Oleh Yulia Ummu Haritsah

Ibu Rumah Tangga Penulis Bela Islam


Di sepuluh malam terakhir bulan  Ramadan, dimana semangat, girah kaum muslimin dalam mengisi malam-malam terakhirnya  semakin memuncak, bahkan hampir di berbagai negeri, mengisi hari-harinya dengan amal ibadah yang lebih oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, untuk mendapatkan predikat takwa di sisi Allah Swt., Tuhan seluruh alam. 


Hampir di seluruh negeri-negeri kaum muslimin, di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan ini, semangat mengisi dengan amal ibadah pun kian menyemarak, baik di malam hari ataupun siang harinya, dengan itikaf dan tadarusnya. Sampai dalam memperingati malam Nuzulul Qur'an, ataupun mengintip datangnya malam lailatul qadar-Nya, kapan datangnya malam kemuliaan itu, dimana malam lailatul qadar lebih mulia dari 1000 malam.


Namun di malam-malam kemuliaan itu yang diisi dengan ibadah, di negeri Palestina terjadi suatu tragedi  kekerasan yang menimpa kaum muslimin yang tengah beribadah di Masjid Al-Aqsa, salah satu masjid yang dimuliakan oleh Allah dan Rasul-Nya, setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Di malam-malam yang penuh dengan kemuliaan itu, dengan bengisnya kepolisian Israel membabibuta melakukan penyerangan di Masjid Al-Aqsha tersebut.


Menurut media, yang dilansir oleh Reuters, bentrok ini dipicu karena pengklaiman tanah yang diklaim tanah milik Yahudi atas tanah Palestina. Dengan adanya potensi penggusuran sejumlah keluarga Palestina dari rumah mereka. Maka, bentrok pun tak bisa dielakkan, meski jauh tak seimbang antara kaum muslimin yang sedang melakukan ibadah di Masjid Al-Aqsa yang beralatkan batu seadanya, dengan aparat kepolisian Israel, dengan peluru karet dan granat kejutnya. 


Sungguh biadab, di tengah ibadahnya mereka diserbu, dan korban terluka pun berjatuhan, dari bentrokan ini, sedikitnya ada 178 warga Palestina, yang mengalami luka, kejadian ini terjadi hari Jum'at 7 Mei, ketika  warga Palestina tengah beritikaf di Masjid Al-Aqsa. 


Dengan kekerasan yang terjadi di Masjid Al-Aqsa seluruh negeri muslim lainnya mengecam tindakan Zionis Israel tersebut. Mengecam dan mengutuk kebengisan Zionis Israel kepada kaum muslim Palestina. Namun, apakah kecaman dan kutukan itu bisa menjadi solusi?


Menurut Wakil Ketua  DPR komisi VIII, Ace Hasan Syadziliyah kejadian ini tidak bisa ditolelir, seperti yang dilansir oleh Detiknews.com  mengatakan bahwa, "Saya kita, PBB dan negara-negara OKI  harus turun tangan untuk menyelesaikan kekerasan berdarah ini, kekerasan ini harus disudahi," Begitu  keterangannya pada Minggu 9/5/2021 lalu. 


Memang kekerasan yang dialami oleh Palestina oleh Zionis Israel, sering terjadi, namun tidak ada penyelesaian yang nyata. PBB yang diharapkan tak kunjung memberikan solusinya, begitu pun OKI, perkumpulan negeri-negeri muslim, yang tak bisa berbuat banyak, karena negara disekati oleh paham nasionalismenya. 


Racun nasionalisme telah memperdaya kita selaku umat muslim, kita tak bisa menolong saudara kita sesama umat muslim yang terluka dan yang teraniaya, padahal kita sesama muslim adalah saudara, bagaikan satu tubuh, bila satu disakiti maka yang lain akan merasakan sakitnya. 


Berharap kepada PBB, bagaikan pungguk merindukan bulan, hanya ilusi belaka, kebengisan Zionis Israel hanya bisa dipadamkan oleh kekuatan militer pula. Tidak dengan negosiasi, berharap perdamaian, karena sesungguhnya, memerangi harus dengan kekuatan senjata pula. Siapakah yang akan bisa melepaskan Palestina dari cengkeraman Zionis Israel, yang dahulu datang ke Palestina hanya atas dasar rasa kemanusiaan? Palestina menerima kedatangan Zionis ini. 


Yang bisa membebaskan umat muslim dari cengkeraman penjajahan hanyalah kekuatan militer umat Islam. Umat Islam harus bersatu, di bawah satu komando, maka kekuatan Islam pun akan menjadikan taring di hadapan kaum kafir. Tak akan ada yang berani mengganggu umat Islam seandainya umat Islam bersatu. Umat Islam tidak disekat-sekat oleh garis teritorial negara, maka lenyap pulalah paham nasionalisme, yang sekarang diagungkan. Kekuatan Islam dalam satu komando, yang dipimpin oleh seorang pemimpin umat Islam, seorang Amir, yang disebut seorang Khalifah.


Untuk itu, umat Islam bersatulah, tegakkan kepemimpinan umat. Umat yang satu yaitu umat Islam, pemimpin yang satu yaitu seorang khalifah, negara yang satu yaitu Daulah Islamiyah. Dalam satu bendera  peninggalan Rasulullah al-liwa Ar-royah, dari Sabang sampai Maroko, terbentang kekuatan umat Islam. Daulah Islamiyah. 


Wahai umat Islam sesungguhnya kemenangan itu milik umat Islam, ini merupakan janji Allah Swt., dan juga menjadi bisyarah Rasulullah saw. 


Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top