Teknologi Antarkan Pemuda Bangkit Menuju Kebangkitan Hakiki


Oleh Ariefdhianty Vibie 

(Muslimah Cinta Islam)


Pemuda adalah sosok yang menjadi penentu masa depan bangsa. Pemuda adalah masa produktif seorang manusia yang memiliki semangat hidup tinggi dan pemikiran yang cerdas. WHO mengkategorikan pemuda berusia kisaran antara umur 15 tahun hingga 24 tahun, begitu pula definisi yang diberikan oleh World Bank dan United Nations General Assembly. Pemuda menjadi harapan dan tumpuan bangsa, karena pada akhirnya mereka yang akan membawa bangsa ini menuju bangsa yang maju atau justru sebaliknya. Pemuda adalah pilar Negara dimana mereka akan menjadi corak penentu bangsa. Dengan semagat yang gigih, pemikiran yang cerdas, dan kritis, para pemuda sangat diharapkan oleh masyarakat agar membawa perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Namun, bagaimana dengan realita pemuda sekarang?


Pemuda saat ini identik dengan hura-hura, hedonisme, pergaulan bebas, individualis, dan sangat pragmatis, tidak lagi peka terhadap keadaan. Mereka menjadi pemuda yang gemar bersosialisasi lewat media online untuk tampil eksis, narsis, atau mengejar keuntungan semata melalui konten yang bisa bersifat viral. 


Hanya sedikit suara pemuda yang kritis dan berani. Padahal bangsa ini telah berada dalam jurang kehancurannya. Dimana peran pemuda saat ini ketika masyarakat membutuhkannya? Pemuda saat ini tak lagi memiliki idealisme yang jelas. Mereka cenderung terbawa oleh gaya hidup bebas yang menggiurkan. Idealisme yang mereka punya luntur begitu saja ketika disodorkan berbagai kesenangan dan kenikmatan duniawi. Pragmatisme melanda hampir seluruh pemuda bangsa ini, mereka tidak tahu bagaimana cara mengatasi persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, bahkan sama sekali tidak tahu dengan masalah yang terjadi. Suara kritis mereka hilang ditengah gelombang hiburan yang menghipnotis pikiran dan jiwa. Materialisme diagungkan demi memenuhi kenikmatan sesaat itu. Sebagian yang lain, yang tertekan atas himpitan ekonomi dalam pendidikan, lebih memilih untuk fokus menyelesaikan studi agar setelah lulus nanti dapat segera menukarkan tenaga dengan uang yang sudah terbuang demi pendidikan. 


Itukah pemuda harapan bangsa? Yang hanya memikirkan kesenangannya saja, atau yang terus mengejar materi demi kelangsungan hidupnya sendiri? Mau dibawa kemana masa depan bangsa ini, jika pemudanya saja tidak peduli dengan nasib bangsanya sendiri. Pemuda tak lagi bisa diharapkan, kecuali dengan mengubah mindset dan jalan hidupnya.


Pemuda Dibajak oleh Barat dan Teknologi


Kita tidak bisa memungkiri datangnya teknologi begitu cepat setelah adanya internet. Inilah yang menandakan Revolusi Industri 4.0. Inovasi-inovasi yang dilakukan pada berbagai macam gawai membuat manusia yang hidup saat ini terus melakukan eksplorasi karena tuntutan zaman. Pemuda adalah sasaran utama, karena mereka bisa belajar dan memahami lebih cepat. Teknologi canggih bisa dimanfaatkan untuk perubahan, tetapi tidak sedikit juga justru membuat mereka terjebak pada senang-senang dan materi belaka.


Padahal, pemuda selalu diberi julukan sebagai agen perubahan, karena dunia ini selalu diubah oleh tangan-tangan pemuda yang cerdas dan kritis. Peran pemuda adalah mengontrol jalannya kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah agar masyarakat dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, apa yang terjadi jika para pemuda sibuk menghibur diri dengan berbagai hiburan yang disajikan oleh teknologi dalam internet, membuat konten yang tidak bermanfaat malah jauh dari kesan edukatif, mengejar keviralan demi eksistensi diri dan popularitas dunia? Apakah potensi mereka dapat mengubah kondisi Indonesia ini menjadi lebih baik? Tentu tidak.


Globalisasi dari revolusi industri merupakan salah satu bentuk imperialisme modern saat ini yang dilakukan oleh Barat. Gaya hidup bebas, hura-hura, permisif, individualistik, dan materialistik menjadi acuannya. Asas sekularisme benar-benar telah melepaskan jati diri pemuda yang seharusnya, jauh dari apa yang agama ajarkan. Sehingga kita banyak menemukan para pemuda yang rusak akidah dan moralnya, hancur gaya hidupnya, tak lagi kritis atau pun jengah dengan kondisi bangsa ini yang sudah karut-marut. Pemuda hanya memikirkan nasibnya sendiri untuk mengokohkan eksistensi dirinya pada platform-platform media sosial yang pada akhirnya menguntungkan para pemilik bisnis komersil. Beginikah peran pemuda dalam memajukan bangsa?


Peran strategis mereka sebagai Agent of Change hanya isapan jempol belaka. Selama pemuda masih berpikir secara pragmatis dan tanpa integritas yang jelas, perubahan yang akan dihasilkan hanyalah perubahan semu yang menipu masyarakat, tak akan jauh lebih baik dari kondisi yang ada sekarang, seperti lingkaran setan yang terus berputar. Peran mereka sebagai penerus masa depan bangsa yang akan mengisi posisi strategis pemerintahan hanya akan semakin jauh dari harapan, karena ternyata idealisme mereka bias dibeli dengan uang dan kenikmatan pribadi.


Islam, Arah Pergerakan Perubahan yang Hakiki


Perubahan yang hakiki adalah perubahan yang menyeluruh. Perubahan ini menggebrak sistem rusak yang ada dan menggantinya dengan sistem baru yang terbukti lebih baik. Jika pemuda ingin membawa pergerakan tersebut kepada perubahan yang hakiki, maka pada dasarnya para pemuda haruslah mengubah mindset mereka dan menggantinya dengan ide pergerakan yang sahih, sesuai dengan apa yang Rasulullah ajarkan kepada para pemuda muslim penakluk bangsa dalam menyebarkan Islam. Bukan sekadar memunculkan eksistensi diri atau menciptakan kreativitas anak muda yang bersifat materi belaka. Teknologi hanyalah perantara untuk membangkitkan masyarakat. Memanfaatkan teknologi yang ada, tentu sangat bias membuat bangsa ini bangkit.


Islam haruslah dijadikan sebagai asas dan ide dalam membawa arah pergerakan ini menuju perubahan yang hakiki. Mengapa harus Islam? Pertama, Islam bersumber dari Sang Pencipta, Allah Swt., yang tidak dapat diragukan lagi kebenarannya. Kedua, Rasulullah saw. menjadikan Islam sebagai asas pergerakannya dalam mengubah masyarakat jahiliyah menuju masyarakat Islami, artinya pemuda harus menggunakan metode dakwah Rasulullah dalam mengawal perubahan masyarakat yaitu dengan dakwah jamaah (kelompok). Ketiga, Islam telah menjadi sistem terbaik yang pernah ada dan berdiri selama tiga belas abad lamanya, karena Islam sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri. Untuk itulah, para pemuda sudah seharusnya menjadikan Islam sebagai arah pergerakan dalam mewujudkan perubahan yang hakiki, karena pemuda sangatlah dipercaya untuk membawa perubahan dan menggerakkan masyarakat menuju kebangkitan yang hakiki.

Wallahu a'lam bishshawab.