Oleh Echi Aulia

Penulis dan Pemerhati Remaja


Mudik sudah menjadi tradisi masyarakat menjelang hari raya Idul Fitri. Rasa rindu bertemu dengan orang tua dan sanak saudara di kampung halaman membuat mudik menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu. Namun sejak munculnya virus Covid-19, hiruk pikuk mudik seakan terhenti. Jika tahun lalu perjalanan mudik masih diawasi dengan ketat. Maka tahun ini mudik benar-benar dilarang.

Peraturan ini tertuang dalam Addendum SE Satgas Nomor 13/2021 tentang Peniadaan Mudik Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 H dan Upaya Pengendalian Penyebaran Covid-19 Selama Bulan Suci Ramadan 1442 H.

Ini berlaku bagi pengguna transportasi umum ataupun kendaraan pribadi. Bagi yang melakukan perjalanan mudik harus melengkapi berbagai dokumen seperti tes PCR atau Rapid antigen Covid-19. Namun ada pengecualian bagi pihak yang melakukan perjalanan dinas ke luar daerah, melihat keluarga yang sakit, anggota keluarga meninggal dunia ataupun wanita yang mau melahirkan. Akan tetapi, pihak yang berkepentingan tersebut wajib memberikan surat keterangan dari kepala desa ataupun kelurahan setempat. (pikiranrakyat.com, 25/4/2021).

Peraturan yang lahir dari rahim kapitalisme tidak akan pernah menuntaskan masalah. Satu sisi disekat namun sisi lain dibiarkan terbuka. Ibarat seseorang yang menjaga rumah dari pencuri, semua pintu dan jendela ditutup rapat namun pintu belakang dibiarkan terbuka. 

Mudik dilarang sementara aktivitas lain seperti pariwisata masih dilonggarkan demi menyelamatkan perekonomian. Kebijakan tebang pilih seperti ini akan membuat masyarakat rentan melanggar apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Kebijakan yang katanya ingin menghentikan virus justru akan menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. 

Lagipula apakah virus itu hanya ada dalam perjalanan mudik? Padahal berwisata dan mudik sama-sama melakukan perjalanan meskipun berwisata di dalam daerah. Kebijakan tidak selaras inilah yang mengikis kepatuhan publik. Akibatnya pelanggaran demi pelanggaran pun tak terelakkan. Alhasil, bukan menghentikan virus namun memunculkan persoalan baru.

Sejak awal kedatangan virus Covid-19 ini pemerintah selalu berupaya menghentikan laju pertumbuhannya. Berbagai cara dilakukan seperti PSBB, new normal, menutup tempat ibadah, pembatasan mudik bahkan mendatangkan berbagai vaksin semua dilakukan. Namun kenyataannya virus bukannya berkurang justru semakin meluas. 

Padahal, wabah menular juga pernah terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Yaitu wabah tha'un. Akan tetapi, sang khalifah mengikuti bagaimana cara Rasulullah saw. mengatasi wabah yaitu mencari akar permasalahannya dan menghindari penyebabnya. Hingga wabah pun musnah dalam waktu yang singkat.

Hal ini telah disampaikan oleh Rasulullah saw.: “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu." (HR. al-Bukhari).

Ketika wabah menyebar di suatu wilayah. Wilayah yang terkena wabah harus segera melakukan isolasi agar wabah tidak menyebar ke tempat lain. Tidak ada yang boleh keluar masuk dari wilayah tersebut agar proses penularan berantai dapat dihentikan. Isolasi ini akan sangat efektif jika segera diputuskan dan dijalankan oleh negara.

Jadi, saat melakukan isolasi kebutuhan rakyat harus ditanggung oleh negara. Sebab, pada saat isolasi masyarakat tidak bisa bekerja mencari nafkah. Begitupun dengan kesehatan harus disediakan secara gratis, mengingat kesehatan merupakan kebutuhan dasar masyarakat.

Jika saja dari awal cara ini diterapkan oleh pemerintah, mungkin hari ini kita sudah bisa menghirup udara segar. Masyarakat juga bisa melakukan aktivitas seperti biasa dan roda perekonomian pun akan berjalan seperti sediakala.

Dari sini jelas bahwa konsep yang diajarkan oleh Rasulullah saw. dalam  mengatasi wabah benar-benar ampuh. Rasulullah saw. diutus ke muka bumi menyebarkan Islam tidak lain hanyalah untuk membawa rahmat bagi seluruh alam. Dengan demikian, tidak ada syariat Islam kecuali semuanya membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top