Tragedi Nanggala 402, Buramnya Alutsista Indonesia


Oleh Nur Octafian N.L S.Tr. Gz

(Relawan Media)


Indonesia dan dunia kemaritiman berduka, 53 jiwa prajurit gugur di Perairan Bali. Berdasarkan bukti-bukti otentik KRI Nanggala 402 dinyatakan subsunk (tenggelam), pada Sabtu 24 April 2021 pukul 17.00 Wita setelah hilang kontak (submiss) pada Rabu, 21 April 2021 di Perairan Bali. Kapal selam buatan jerman ini telah menemani TNI AL selama kurang lebih 40 tahun. KRI Nanggala 402 ditemukan terbelah menjadi 3 bagian dan tenggelam di kedalaman 838 meter, jauh melampaui daya selamnya yang hanya mencapai 257 meter. 

Dari tragedi tenggelamnya KRI Nanggala-402 sejumlah pengamat dan pakar kemiliteran menyorot masalah alat utama sistem persejataan (alusista). Publik mendesak agar pemerintah segera melakukan peremajaan alutsista (alat utama sistem persenjataan). 

Namun sayangnya peremajaan alutsista terkendala terutama dalam hal pendanaan seperti yang disampaikan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Eks Danjen Kopassus itu juga menyebutkan bahwa banyak alutsista dalam keterpaksaan, belum dimodernisasi lebih cepat. Karena pemerintah masih mengutamakan pembangunan kesejahteraan dan investasi di bidang pertahanan sangat mahal. (Fokus.tempo.co 22/04/21)

Bila berbicara soal anggaran, maka bukankah negeri ini memiliki sumber daya alam yang melimpah? Namun sayangnya, kekayaan alam yang luar biasa tersebut lebih banyak dinikmati oleh para kapital dan korporat asing melalui konsep liberalisasi. Penerapan ideologi kapitalisme dalam pengelolaan sumber daya alam telah menjadikan rakyat penghuni negeri ini hanya merasakan recehan kekayaan alamnya sendiri. 

Tak berhenti pada potensi sumber daya alam, dalam alokasi anggaran menimbulkan pertanyaan. Mana lebih penting dan menjadi prioritas, membangun ibu kota baru atau memperkuat armada laut dan industri dan modernisasi di sektor kelautan Indonesia?

Oleh karenanya dengan sistem kapitalisme yang berorientasi materi tak sepenuhnya akan serius mengurusi bidang militer yang memang membutuhkan dana yang cukup besar. Hal ini menjadi faktor tarik ulur prioritas dana. Maka tak heran sektor yang investasinya menjanjikan, akan menjadi prioritas pembangunan. Terlebih sistem pendanaan yang berbasis utang dan pajak menjadikannya rapuh dan rentan intervensi asing. Apa dampaknya? 53 jiwa prajurit menjadi korban atas kesalahan prioritas tersebut. 

Bukan hanya itu, rawannya penyimpangan praktik korupsi dalam sektor pertahanan di bidang pengadaan alutsista makin memperburuk persoalan alutsista TNI. Belum lagi isu yang merebak yang membuka tabir mengenai adanya mafia dalam pengadaan alutsista. Menjadi PR besar bagi negeri ini dalam konteks pertahanan.

Tak bisa dipungkiri bahwa militer adalah bagian dari politik. Bahkan menjadi ujung tombak manuver politik, khususnya urusan politik luar negeri. Oleh sebab itu Islam memberikan perhatian besar pada bidang kemiliteran. Bahkan bukan hanya sekadar badan pertahanan melainkan sebagai departemen pelaksana kewajiban dari Allah Swt. yaitu menyebarkan Islam dengan dakwah dan jihad. Dengan demikian adanya tugas khusus ini. Departemen kemiliteran dituntut menguasai persenjataan tercanggih dan terkuat, selanjutnya kekuatan militer akan menjadi kekuatan terstruktur.

Negara akan mendukung sepenuhnya kekuatan kemiliteran dengan membangun industri militer yang akan senantiasa membuat teknologi baru dan tercanggih dalam bidang alutsista, sehingga makin meningkatkan kewibawaan negara Islam dan sekaligus menggentarkan negara-negara musuh. 

Pembangun industri militer sebagai penunjang kekuatan pasukan bahkan pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Berdasarkan hadis dari Abu Dawud dalam Al-Marasil dari Makhul dan Ash-Shan’ani dalam Subul as-Salam, pada saat pengepungan kota Thaif selama 15 hari, Salman al-Farisi membuat senjata pelontar sendiri kemudian menunjukkannya kepada Rasulullah dan memberikan masukan kepada Beliau agar menggunakan senjata pelontar ini untuk menggempur benteng saat di Persia. Dan masih banyak lagi sejarah gemilang yang dicatat kemiliteran Islam dengan pengembangan-pengembangan alutsistanya. Jika pada masa itu saja umat muslim mampu mengembangkan alat militer di darat maupun di laut, maka sebuah kemustahilan saat ini bila ingin melakukan modernisasi alutsista militer.

Dalam hal pendanaan departemen kemiliteran, Baitul Mal dari pos kepemilikan negaralah yang turut membiayainya. Dana ini diperoleh dari fai, jizyah, kharaj, ‘usyur dan khumus. Namun bila dana ini tidak mencukupi, Khalifah dapat mengambil dana dari pos kepemilikan umum, jika masih tidak mencukupi negara boleh mengambil pajak dari warga negara hingga dana yang dibutuhkan tersebut terpenuhi dan pajak dihentikan. Pajak ini bersifat temporal, tidak berlangsung terus menerus dan dipungut dari kalangan orang kaya. Oleh karena itu, negara berperan secara mutlak selain itu sumber dana yang mencukupi dan semangat yang didorong oleh akidah Islam. Karenanya tak heran jika sejarah kemiliteran Islam telah menorehkan prestasi yang begitu luar biasa. 

Karena tentu ketika Islam diambil secara menyeluruh dalam semua bidang terutama kemiliteran, maka pengembangan alutsista militer dengan teknologi modern bukan sesuatu yang sulit diwujudkan. Sehingga kasus seperti tragedi Nanggala 402 yang disinyalir subsunk karena faktor usia dan menimbulkan korban jiwa pun dapat dihindari.

Wallahu a'lam bishshawab.