pada tanggal 10 Mei malam yang dimulai dengan penembakan roket ke Israel dalam aksi solidaritas yang dibalas dengan serangan mematikan di Gaza daerah kekuasaan Hamas oleh Israel. 

Beberapa kronologi tersebut menghasilkan dorongan gencatan senjata dari beberapa Presiden salah satunya Presiden AS Joe Biden yang menelpon langsung sekutunya, PM Israel Benjamin Netanyahu. Pengumuman gencatan senjata tanpa syarat disampaikan oleh kantor Netanyahu dan dikonfirmasi oleh Hamas dan Jihad Islam yang berlaku mulai Jum’at (21/5/2021) pukul 02.00 dini hari waktu setempat.

Dalam berbagai literatur sejarah Islam disebutkan bahwa tanah Palestina adalah milik umat Islam, tanah para nabi, tanah yang diberkahi, tanah yang begitu banyak meninggalkan jejak perjalanan spiritual.

Namun sejak Zionis menduduki Palestina, kehidupan di sana tidak pernah tenang. Muslim di sana mengalami berbagai penderitaan, dan selalu harus siap dengan berbagai serangan yang mungkin akan muncul tanpa bisa diprediksi. 

Sangat jelas bahwa masalah utama tragedi Palestina adalah adanya penjajahan yang dilakukan Israel. Maka jika faktanya seperti itu, solusi yang harus dilakukan pun harus sesuai dan masuk akal. 

Dalam hal ini penjajahan tidak mungkin bisa selesai hanya dengan mengirimkan bantuan makanan, obat-obatan dan berbagai fasilitas kesehatan. Penjajahan juga tidak mungkin bisa dihentikan dengan beragam diplomasi, resolusi bahkan sekadar kecaman.

Sudah sering PBB melayangkan resolusi, namun nyatanya, Israel tak pernah menghiraukan. Mereka terus melakukan serangan, meski seluruh dunia memberikan kutukan. Karena senjata tidak bisa dihentikan dengan dialog. Senjata hanya bisa dilawan oleh senjata, begitupun dengan militer hanya bisa dihentikan oleh militer.

Meski informasi terbaru kemarin telah ada gencatan senjata, namun ini bukanlah kemenangan akhir. Justru adanya gencatan senjata setelah Israel menyerang kaum muslim dengan membabi buta seolah memberi waktu pada Israel. 

Selama Israel masih menduduki Palestina, selama itu pula penjajahan masih ada dan penderitaan muslim Palestina akan terus berlangsung.

Lantas adakah solusi untuk menyudahi konflik Israel dan Palestina ini? Doa adalah hal yang bisa kita lakukan saat ini. Doa kepada Allah Swt. merupakan senjatanya kaum mukmin sebagaimana hadis Nabi saw.: “Doa adalah senjata orang mukmin.” (HR. al-Hakim).

Inilah dorongan terkuat yang membuat kaum muslimin selalu optimis dalam kondisi apa pun, dengan keyakinan bahwa Allah akan memberikan kemenangan pada waktu yang tepat. Kemudian memberikan bantuan, baik berupa dana, makanan minuman, pakaian, obat-obatan, dan lain-lain.

Sebagaimana dalam hadis Nabi saw. berikut: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat.

Inilah yang dapat memberi dorongan untuk sesegera mungkin memberikan bantuan. Tapi apakah bantuan saja bisa membuat konflik ini selesai. Adakah cara lain untuk menyelesaikan hal ini. Jihad fi sabilillah adalah cara untuk membebaskan kembali Palestina dari penjajahan kaum Zionis Yahudi saat ini. Sebagaimana yang dilakukan oleh Salahuddin al-Ayyubi dalam membebaskan tanah Palestina.

Namun faktanya saat ini jihad justru banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin. Kaum muslim saat ini mengartikan jihad sebagai bersungguh-sungguh sebagaimana maknanya secara bahasa, namun dari berbagai dalil, makna syariatlah yang harus diambil yaitu bermakna perang.

Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al Anfal ayat 60: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

Dari ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan, yaitu pengadaan senjata dan militer yang tangguh dan mutakhir. Tentu ini membutuhkan keberadaan negara dalam mempersiapkannya. Dilihat dari sisi ini, Islam memosisikan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab langsung dalam menjaga darah dan wilayah kaum muslimin. Sebagaimana hadis Nabi saw.: “Imam (kepala negara) adalah junnah (perisai) dimana orang-orang berperang dan berlindung di belakangnya.”

Dalam sejarah kita mengetahui Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang sukses menaklukkan Kota Amuriyah, kota terpenting bagi imperium Romawi saat itu, selain Konstantinopel. Puluhan ribu pasukan kaum muslim dikerahkan oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang juga memimpin. Kemudian segera menuju Kota Amuriyah. Kota Amuriyah pun berhasil ditaklukkan. Pasukan Romawi bisa dilumpuhkan. Ini adalah Salah satu bukti dari apa yang disabdakan Rasulullah saw. di atas.

Namun kenyataannya, setelah pendudukan Palestina oleh kaum Zionis Yahudi berjalan lebih dari 70 tahun, para penguasa Arab dan muslim tidak ada yang mengerahkan pasukan mereka untuk berjihad membela Palestina. Maka dari itu, umat memang butuh solusi cemerlang berdasarkan syariat Islam dengan tegaknya kembali Khilafah, juga seorang khalifah seperti Al-Mu’tashim Billah pemimpin pemberani yang mengayomi dan menyatukan berbagai negeri Islam; menjaga kehormatan kaum muslim; dan menolong kaum tertindas.

Wallahu a'lam bishshawab.