Wisata Nyaman, Aman dan Bahagia

 




Oleh D. Kusuma

Pemerhati Umat


Ramadan telah berlalu, kebahagiaan salat berjamaah Ied pun telah terlewati. Shaum Syawal pun tengah berjalan. Pada bulan Syawal, puasa 6 hari pahalanya seperti puasa sepanjang tahun. Salah satu ciri Ramadan yang telah lalu dan membekas di hati umat Islam, tentu dia melanjutkan ibadahnya dengan berpuasa di bulan Syawal. 

Bukan berarti berlalunya Ramadan, kita terjun bebas tanpa kekangan dan aturan. Pasca Ramadan pariwisata dibuka kembali.

Sindonews.com melansir, Jumat 14/5/2021 pantai Ancol dibuka untuk umum. Pengunjungpun membludak hingga ± 39 ribu orang. Kerumunan wisata ini dikhawatirkan akan menimbulkan klaster baru virus Covid-19.

Ancol pun sempat menjadi trending topic di twitter. Dan tak sedikit warganet yang membandingkan kerumunan di pantai Ancol, mirip dengan ritual mandi warga India di sungai Gangga. Hal ini bisa memicu naiknya gelombang "tsunami" Covid-19.

Kejadian ini membuat geram warganet , yang mana disisi lain melarang warga untuk ziarah kubur yang merupakan ritual umat muslim.

Muhaimin Iskandar wakil ketua DPR meminta Pemprov DKI bijak, tidak membuat standar ganda. Dengan kerumunan yang terjadi tentu sulit untuk melakukan prokes yang dicanangkan pemerintah. Apalagi wisata tempat mandi di pantai, bagaimana mungkin mereka akan memakai masker dan jaga jarak.

Dengan membludaknya pengunjung akhirnya Pemprov DKI menutup kembali tempat-tempat wisata seperti Ancol, TMII serta Ragunan. Hal ini disampaikan oleh PLT Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta Gumilar Ekalaya dalam sebuah surat edaran yang diberikan kepada pengelola ketiga tempat wisata tersebut. Dikutip CNBC dari detik.com, Sabtu (15/5/2021)

Gubernur Banten Wahidin Halim juga menginstruksi kan untuk menutup seluruh desintasi wilayah provinsi itu, untuk mencegah penularan Covid-19. Aturan ini diterbitkan Sabtu malam (15/5/2021) usai desintasi wilayah Banten dipadati wisata tanpa prokes dan kemacetan total disejumlah ruas jalan menuju lokasi.


Wisata pasca Ramadan meningkat, sementara mudik dilarang.

Larangan mudik yang diberlakukan dari tanggal 6-17 Mei 2021 membuat lara bagi warga negeri ini. Saat dimana umat muslim setelah satu bulan penuh menjalankan ibadah shaum Ramadan. Tentu sangatlah menunggu moment untuk bersilaturahmi dengan orang tua, saudara, kerabat dan sahabat. Impian ini tidak terjadi karena larangan mudik.

Dibukanya tempat wisata dimanfaatkan warga sejak hari kedua Idul Fitri Jum'at (14/5/2021) dan Sabtu (15/5/2021). Sejumlah tempat wisata terpantau penuh sesak oleh pengunjung. Dan mereka tidak menjalankan prokes, tidak menjaga jarak, serta tidak memakai masker.

Islam sebagai agama yang telah disempurnakan, lengkap mengatur segala urusan dan aktivitas seluruh umat. Dalam hal wisata, Islam juga mempunyai aturan. Adapun 

tujuan wisata dalam Islam, adalah mampu untuk menambah ketakwaan kita. Takwa adalah wujud kita untuk taat terhadap seluruh aturan Allah.

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas 

kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." 

(TQS: al-Baqarah: 83)

Tujuan mulia wisata menurut Islam mampu untuk meraih derajat insan yang mutaqin.

Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya wisata umatku adalah berjihad dijalan Allah."

(HR Abu Dawud, 2486)

Mampu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan berdakwah untuk menyampaikan kebenaran Islam.

Wisata dalam Islam adalah untuk tadabbur alam, merenungkan keindahan alam sebagai salah satu ciptaan Allah serta mampu untuk memotivasi diri untuk memperbanyak ibadah kepada-Nya.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal." 

(TQS Ali Imran: 3)

Betapa indahnya wisata sesuai syariat. Dengan wisata mampu untuk meningkatkan kualitas ketaatan kepada Allah.

Dengan berwisata bukan malah meninggalkan kewajiban kita kepada Allah, seperti salat lima waktu.

Kadang terbatasnya fasilitas ibadah ditempat rekreasi, sehingga akan mengakibatkan tersingkapnya aurat kita saat berwudhu, karena tempat wudhu ditempat yang terbuka. Bahkan membuka peluang untuk berbuat maksiat. Dengan melihat pengunjung yang tidak menutup aurat sesuai syariat. Terbukanya peluang pengunjung untuk bermaksiat, dengan zina mata, berpacaran, mengumbar nafsu dalam berbelanja di area rekreasi lain sebagainya. 

Wallahu a'lam bishshawab